
"Ibu sebenarnya tidak ingin melepaskanmu, apalagi kamu sedang mengandung anak Wira. Tapi semua keputusan ada pada Ayahmu, Nak. Maafkan Wira jika telah menyakitimu," ucap Ibu mertua Kinan. Kinan geleng-geleng kepala, menangis sekencang-kencangnya melihat Ayah dan Ibu mertuanya ikhlas.
Wanita itu pun menatap tajam ke Papa Kinan, dia tidak tega pada Kinan.
"Tuan Lam, semua sudah pasrah, keputusan ini ada pada anda. Jika anda masih ingin melihat putri anda bahagia, mungkin anda bisa--"
"Sudah cukup, lupakan semua masalah yang terjadi. Aku menarik semua gugatan pada keluargamu, dan aku juga tidak akan tinggal diam melihat menantuku mati secepat ini. Jadi lupakan!" tegas Papa Kinan. Tangis Kinan perlahan terhenti, bumil itu berbelok dan lari memeluk ayahnya.
"Hiks, terima kasih, Pah."
Semua yang hadir di sana pun dapat bernafas lega. Dokter Maya tersenyum hangat melihat semua orang telah melupakan masalah dan kesalahan ini. Wanita itu pun maju, berdiri di sebelah Joan.
"syukurlah, jika semua berkumpul di sini, maka aku akan memulai pengobatan untuknya. Tapi--" Dokter Maya menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa, Dok?" tanya Arum, Rayden, dan Joan secara bersamaan.
"Dok, pasti suamiku bisa selamat kan?" tanya Kinan.
"Kami belum memastikan dengan jelas berapa persen, tapi untuk mengetahuinya lebih jauh, dia harus diterbangkan ke luar negeri. Saya harap, kalian setuju."
Semua orang mengangguk. Kecuali Kinan yang tertunduk.
"Kinan, apa yang kamu setujui?" tanya Dokter Maya.
Kinan melirik Papanya lalu Dokter Maya dan semua orang.
__ADS_1
"Aku setuju, tapi aku akan berpisah lagi dengannya, Dok," lirih Kinan melihat perutnya yang besar. Papa Kinan meluncur ke ujung kepala putrinya, dan tersenyum.
"Kamu bisa ikut bersamanya, Nak," ucap Papa Kinan.
Kinan tersenyum. "Baik, Pah. Terima kasih." Kinan pun ikut bersama suster-suster yang membawa Wira untuk menyiapkan kepergiannya. Tak tertinggal keluarga angkat Wira juga ikut bersama Kinan, hanya Papa Kinan dan Sekretaris yang pulang untuk mengurus biaya rumah sakit dan penerbangan. Joan yang berada di antara Arum dan Rayden terlihat murung melihat Dokter Maya pergi mengikuti.
"Mas, ayo kita pulang. Mama, Amel dan anak kita pasti menunggu di rumah," ucap Arum menggenggam tangan suaminya sambil tersenyum bahagia.
"Baiklah, sayang," ucap Rayden mengeratkan genggamannya lalu berbalik. Namun, seketika berhenti. "Joan, kenapa bengong di sana? Kamu tidak mau ikut dengan kami pulang?" Rayden ke kakak kandungnya tanya itu yang masih berdiri sendiri.
"Kalian pulanglah duluan, aku masih ingin di sini sebentar," jawab Joan tersenyum singkat lalu pergi ke jalan lain koridor rumah sakit. Rayden dan Arum pun pulang duluan. Sedangkan Joan terus berjalan, lalu berhenti. Duduk sendirian di tempat sepi.
"Huuuh, semuanya sudah punya jalur masing-masing, apa aku hanya bisa duduk sendiri tanpa arah untuk melangkah?" keluhnya bersandar ke tembok, mendongak ke atas dan membayangkan adiknya sudah berumah tangga, dan Kinan sudah mendapat arah untuk kebahagiaannya. Hanya Joan, yang belum bisa mengisi hatinya yang kosong sekarang.
"Hari ini, hari yang berkah. Apa tidak ada hadiah sosok bidadari untuk pria baik hati sepertiku? Atau jatuhnya bidadari cantik dari langit?" keluhnya memejamkan mata.
"Hah, air mineral? Siapa yang menjatuhkan botol ini ke wajahku?" gumam Joan menunduk, memastikan isi botol itu mineral sesuai.
"Aku,"
"Saya yang jatuhkan, memangnya kenapa?" seru seseorang yang berdiri di depannya. Joan mengangkat wajah, dan terdiam melihat wanita berpakaian kemeja putih itu berkacak pinggang.
"Dokter Maya? Kok ada di sini? Apa aku jangan-jangan sedang mimpi?" katanya memukul dua kali pipi kanan dan kiri.
"Ahhh, kamu ini sungguh Dokter Maya?" kaget Joan akhirnya sadar dan menunjuknya.
__ADS_1
Dokter Maya tersentak, heran melihat Joan terkejut.
"Buset, Tuan kenapa sih? Kayak lihat setan ajah, padahal ini aku loh, Tuan," ucap Dokter Maya menurunkan tangan Joan. Risih ditunjuk barusan.
"Hai, aku pikir kamu Mak Lampir, datang tiba-tiba," ujar Joan mengelus dada.
"Ha, apa? Mak Lampir? Kamu kira saya ini nenek-nenek?" ucap Dokter Maya sewot.
Keduanya bertatap cukup lama, membuat Dokter Maya jadi kaku dan aneh.
"Oh ya, ngapain kamu ada di sini? Bukannya harus ikut terbang ke LN?" Tanya Joan berusaha tenang, mengira wanita itu pasti sudah mendengar keluhan hatinya. Dokter Maya mencondongkan tubuhnya, menatap cukup dekat pria itu.
"Tuan Joan, kamu lupa ya kalau aku ini pengasuhmu?" ucap Dokter Maya menunjuk dada Joan.
"Terus?" tanya Joan menepis tangan Dokter Maya. Wanita itu pun kembali berdiri lalu menjawab terus terang. "Ya aku harus selalu di sini mu, sampai hukuman ini berakhir. Aku mana berani tinggalkan kamu di sini, aku takut kamu akan menembakku hari ini karena sudah melepas tanggung jawab begitu saja, tapi kalau Tuan mau ikut denganku terbang ke sana, Tuan boleh ikut , dan aku bisa menjaga--" ucap Dokter Maya berhenti setelah pria itu bangkit dan memeluknya.
"Eeehhhh, apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba memelukku? Aku tidak memintanmu loh, aku cuma minta kamu ikut dengan ku--" Sekali lagi Dokter Maya terkejut mendengar bisikan dari Joan.
"Kamu sangat bawel, aku jadi ingin menembakmu hari ini," ungkap Joan menjilat pinggiran telinga Dokter Maya dan langsung menggigitnya membuat Dokter Maya histeris di hatinya.
"Aaahhhh, apa-apaan ini? Kenapa dia bicara sembarangan?" batin Dokter Maya mulai memberontak. Wajahnya dan kedua telinganya merah merona gara-gara ucapan Joan barusan.
"Tuan, kamu mabok ya?" cerocos Dokter Maya berdebar-debar pria itu memandang sangat dekat, apalagi Joan menyentuh dagunya dan tersenyum menyeringai.
"Yah, aku mabuk cinta karena mu."
__ADS_1
.
Panik nah si Dokter wkwk