
"Tuan, kamu mabok ya?" cerocos Dokter Maya berdebar-debar pria itu memandang sangat dekat, apalagi Joan menyentuh dagunya dan tersenyum menyeringai.
"Yah, aku mabuk cinta karena mu."
Bukannya senang bisa digoda, Dokter Maya malah meradang mendengarnya.
"Cinta? Sejak kapan kau mabuk cinta?" kesal Dokter Maya tidak tahan ingin mengeluarkan kerugiannya, ingin membius Joan.
"Sejak kamu kehilangan botol ini. Sekarang aku tahu, tipe wanitaku seperti dirimu, dan Tuhan telah kehilangan jodoh untukku," ucap Joan memeluknya lagi.
"Ahhhh… Tuan, lepaskan! Jika kamu tidak melepaskan aku, akan aku bawa kamu ke pengadilan! Ini namanya pecelele--" putus Dokter Maya menutup mulutnya dengan selembar roti.
"Ya Dokter, mari kita ke pengadilan. Kita meminta surat pernikahan."
"Haaaahhh?" Dokter Maya melongo mendengarnya.
"Tuan, aku ini cuma pengasuh, bukan calon pengantinmu!"
__ADS_1
"Itu untukmu, tapi tidak untukku."
"Oh Mama! Apakah ini? Kenapa pria ini memaksaku menikah?"
Dari penganiayaan itu, tetap saja keduanya terbang ke luar negeri. Kembali menyebrangi lautan samudra, dan melewati langit yang terbentang indah, lalu menuju ke tempat awal cinta Joan bersemi kembali.
"Mas, gak papa nih kita tinggalkan Joan di sana? Aku takut dia nyasar," ucap Arum duduk di sebelah Rayden yang menyetir mobil sambil memegang kresek berisi takjil yang sempat dia beli di pinggir jalan sore ini.
"Gak papa, dia bisa pulang sendiri. Sekarang semua masalah Wira dan Kinan sudah selesai, kini tidak ada lagi yang perlu kita pikirkan. Kamu juga pasti bisa tenang kan, sayang?" tanya Rayden memarkirkan mobil, sudah sampai di rumah. Dia mengecup kepala istrinya dengan penuh sayang.
"Ih, kok nangis sih?" tanya Rayden mengusap linangan air mata Arum.
“Saya terharu melihat Kinan, semoga saja rumah tangganya bisa kembali utuh dan bayinya lahir dengan sehat dan selamat,” jawab Arum tersenyum manis.
"Aamiin. Semoga rumah tangga kita juga selalu adem seperti ini, sayang," ucap Rayden memegang pipi kanan Arum dan ingin menciumnya, tapi sayang sekali, Arum sontak menghentikan aksi suaminya.
"Mas, ini lagi puasa. Gak boleh mesra-mesraan dulu, awas ntar ada setan yang rusak puasa mu," tahan Arum mencubit mulut seksi Rayden.
__ADS_1
"Tapi kan cuma sebentar, sayang," rengek Rayden.
"Gak tetap gak boleh, sekarang kita turun!" tegas Arum lalu keluar dari mobil. Rayden cemberut ditolak. Ia pun turun dari mobil, namun sekilas pria itu melihat seseorang misterius mengawasinya.
"Hei! Siapa kau!" teriak Rayden ingin mengejar, tapi ditahan oleh Arum.
"Mas, ngapain teriak barusan? Aku kaget tau jadinya! Tadi lihat apa di sana?" tanya Arum mengelus dada. Rayden melihat lagi ke arah tadi, namun sayang sosok misterius hilang.
"Ah maaf, mungkin tadi aku lihat salah. Yuk, kita masuk ke dalam, sayang."
"Baik, tapi, lain kali jangan gitu lagi dong, ngerti kan?"
"Yayaya, sayang, gak mau lagi kok." Rayden mengacak gemas rambut istrinya, kemudian menarik Arum masuk ke dalam rumah. "Ck, orang itu cari mati sudah mengusik keluargaku. Awas saja, akan aku temukan kamu secepatnya."
Sebelum buka puasanya, Rayden pergi mengecek cctv, tapi jangkauan kameranya tidak merekam lokasi berdirinya sosok misterius itu. "Cih, siapa orang ini?"
.....
__ADS_1