
"Ini Mama, Arum. Ibu lah yang melahirkanmu." Barsha dengan kedua tangannya ia mengelus pipi Arum. Menatap dalam-dalam dua manik hitam putrinya.
Arum diam sejenak, mencerna ucapan Barsha dan menatap bergantian wanita itu serta Rayden.
"Mas...." Perasaan Arum mulai tidak jelas.
"Mama dan Mas Ray tidak usah sejauh ini menghiburku, sandiwara ini tidak lucu."
Barsha terhenyak, tidak sangka putrinya berpikir ini hanyalah sandiwara. Padahal, Barsha pikir Arum akan terharu, namun rupanya hati gadis itu tidaklah sedikitpun tersentuh.
"Arum, tatap Mama. Ini Mama, Nak!" ungkap Barsha sekali lagi. Arum menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mama, tidak usah bicara begitu. Mama itu Ibu mertuaku, tidak usah mengaku-ngaku sebagai Ibu kandungku seperti ini." Arum melepaskan genggaman tangan wanita itu.
"Dan ini sangat-sangatlah tidak lucu." Arum mengepal tangan.
Barsha mendorong maju tubuhnya, memeluk putrinya dan bersusah payah menyakinkan Arum. Sakit sekali putri sendiri yang ia lahirkan tidak mengakuinya.
"Tidak, Mama tidak mengaku-ngaku, Nak. Ini sungguh Mama, istri pertama Ayahmu." Wanita itu mulai terisak. Dalam hatinya, ia ogah mengungkit Marsel. Tapi jika tidak dijelaskan, Arum tidak akan percaya padanya.
"Cukup, Mah! Ini tidak lucu sama sekali!" Arum membantah.
Barsha merogoh sakunya, ia keluarkan secarik kertas DNA miliknya dan Arum. Ia memperlihatkan pada gadis itu dan berharap Arum percaya.
"Lihat, ini tes DNA kita. Bacalah, Nak."
Arum enggan mengambilnya, tapi ia juga penasaran.
"Apa ini asli?" tanya Arum belum yakin.
"Itu asli, beby." Rayden akhirnya menyahut juga.
"Tidak, ini pasti palsu. Mas dan Mama hentikan ini, Mama tidak perlu ngaku-ngaku." Arum memberikan tes DNA itu ke Barsha.
Barsha menumpahkan air matanya membuat Arum terkejut.
"Kenapa, kenapa kau tidak yakin pada kami, Nak?" Isak Barsha menggenggam dua tangan Arum.
"Karena ayahku pernah bilang Ibuku sudah meninggal jadi Mama stop ngaku-ngaku sebagai Ibu kandungku!" ujar Arum marah tidak suka dengan kejutan ini.
"Ayahmu itu pembohong besar, dia sudah membohongimu, Nak!" balas Barsha tiba-tiba ikut marah karena Arum masih percaya perkataan Marsel.
"Ja-jadi Mama kira Ayahku jahat, gitu?" tanya Arum sudah berkaca-kaca.
Barsha dengan suara serak menjawab sambil mengangguk. "Benar, ayahmu itu jahat! Dari dulu jahat ke Mama!" Mendengar tangis Barsha, Rayden diam saja. Pria itu menunduk belum berani ikut campur.
__ADS_1
"Jahat? Kalau ayahku jahat, kenapa Mama ninggalin aku dan lebih memilih mengasuh anak orang? Kenapa, Mah!" ujar Arum kembali meneteskan air mata sambil nunjuk Rayden.
Barsha terdiam, sedangkan Rayden terlonjat ditunjuk, seolah ada rasa benci padanya.
"Itu-itu karena-" lirih Barsha terhenti akibat Arum memutuskannya.
"Itu karena Mama dulu tidak sayang aku, Mama lebih sayang anak orang." Arum sesugukan kemudian lanjut lagi. "Kamelia saja yang hanya adik tiriku, aku begitu sayang dia sampai hidupku seperti ini. Sedangkan Mama yang jelas-jelas wanita yang melahirkan aku, sama sekali aku tidak diberi kasih sayang Mama. Sekarang aku baru hamil cucumu, Mama baru mengakuiku? Ini-ini tidak adil!" Isak Arum marah. Begitu marah sehingga rasa benci timbullah di hatinya.
"Nak, tolong jangan simpulkan sendiri. Mama punya alasan pergi saat itu." Barsha menghapus air mata Arum yang berjatuhan, namun tangan keriput itu ditepis keras.
"Tidak usah, tidak usah menyentuhku lagi. Aku masih kuat, tidak membutuhkan rasa kasihan darimu." Arum menatapnya dingin kemudian melihat Rayden. Membayangkan masa kecilnya harusnya bahagia, namun malah direbut oleh Rayden.
"Malam ini kita lupakan saja, Mama jadi Ibu mertuaku itu sudah cukup dan lupakan hubungan darah kita."
Mendengar ucapan putrinya, Barsha tidak rela, tidak terima putrinya belum mengakuinya. Ia menahan lengan Arum, namun lagi-lagi ditepis. Rayden tersentak melihat tindakan Arum itu, seperti ia yang emosi saat di apartemen dulu. Pasti rasa sakit yang dirasakan Barsha sama seperti Arum waktu itu.
"Beby, cobalah percaya." Rayden ikut menahannya. Arum tertawa dan menangis bodoh ditahan oleh mereka.
"Kau menyuruhku percaya? Sedangkan saat itu, aku bersusah payah agar kau percaya padaku, tapi kau malah mengurungku. Seandainya saja waktu bisa diundur sekarang, aku lebih baik gantung diri daripada mengetahui kenyataan ini!" tutur Arum menepis keduanya dan menatap sebenci-bencinya.
Namun, seketika ia menunduk saat tangan kecil memegang bajunya.
"Kakak, mereka benar. Ayah yang sudah jahat sama kita," lirih Kamelia ikut menahan.
"Amel, tidak. Ayah tidak jahat, ayah dulu sayang Kakak kok." Arum geleng-geleng kepala. Ia ingat ayahnya baik, dan selalu memenuhi keinginannya jika Arum mau patuh disuruh-suruh oleh Ibu tirinya.
"Kakak, ayah cuma jadiin Kakak pembantu Ibu, cuma disuruh jagain Kamelia. Kalau Ayah baik, kita tidak dibuang sekarang."
DEG. Arum kaget melihat Kamelia dapat mencerna masalah malam ini.
"Tidak Dek, Ayah tidak buang kita. Ayah cuma nitip kita ke-"
"Ke siapa? Nitip kita ke siapa, Kak?" potong Kamelia sesugukan.
Arum pun mendecak kesal lalu melirik benci ke Rayden dan Barsha karena merasa Kamelia sudah termakan ucapan mereka. Arum masuk dan menarik Kamelia ke dalam rumah lalu mengunci diri di dalam kamar. Rayden menunduk sedih mendengar tangis istrinya di dalam sana. Sedangkan Barsha jatuh di depan pintu kamar Arum, ia juga menangis memohon Arum mau maafkan dan mengakuinya.
"Nak, maafkan Mama. Mama pergi saat itu karena ayahmu jahat ingin membunuh Mama. Percayalah pada Mama, Nak."
Arum teriak lantang di dalam sana.
"Kalau ayahku memang jahat, harusnya Mama tidak usah melahirkan aku! Harusnya Mama saat itu melakukan ab*rsi!"
Barsha terkaget-kaget mendengarnya.
"Nak, Mama mana mungkin melakukan itu. Mama sayang kamu, karena itulah Mama melahirkan mu." Barsha memukul pintu kamar putrinya.
__ADS_1
"Kalau sayang, harusnya bawa aku bersamamu! Bukan meninggalkan aku!" ujar Arum lagi.
"Itu tidak sempat, Mama sudah keburu dikejar orang jahat. Kau jangan benci Mama, Nak."
Arum lagi-lagi teriak. Teriakan berisi tangisan. Barsha menutup mata, ia tahu, tahu sangat jelas putrinya sedang sakit hati.
Rayden ingin bicara, tapi Barsha membuatnya kaget.
"Baiklah, Mama sadar. Mama memang salah dan jahat sudah menelantarkanmu. Tapi jujur, Mama senang bisa ketemu lagi denganmu, Nak. Tidak apa-apa kau benci Mama, tapi tolong akui Mama, Nak."
Barsha meninggalkan kamar itu, ia berjalan lusuh masuk ke dalam kamarnya sendiri meninggalkan Rayden yang masih berdiri di depan pintu. Barsha pikir, malam ini akan berjalan lancar. Namun ternyata hubungannya dengan Arum semakin ret4k.
Rayden ingin mengetuk pintu, namun ia urungkan. Memberi waktu untuk Arum tenang. Pria itu pun berbaring di sofa tanpa selimut membuatnya kedinginan.
Dua jam berlalu, kini sudah tengah malam. Arum menoleh ke samping melihat Kamelia yang menemaninya tidur. Anak itu tertidur pulas membuatnya tersenyum lega.
Perlahan ia melihat ke arah pintu. Arum turun dari ranjang, ia susah payah keluar dari kamar. Seketika kedua matanya menatap lurus ke Rayden yang tertidur di sofa. Arum mendekatinya, lalu menyelimuti Rayden. Rasa benci yang dia pendam, tidak bisa mengalahkan rasa cinta dan sayangnya ke Rayden.
Tangannya membelai lembut rambut Rayden. "Mas, apa aku boleh membencimu seumur hidup? Tapi aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu sampai aku tidak bisa benci." Mendengar ada suara tangis, Rayden langsung terbangun.
"Beby, ka-kau kenapa? Kenapa bisa di sini dan menangis?" tanya Rayden panik dan secepatnya duduk lalu mengusap-usap perut Arum, takut bayinya kenapa-napa di dalam sana hingga membuatnya nangis.
Arum spontan memeluknya. "Ku pikir, aku bisa tidur sendirian tanpa kamu, tapi rasanya aku tidak kuat. Aku istri egois yang membiarkan suami sendiri tersiksa di sini."
Rayden berhenti mengusap, tersenyum kecil lalu balas memeluknya. "Kau tidak egois kok, beby. Aku tidur di sini juga sudah terbiasa dari dulu." Rayden mencoba menenangkannya. Arum menggelengkan kepala tidak kuat memendamnya hingga iapun membuang jauh-jauh rasa bencinya malam ini.
"Nih, minunlah." Rayden memberinya segelas air. Arum pun meminumnya dan masih sesugukan.
"Mas, apa benar Mama Barsha adalah Ibuku?" tanya Arum tertunduk. Masih saja kepikiran dari semua ucapan Barsha. Ia agak menyesal sudah termakan emosi.
Rayden duduk di sebelahnya, lalu mengelus perut istrinya yang membuncit besar itu. Rayden pun menjelaskan dari awal hingga akhir yang pernah ia dengar dari obrolan Barsha dan Arleya dulu. Arum semakin tertunduk sedih.
"Jika itu benar, itu artinya Mama yang sangat menderita di sini." Arum lagi-lagi menangis dan melirik ke kamar Barsha. Jika dipikir-pikir memang wanita itu yang memiliki luka paling dalam.
"Aku sudah salah sama mama, pasti dia sedih sekali karena aku langsung emosian dan memarahinya."
Rayden memeluknya. Berbisik agar Arum bicara pada Barsha besok. Arum pun mengangguk paham. Ia pun menyandarkan kepalanya ke sofa. Seketika ia tersentak pipinya dicium diam-diam.
"Mas," celetuk Arum tidak suka diganggu. Rayden terkekeh lalu mencubit hidung Arum. "Maaf ya, habisnya dari kemarin belum cium Mama kelinci, jadi Mas tidak tahan. Hehehe," ucap Rayden cengengesan. Arum mencebikkan bibirnya lalu tertawa.
Dari balik pintu, Barsha mengintip dan melihat mereka. Rasanya ia ingin ikut tapi ia takut Arum akan mengabaikannya. Wanita itu pun menutup pintu kamar, memeluk guling dan diam-diam terisak. "Meski kau benci, Mama. Mama tidak akan ninggalin kamu lagi. Mama akan tetap di sini dan menebus kesalahan Mama."
.
.
__ADS_1
.