Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
50. Tertidur Selamanya


__ADS_3

"Kau harus tahu, sebenarnya dari awal aku yang berkhianat di sini."


Deg! Braga terkejut mendengar pengakuan Joan.


"Pengawal!" panggil Joan ke bodyguardnya yang lain lagi.


"Ya, Tuan!" sahut dua bodyguard muncul begitu saja.


"Seret pria tidak tahu diri ini ke penjara, dan jatuhi hukuman seumur hidup!"


"Tidaak, Tuan! Dengarkan aku," mohon Braga memeluk sebelah kaki jenjang Joan.


"Ketahuilah, gadis yang anda sukai adalah adik ipar anda sekarang. Tuan Rayden sudah merebut cinta anda Tuan Joan, bahkan gadis itu tengah hamil anak Tuan Rayden!"


'A-apa? Arum adalah adik iparku dan dia sedang hamil sekarang?' batin Joan terkejut. Ia pun menatap Braga.


"Cepat bawa pria ini ke penjara!" titah Joan amarahnya membara.


"Tidaaaak! Ampuni saya, Tuan Joan!" ronta Braga dibawa paksa ke tempat penjara mansion. Joan bersandar ke tembok, ia meremas rambutnya.

__ADS_1


"Gadisku sekarang sudah jadi Istri Rayden? Apa aku sudah terlambat? Apa sesuatu sudah aku lewatkan?" Joan jatuh ke lantai. Jantungnya terasa sakit,  sakit seakan-akan teriris pisau tajam.


"Arghhhhhhh!" racau Joan merasa tidak berguna. Sekali lagi ia kalah dari adiknya itu. Dokter pribadinya keluar dari ruangan mendengar teriakan Joan. Ia pun berjongkok di depan Joan.


"Tuan Joan, tenanglah. Anda baru saja sembuh. Tenanglah, Tuan Joan."


Joan menghirup nafas dalam-dalam, lalu tersenyum ke Dokter. Ia serasa kembali lemah. Ini mengingatkannya pada kematian Ibunda Elizabeth. Ibu yang meninggal tepat di depan matanya dan sekarang pujaan hati ikut pergi dari impiannya.


"Dada saya sakit sekali, serasa tidak berguna, Dok." Joan berdiri berusaha tenang.


"Anda jangan putus asa, tunjukanlah pada semua orang anda bukan lagi pria lumpuh seperti dulu, anda adalah putra mahkota, seorang pemimpin yang akan memakmurkan negara ini." Dokter menepuk bahu Joan, memberi semangat penuh.


Joan diam, ia tertunduk sedih. Ia pun masuk ke dalam, dan melihat Dokter lain di dekat Raja menunduk. Tatapan Joan pun teralih pada Edward yang sudah tertidur selamanya. Joan menggenggam tangan sang Ayah lalu mengelus kepala ayahnya.


Joan menangis pilu di dekat Edward. Dokter memberi ucapan bela sungkawa dengan kepergiannya. Kematian Tuan Edward akibat dari jantungnya yang lemah. Pria itu berakhir dengan tenang di sisi makam istri pertamanya, Elizabeth. Pemakaman yang diberitakan secara publik menggempar di seluruh media sosial. Sehingga Arleya yang tengah asik menonton tv bersama Barsha begitu terkejut.


"Edward..." Barsha diam-diam menitikkan air mata, ia sangat terkupul mendengarnya. Suami yang tidak pernah menyentuhnya sedikit pun itu pergi tanpa kehadirannya.


"Barsha, kau yang sabar." Arleya memeluk Barsha. Barsha tersenyum, ia sudah mengikhlaskan Edward. Cinta yang dulu ada sudah hilang dikalahkan oleh lukanya.

__ADS_1


"Apa Rayden sudah tahu ini?" Arleya melirik ke pintu kamar Rayden dan Arum. Tanpa dia lihat pria itu, Arleya tahu Rayden sedang menangis di dalam sana. Walau Rayden terkenal keras, ia tetap sedih mendengar kepergian Raja. Air matanya tiada henti-hentinya menetes.


"Mas, kamu yang tabah dan sabar ya." Arum memeluk Rayden. Tidak, pelukan itu belum cukup menenangkannya.


"Aku sedih, tidak melihat Ibu dan ayahku meninggal. Kenapa mereka tidak bilang-bilang dulu padaku." Rayden menangis bagaikan anak kecil. Arum memeluk erat Rayden, tidak tahan mendengarnya terisak. Hatinya terlalu lemah dan rapuh sekarang.


"Mas, jangan sedih, yok bangkit yok demi aku dan anak-anak kita." Arum tersenyum manis menyemangati suami tampannya. Rayden pun mengangguk dan mencoba untuk tenang. Ia pun mengusap perut buncit istrinya yang masih lemah itu.


"Maafkan Daddy sudah nangis di depan kalian. Lain kali Daddy tidak nangis lagi," ucap Rayden mencium perut Arum.


"Janji ya, kalau aku juga pergi kamu jangan nangis lagi." Arum tiba-tiba berkata lirih.


"Kamu kok ngomong gitu, beby?" Rayden terkejut Arum bicara seperti itu. Arum tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya lalu mengelus perutnya dan melihat di tangannya masih ada jarum infus.


"Aku...sangat bahagia bisa kenal dan nikah sama, Mas Ray. Kalau anak kita lahir perempuan, Mas jangan sakiti dia ya, Mas janji kasih nama Arum sepertiku ya. Cintai dia seperti Mas cintai aku ya," lirih Arum sedikit terisak. Serasa ada sesuatu yang dia tahan selama ini.


"Beby, beby! Kamu kenapa?" Raden panik melihat Arum.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2