Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
34. Ibu Angkat Arum


__ADS_3

Arum pun membungkuk setengah badan. 'Ma-maaf, Nyonya.' Ia pun bergegas pergi meninggalkan Arleya.


"Cih, kamu rupanya datang juga, Lady Arleya." Mariam berdecih, ia membenci wanita Mafia yang satu itu, ia sudah lama ingin menggulingkan kekuasaan Lady Arleya. Hanya saja, hasutannya pada Edward tidak cukup menjatuhkan tahta Arleya.


Dengan elegan, Arleya duduk di sebelah Barsha lalu menatap datar Mariam. Asisten Braga gemetar berada di antara tiga wanita yang berpengaruh besar ini.


"Tentu saja aku datang untuk menyapa calon besanku," ucap Arleya memegang tangan Istri kedua Edward.


"Besan? Memangnya kamu punya putri?" tanya Mariam menatap tajam.


Sraaak!


Mariam membola dilemparkan kertas-kertas ke wajahnya. Salah satu kertas ia tangkap dan remas kuat-kuat.


"Lady Arleya! Di mana rasa hormatmu padaku! Aku di sini adalah Istri kesayangan Edward, kelian berdua jangan semena-mena padaku. Kedudukanku jauh lebih tinggi dari kalian!" kelakar Mariam menunjuk geram Arleya.


"Oh sorry, tanganku sedang sakit jadi tidak sengaja melemparnya padamu. Apa kamu terluka?" ucap Arleya datar. Mariam mendesis kesal karena Arleya tidak minta maaf. Suasana di dalam ruang baca mulai hitam pekat, aura gelap menyelimuti ketiganya. Asisten Braga mundur perlahan sudah tidak kuat menerima tekanan itu.


"Sudah cukup, kita kemari hanya untuk bicara bukan bertengkar! Sekarang lihatlah isi kertas itu."


Dengan kesal pun, Mariam membacanya. Kedua matanya terbuka lebar-lebar.


'Tidak mungkin,' batin Ratu Mariam menatap Arleya.


"Ini tidak mungkin! Kamu tidak pernah menikah, mana mungkin kamu punya anak!" ujarnya tidak percaya. Barsha pun menjelaskan seperti rencananya dengan Arleya seminggu lalu.


"Kamu mana tahu fakta soal Arleya, ia 20 tahun lalu sudah menikah. Hanya saja, pernikahannya cuma bertahan 2 tahun, padahal Arleya tengah mengandung anak setelah suaminya meninggal. Apa kamu sungguh tidak pernah tahu pernikahannya, Mariam?" jelas Barsha tersenyum miring.


"Barsha, dia mana mungkin tahu kepedihanku dan dia kan pada saat itu tengah berusaha menggoda Edward. Aku turut prihatin Veldemort mendapatkan wanita egois sepertinya. Seharusnya kamulah yang berada di posisinya saat ini, Barsha," sambung Arleya mengelus-elus tangan Barsha.


"Anda tidak usah sedih Arleya, setelah Rayden dan Putrimu menikah, yang berikutnya adalah Putrimu nanti."


Braaak! Mariam marah hingga menggeprak meja. Ia melotot penuh kemarahan.


"Kita lihat saja, keputusan Edward untuk pernikahan ini! Kalian tertawalah sepuasnya, aku Mariam akan menjatuhkan kalian berdua! Cam'kan itu!"


Mariam keluar dengan kekesalan meremas kertas biodata palsu Arum di tangannya. Keduanya terlonjat kaget pintu ruang baca ditutup keras. Arleya mendecak tidak suka dengan tingkah lancang Mariam itu. Sedangkan Barsha menghela nafas lega. Sementara Arum berjalan di lorong-lorong Istana, ia masih ketakutan.


'Menakutkan sekali, aku hampir mau pipis ditatap olehnya.'


Tiba-tiba saja, seseorang menarik pinggulnya dari samping.


'Acchh!'


"Tuan Ray?"


"Shht, jangan berisik, Baby," lirih Rayden bersembunyi di balik pilar ketika Mariam hampir saja melihat Arum.

__ADS_1


"Sialan, mereka berdua pasti bersekongkol! Dasar dua wanita siluman, kalian sudah keterlaluan padaku!" celotehnya tidak sadar melewati Arum dan Rayden. Ketika wanita itu pergi, Rayden pun menarik Arum masuk ke dalam ruangan.


Kini keduanya saling berhadapan. Arum menatap penuh wajah Rayden lalu turun melihat kalungnya masih terpasang di leher pria itu. Sontak, Rayden memeluknya dengan erat. Pelukan itu sangat ia rindukan. Arum pun balas memeluknya sambil tersenyum bahagia. Desir kerinduan keduanya pecah juga sore ini.


"Tu-tuan, aku tidak bisa bernafas-"


"Ah, i am sorry, Baby. Kamu baik-baik saja kan? Baby kita di dalam sini sehat kan?" tanya Rayden khawatir.


"Pufft, kami berdua sehat kok, tapi-"


"Tapi apa, Baby? Apa seseorang melukaimu di sini?"


"Tidak ada kok, semua di sini baik banget. Terutama Tante Barsha,"


"Terus, apa yang tapi?"


"Itu, bagaimana kabarmu saat di sana? Kamu tidak terluka, kan? Kamu tidak membunuh orang, kan? Kamu tidak selingkuh, kan? Kamu--"


"Hahaha...." Rayden tertawa terbahak-bahak diintrogasi.


"Kok ketawa sih?"


"Duh, kita belum sah menikah tapi gadisku sudah seperti emak-emak kompleks, hahaha...." tawa Rayden mencubit gemas hidung Arum.


"Ihh aku serius tau!" cetus Arum memonyongkan mulutnya. Melihatnya kesal, Rayden pun menyambar bibir Arum, benda lembut itu sudah lama tidak ia cium.


"Iiih, aku tidak minta cium! Dasar Papa Goblin!" ledek Arum. Ia kesal karena Rayden bagaikan hantu, tiba-tiba nongol begitu saja.


"Dari pada kamu, Mama kelinci, wleeek!" balas Rayden meledek sambil menggelitik. "Hahahaha...."


Keduanya kembali asik berduaan di dalam ruangan itu selama dua jam. Sontak, pintu diketuk oleh seseorang. Keduanya pun panik karena Arum tidak pakai penyamaran.


"Tuan, jangan-jangan itu--"


"Cepat sembunyi!"


"Sembunyi di mana?"


"Nih masuk di kantongku, Baby!"


"Iih, itu bukan kantong Doraemon!"


"Ya sudah, masuk ke dalam kolom meja, cepat!"


Arum pun ngumpet di bawah meja, seketika dua matanya melotot karena Rayden duduk di kursi depannya. Otomatis matanya berpapasan dengan titik phyton Rayden.


Braak!

__ADS_1


"Rayden!"


"Mama?" ucap Rayden rupanya itu Barsha bersama Arleya yang masuk.


"Rayden, ayahmu Ed--"


"Ayahku kenapa, Ma?" Rayden bangkit dari kursinya.


"Dia setuju menikahkanmu dengan Arum, kalian tiga hari lagi akan melangsungkan pernikahan resmi," jawab Barsha gembira, tidak seperti Arleya yang diam.


"Sungguh?" Rayden terkejut, begitupun Arum.


"Ya, sekarang Mama sedang cari Arum. Tapi dia tiba-tiba hilang, apa kamu melihatnya?" tanya Barsha ingin memperlihatkan Arum pada Arleya.


Seketika saja, Arum di bawah meja berdiri. Namun bodohnya, kepalanya tidak sengaja berbenturan dengan meja.


Tuk! Adduuh sakit! Arum meringis kesakitan. Ledakan benturan itu mengagetkan Barsha dan Arleya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Rayden menarik Arum keluar.


"Hikss... kepalaku sakit," rintih Arum kepalanya benjol. Tatapan Selir Barsha pun menyala-nyala, ia agak kesal melihat keduanya lagi dan lagi berduaan di belakangnya. Tidak seperti Arleya lumayan geli melihat keduanya memiliki cinta yang kuat.


"Apa kamu, Arum?"


Arum pun menoleh, kali ini ia yang terdiam.


"Baby, dia Arleya, Ibu angkatmu nanti," ucap Rayden merangkul Arum.


"Ayolah kamu jawab dia, Baby." Rayden kembali bicara.


"Ya, a-a-aku Arum Marchelya. Senang bertemu anda, Nyonya," ucap Arum gugup.


"Siapa nama Ibumu, Nak?" tanya Lady Arleya mendekat.


"Aku tidak pernah lihat wajah Ibuku dan tahu nama Ibu kandungku, ta-tapi aku ingat nama Ibu tiriku. Beliau, Sekar," jawab Arum tambah gugup.


"Nama ayahmu, apa kamu ingat?" tanya Lady Arleya berhenti tepat di hadapan Arum.


"A-ayahku Marselino Putra."


Deg! Barsha terkejut mendengar nama itu. 'Marselino?'


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Like dan komennya, terima ksih, sehat - sehat semua.


__ADS_2