Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
73. Kamu Siapa?


__ADS_3

Joan mencoba tenang ditunjuk, tapi tangis Baby Ai sangat kencang hingga Baby Key jadi gelisah. Buru-buru Arum mengambilnya dari Joan.


"Cup… cup, jangan nangis ya, sayang." Rayden berusaha mendiamkan tangis pangeran kecilnya.


"Baby Key, Mommy dan Daddy minta maaf sayang sudah buat keributan, jangan ikut nangis ya, sayang." Arum ikutan di sebelah Rayden seraya mentimang Baby Key.


Joan menatap datar keduanya karena tidak dipedulikan. Tapi melihat Rayden dan Arum bersama-sama mengurus bayi, membuatnya takjub.


Joan pun duduk di kursi. "Belum juga ada sehari kalian pulang, kalian sudah sibuk mengurus anak sampai tidak ada sambutan untukku."


Arum dan Rayden yang fokus menggendong bayi menoleh padanya.


"Maaf," ucap Arum dan Rayden agak bersalah.


"Untuk apa minta maaf?" tanya Joan bingung.


Rayden berhasil menenangkan Baby Ai, kemudian duduk di sebelah Joan. "Maaf, selama ini aku tidak memberi kabar dan sudah kurang ajar," ucap Rayden tulus.


"A-aku juga minta maaf tidak jujur padamu saat itu, sampai -" putus Arum tidak jadi ingin katakan Rayden pernah mengurungnya sebulan, tapi Joan sudah tahu dari Arleya sehingga pria berkuasa itu menjewer keras satu telinga Rayden.


"Aduuh---"


"Kenapa kupingku ditarik?" kesal Rayden daun telinganya merah.


"Bodoh, teganya kau mengurung istrimu yang sedang hamil saat itu! Kemana hati nuranimu? Sudah membeku?" Joan kecewa sekali Rayden terlalu emosian.


"Aku punya hati kok, cuma Braga yang berhasil mengomporiku," ucap Rayden cemberut. Arum mengelus dada melihat keduanya duduk berdua, ia lalu pindah ke ayunan, meletakkan Baby Key yang berhasil tidur.

__ADS_1


"Kau bodoh sekali tidak berpikir dulu! Langsung percaya ucapan orang lain," tutur Joan menunjuk.


"Ya.. ya… ya, aku ngaku bodoh tidak percaya kata istri, tapi aku sakit hati kau kirim lukisan pada istriku," sedih Rayden merasa Joan lebih romantis tidak sepertinya yang tidak tahu cara menyenangkan hati Arum.


"Kau pintar romantiskan pasangan daripada aku yang langsung nyosor."


Arum menengok saat mendengar keluhan Rayden. Ia pun tersenyum lalu meminta Baby Ai.


"Sini Mas, biar Baby Ai ikut tidur sama adeknya."


Rayden memberikannya, dan menunduk melihat Arum. Istri yang selalu menemaninya dari dulu hingga sekarang masih kuat dan sabar menghadapi emosinya.


Joan mengelus lengan Rayden. "Kau lebih hebat dariku, Ray."


"Hebat? Kau ini sedang memujiku atau menghinaku?" tanya Rayden tidak mengerti.


"Itu juga karena kau bodoh," ucap Rayden akhirnya bisa balas ucapan Joan.


"Ya aku bodoh, ketuluran bodohmu." Joan kesal sekali Rayden sempat-sempatnya balas mengejek.


"Tepatnya, kalian berdua itu bodoh," sahut Barsha di dekat pintu.


"Mama!" Joan dan Rayden mendengus. Arum menahan tawa melihat kelucuan kakak beradik itu. Kemudian keduanya pun tertawa lepas. Suasana yang tadi tegang berubah menjadi meriah.


"Mas, jangan berisik! Anak kita lagi tidur," ujar Arum pada Rayden yang tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Joan yang juga balas menampol kepala Rayden.


"Sudah tertawanya, sekarang kita makan malam bersama." Barsha menyuruh dua anak tirinya itu keluar.

__ADS_1


"Baik, Mah." Joan keluar duluan diikuti Barsha ke dapur.


"Yuk, sayang kita keluar makan," ajak Rayden menggenggam tangan istrinya.


"Tapi, siapa yang jagain anak-anak? Aku takut nanti ada yang nangis," tolak Arum tidak tega.


"Arum, istriku. Tidak usah takut, anak-anak kita sabar seperti ibunya. Kita makan dulu, terus nanti kita ke sini lagi ya, kamu juga perlu istirahat. Aku tidak mau kamu yang sakit," kecup Rayden pada bibir istrinya. Arum menunduk tersipu, diperhatikan.


'Walau Rayden tidak tahu cara romantis, tapi perhatiaannya sudah cukup hatiku meledak.'


"Baiklah, Mas." Arum balas mencium bibir sexy suaminya lalu keluar meninggalkan Baby Ai dan Key di dalam kamar.


Pukul 18.20 malam, semuanya sudah berkumpul di meja makan, namun tidak lama kemudian, pintu rumah diketuk. Tepat sekali, Joan selesai duluan.


"Biar aku yang membukanya,"


"Tidak usah, biar Mama saja." Barsha ingin, tapi Joan menolak.


"Mama lanjut makan, biar aku saja,"


"Ya, Mama. Biar Joan saja, Mama selesaikan dulu makannya." Rayden setuju Joan saja, sedangkan Arum tidak enak melihat Joan yang pria hebat itu membuka pintu, namun rupanya Kamelia juga selesai malam, gadis kecil itu menyusul Joan.


Begitu terkejut yang datang adalah Dokter Maya.


"Pak Joan? Maaf sudah lancang mengganggu anda!" Dokter Maya membungkuk setengah badan, bergetar hebat melihat Joan tiba-tiba ada di depannya. Pria yang sangat dia kenali.


"Kamu siapa?" tanya Joan tidak kenal.

__ADS_1


__ADS_2