Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
33. Dua Wanita


__ADS_3

Dua minggu berlalu. Di pukul 12.23 siang, terik matahari terasa menyengat, membuat Arum yang sedang latihan sudah kepanasan dan gerah di dalam ruang kaca milik Barsha. Keringatnya sudah menetes dari tadi membasahi keningnya.


"Tante, sampai kapan aku berdiri terus di sini?" tanya Arum sudah capek menahan tumpukan buku di kedua telapak tangannya yang direntangkan dan di atas kepalanya.


"Sampai kamu berhasil menjaga keseimbangan mu itu," jawab Barsha duduk di sofa sambil menyeduh tehnya.


Arum bete' sudah tidak tahan berdiri selama dua jam. 'Ini namanya penindasan, aku sudah capek berdiri menahan tumpukan buku sebanyak ini. Apalagi aku belum makan, apa jangan-jangan Tante sengaja?' Arum mendengus kesal lalu memejamkan mata. Barsha tersenyum kecut melihat ketegaran Arum.


Tok tok tok


"Permisi, Nyonya." Asisten Braga masuk tanpa melirik Arum.


"Braga, mengapa kamu datang kemari? Apa ada surat dari Tuan Edward?" Barsha bangkit dan meletakkan tehnya ke atas meja. Arum masih memejamkan mata sambil diam-diam menguping.


"Nyonya Mariam datang kemari, dan sekarang dia berada di ruang baca anda, Nyonya."


Deeg! ' Mariam? Dia ada di sini?' batin Arum membuka sempurna matanya dan melihat Asisten Braga berhadapan dengan Barsha. 'Ngapain tuh orang datang kemari?' tambahnya berpikir.


Sibuk berpikir, Arum pun tersentak di ruang kaca hanya dirinya sendiri.


"Lah, aku malah ditinggal di sini, apa aku harus begini terus?" cetus Arum sesal.


"Auh ah, mendingan aku keluar lihat bagaimana rupa nyonya Mariam."


Arum menjatuhkan semua bukunya. "Aiss, bodoh! Kenapa malah berantakan!" Ia pun memungut buku-buku itu, meletakkannya di atas meja. Arum bergegas keluar menyusul Selir Barsha dan Asisten Braga.

__ADS_1


Suiiit!


Arum mengintip dari celah pintu dan memandangi dua wanita sedang duduk saling berhadapan. Keduanya mengobrol sangat serius.


"Tumben sekali kamu datang ke Istana tanpa mengabari kami duluan. Kamu pasti datang hanya untuk mencari masalah, kan?" tebak Barsha curiga.


Mariam tersenyum kesal. "Cih, kalau saja bukan perintah Edward, aku tidak sudi dan capek-capek datang kemari melihat wanita tua dan tidak berguna sepertimu," cibir Mariam berkata sombong.


"Tajam sekali lidahnya, sampai-sampai ia menghina Tante Barsha. Padahal Tante ingin membantu tapi Tuan Ed yang melarangnya. Dasar siluman berhati busuk, aku jadi greget pengen lihat bagaimana wajah liciknya itu." Arum bergumam dan menatap punggung Mariam.


Ekspresi Barsha seperti biasa, datar dan dingin menanggapi hinaan Mariam itu. Ia pun menoleh ke Asisten Braga kemudian menatap madunya itu dengan senyuman miring.


"Braga, sepertinya barusan aku mendengar anjing menggonggong, apa aku salah dengar itu atau memang di sini ada anjing yang tidak tahu diri?"


"Barsha! Beraninya kau menganggap ku anjing! Apa kamu lupa, aku ini istri kesayangan Mafia! Kamu ingin aku melaporkan ini ke Edward, ha?!"


"Braga, dia sangat aneh, aku tidak pernah menyebut namanya, kenapa aku malah dituduh sudah menghina?" lirih Barsha mengusap pinggir matanya.


"Kepparat, kamu malah berakting lagi!" Mariam tambah emosi melihatnya lemah tidak berdaya. Arum menahan tawa dengan sikap Barsha. 'Aku diajari untuk berattitude, tapi Tante Barsha sendiri yang malah cari masalah, haha... aku jadi geli sendiri melihat aktingnya.' Arum kembali menguping.


Sebelum keduanya berdebat saling cekcok, Asisten Braga pun segera angkat suara. "Nyonya, apa gerangan anda datang kemari?" Langsung saja, Mariam melotot.


"Katakan pada majikan tuamu ini, Tuan Ed sudah tidak sabar ingin segera tahu siapa gadis yang akan Rayden pinang,"


"Terus?" sahut Selir Barsha.

__ADS_1


"Kalau hari ini masih belum ada calonnya, Edward dan aku akan pergi ke wilayah sebelah untuk membicarakan pernikahan," ucap Mariam tersenyum licik.


"Bukan kah masih ada seminggu? Mengapa dia mendesak hari ini juga?" tanya Barsha sinis.


"Haha... kamu tanyakan saja pada Edward," tawanya mencemoh.


"Oh jangan-jangan selama dua minggu ini Rayden belum mendapatkan pasangan, dan ia malah enak-enak menyiapkan diri untuk kabur kan, Barsha?" tambahnya lancang menunjuk.


"Tidak usah kamu asal menebak, Rayden sudah mendapatkan calon Istri," ucap Barsha tenang. Mariam cukup terkejut, ia pun tertawa kesal.


"Haha... itu mana mungkin, siapa lagi gadis yang mau dengannya. Semua gadis tahu sekarang kalau Rayden hanya pria pembawa sial. Tidak ada satupun gadis yang ingin menjadi sial menikah dengan pria datar dan dingin seperti Rayden."


Barsha memicingkan mata mendengar tawa pecah Mariam di ruang bacanya. Wanita yang pernah suka dengan Joan itu sangat-sangat keterlaluan menghina Rayden. Arum pun juga greget ingin menjambak rambutnya.


'Sial? Sejak kapan Tuan Ray pembawa sial? Aku malah beruntung bisa dekat dengan pria baik sepertinya, walau dia sedikit pemarah juga. Tapi jiwanya ada tanggung jawab.'


Seketika, Arum melompat kaget seseorang menyahut di sebelahnya.


"Putriku yang akan Rayden pinang!"


'Di-dia siapa? Auranya sangat kuat, menakutkan, dan tegas sekali.' Arum menggigil ketakutan dilewati olehnya. Wanita itu berhenti lalu menengok sedikit ke arah Arum.


Tatapannya melirik Arum. Gadis itu terdiam melihat sekilas wajah Arleya yang suram. Gaunnya yang gelamor, rambut hitam pekat dan bola mata hitam itu hampir membuatnya kena serangan jantung.


'Dia seperti Ratu kegelapan!'

__ADS_1


__ADS_2