
Terlihat Papa Kinan sangat marah terhadap Wira. Dalam hatinya, dia merasa tertipu dengan sifat menantunya selama ini.
"Papa tidak habis pikir selama ini Wira menyakitimu di belakang Papa. Bahkan dia pernah menawarkan dirimu pada Tuan Marsel! Kenapa kau tidak mengadukan ini pada Papa, Kinan?" tanya Papa Kinan membocorkan warna merah padam ke putrinya.
Kinan di kursinya hanya tertunduk ketakutan. Bagaimana pun cara dia menyembunyikan masalah rumah tangganya, Papanya kini sudah tahu semuanya.
"Maaf, Kinan hanya tidak ingin Papa menyakiti Mas Wira." Kinan menatap ayahnya kemudian memohon pada ayahnya.
"Papa, ini semua salah Kinan. Kinan tidak tahu bagaimana melayani Wira dengan baik, kuharap Papa tidak dendam-"
Braak! Papa Kinan menggebrak meja, menjenguk putrinya dengan tatapan tajam. "Dendam? Kamu mau Papa membiarkan dia sudah menyakitimu begini? Dia jelas-jelas terlihatnya menyakitimu dan kamu masih mengemis untuk tidak membalas dendam? Papa mana mungkin membiarkan satu-satunya anak Papa dipermainkan! Kamu jangan terlalu bodoh, Nak! Jangan kau dalami cinta buta mu, itu!" Marah Papa Kinan berdiri.
"Mulai sekarang, jika Papa melihat di luar sana, Papa akan langsung menghabisinya. Tapi sebelum itu, Papa ingin kalian bercerai di pengadilan!"
Kinan terhenyak, sangat terkejut. "Menghabisi? Papa ingin membunuh Wira?" Kinan berdiri, menahan lengan Papanya yang ingin naik ke lantai atas. Bantu di sana langsung saja pergi, takut melihat ini.
"Ya, lelaki itu tidak bisa hidup! Dia hanya bisa menyakiti wanita di luar sana!" jelas Papa Kinan mengeluarkan goloknya.
__ADS_1
"Tidak! Papa jangan lakukan itu padanya!" tahan Kinan, tapi Papa Kinan menepis tangan putrinya lalu naik ke atas. Kinan memegang dadanya, perasaannya tidak karuan lagi memikirkan Wira. Wanita bumil itu pun mengejar Papanya, tapi percuma, kamar Papanya terkunci. Kinan memohon di depan pintu namun sekali lagi percuma. Kinan pun masuk ke dalam kamar, tidak tahu lagi bagaimana meredakan amarah Papanya.
"A-aku harus kasih tahu sekretaris mas Wira, dia harus mencari mas Wira, jangan sampai Papa menemukan mas Wira."
Kinan menghubungi sekretaris Wira. Namun panggilan tidak tersambung. Kinan menangis tersedu-sedu, cemas memikirkan ayah dari anaknya itu. Tentu saja sekretaris Wira baru-baru ini terbang ke London setelah mendapat panggilan.
Terlihat sekarang, sekretaris itu sedang berbicara empat mata dengan Dokter di dalam satu ruangan rumah sakit. Membicarakan pria yang tengah terbaring lemah di atas brankar dengan alat medis di seluruh tubuhnya. Pria yang memiliki rambut ikal itu sudah tidak berdaya, hingga tak ada lagi rambut ikal di kepalanya.
Sekretaris itu mendekati mantan bosnya. Terlihat dia tidak tega melihat Wira semakin hari semakin sekarat. Apalagi Dokter baru saja mengatakan Wira mengalami kebutaan dan lumpuh akibat kanker yang semakin menjalar di sebagian syaraf-syarafnya.
.
"Apa ini sebuah kebetulan? Aku pikir akan bertemu dengan CEO Wira, rupa-rupanya aku langsung berhadapan dengan mertuanya. Pasti, pasti rumah tangga gadis itu makin hancur, dan dengan begini aku bisa mudah mendapatkannya. Hahaha… ." Tuan Marsel tertawa semakin gila di dalam ruangannya, hingga ruangan itu berdenging saking gilanya tertawa.
"Tapi aneh, kemana lelaki itu? Mengapa bukan dia yang hadir?" gumam Tuan Marsel heran.
Tok tok tok
__ADS_1
Tuan Marsel menoleh ke pintu, melihat seseorang masuk dengan pakaian model asisten rumah.
"Tuan Marsel, maaf jika saya datang mengganggu anda," ucap asisten itu.
"Ada apa kau masuk kemari?" tanya Tuan Marsel.
Asisten itu dengan sopan menjawab, "Saya datang memberikan berkas yang Anda perintahkan di bawahan Anda, ini semua hasil dari penyelidikan mereka, Tuan." Asisten itu meletakkan dokumen ke atas meja. Tuan Marsel tersenyum miring, cukup bangga anak buahnya berhasil mencari info tentang pria asing yang hadir di pertemuan, yang tidak lain adalah Rayden.
"Rayden? Oh jadi dia CEO di perusahaan RDN yang sedang berkembang itu? Tidak sangka, saya dapat melihat pria ini. Dia cukup mengesankan," batin Tuan Marsel membaca setiap informasi yang tertera di dokumen tersebut.
"Apa hanya ini yang mereka dapatkan?" tanya Tuan Marsel belum puas dengan info tersebut.
"Ya, Tuan." Asisten itu mengangguk.
"Hm, ini belum cukup mengurangi rasa penasaranku. Aku ingin tahu lebih jelas latar belakangnya dan keluarganya," ucap Tuan Marsel bersandar di kursinya dan melempar dokumen itu kembali ke atas meja.
"Kau, beritahu pada mereka untuk mencari informasi asal usulnya dan seputar keluarganya. Cari tahu sampai ke akar-akarnya. Apa kau mengerti?" dia memerintahkan kepada asisten itu.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Akan kami kerjakan dengan cepat, permisi." Asisten itu dengan patuh berbalik lalu pergi ke tempat anak buahnya dan menyuruh untuk memata-matai pergerakan CEO IT. RDN.
"Dia lumayan menarik juga, ekspresinya saat melihatku cukup mempesona. Seakan-akan menyiratkan dendam padaku. Aku tidak sabar, siapa kau sebenarnya?" gumam Tuan Marsel memopang dagu di atas meja dan terus memikirkan Rayden petang ini.