
Sejak tadi pagi Rayden masih saja duduk sendirian dan serius menatap layar laptopnya. Memikirkan perusahaan yang akan dia beli di Indonesia. Sebagian saham-saham perusahaan sudah dia pikirkan dari semalam. Kini hanya tinggal menghubungi seseorang untuk datang mengurus ke negara sana.
Rayden yang terlihat cuek itu membuat Barsha yang dari luar habis mengantar Kamelia sekolah merasa heran. Wanita itu meletakkan tas mininya ke atas meja sembarangan dan kemudian menghampiri Rayden.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Nak?" tanya Barsha berdiri di dekatnya sambil ikut menatap persentase di layar persegi itu.
"Ini Mah, aku sedang memulai bisnis untuk masa depan anak-anakku. Lagian juga Arum ingin tinggal di tempat asalnya, dan pas sekali media-media sudah menyatakan aku telah meninggal dunia. Ini waktunya aku mengubah jati diriku yang sebagai anak kedua Mafia menjadi pembisnis sukses." Rayden menjawab jelas.
Barsha mengelus dada merasa lega pada Rayden yang sudah tambah semakin dewasa dan sudah memikirkan masa depan si kembar.
"Ide yang sangat bagus, tapi apa Arum sudah tahu rencanamu ini? " tanya Barsha pun duduk di sofa, bersandar untuk istirahat sejenak sambil melirik ke kamar baby Ai dan Key di mana Arum berada di dalam sana.
"Belum, Mah." Helaan panjang Rayden yang keluar itu membuat Barsha mengerutkan dahi. Wanita itu menyentuh dagunya mulai berpikir. 'Dari pagi sepertinya Arum dan Rayden belum akur lagi. Apakah sosok Wira sangat berdampak besar pada hubungan mereka?' Barsha pun membuang nafas berat.
"Rayden, hubungan kalian sudah baik-baik saja kan? Kalian tidak lagi bertengkar kan? "
Sangat tidak baik jika Rayden dan Arum saling mendiami. Bisa-bisa nanti dampaknya beralih ke baby Ai dan Key.
"Entahlah, Mah." Rayden kembali mengotak-atik laptopnya dan tidak ingin bicara lagi. Barsha pun berdiri dan menggelengkan kepala merasa dua-duanya masih perlu belajar menanggapi sebuah masalah dalam hubungan.
"Nak, apa kamu sedang sibuk sampai tidak memperhatikan suamimu di luar? " sahut Barsha masuk ke dalam kamar. Mendekati Arum yang sedang telan jang dada karena menyusui Baby Key yang kelaparan. Terlihat satu dadanya diremas oleh tangan kecil baby Key sehingga ASI kirinya sesekali munc rat.
"Mama bisa lihat sendirikan baby Key lagi asik nyusu, aku jadi tidak leluasa bergerak menyusui bergantian mereka." Arum tersenyum lega melihat Ibunya sudah tiba di rumah. Dari tadi ia sebenarnya ingin mengurus Rayden, tapi pria itu tidak ingin bicara padanya.
"Nak, biarkan Mama yang jaga baby Ai dan Key. Kamu keluarlah urus suamimu dulu, tidak baik kalian saling diam begini." Barsha berdiri dari tempat duduknya, lalu mengambil Baby Ai sang pangeran kecil tampan di dalam ayunan. Baby imut itu tersenyum digendong oleh sang Nenek.
__ADS_1
"Mah, percuma. Mas Ray tidak mau melirikku," lirih Arum sedih.
"Loh, kenapa bisa separah itu? " tanya Barsha duduk lagi di dekatnya.
Arum pun meletakkan Baby Key di atas kasur kemudian memberi mainan. Setelah itu, ia menengok ke Barsha. Arum menjelaskan lebih detail sosok Wira. Mengatakan Wira adalah pria baik yang sering menolongnya di Indonesia, dan pernah melamarnya tapi ia menolak karena saat itu sedang hamil anak Rayden, hingga sekarang Arum belum memberi jawaban.
"Begitulah ceritanya, Mas Rayden ingin aku ke sana dan menemui Wira sendirian. Mama kan tahu sendiri, aku tidak berani meninggalkan Baby Ai dan Key di sini. Terutama aku takut dengan respon Wira. Jika saja Mas Rayden mau menemaniku, mungkin aku bisa lebih mudah jelaskan pada Wira," tutur Arum menunduk resah pada Wira yang bisa saja menyakitinya karena sudah berbohong selama ini soal dirinya.
Barsha pun mengelus lengan Arum kemudian memberikan Baby Ai ke anaknya itu lalu berdiri.
"Biarkan Mama saja, siapa tahu Rayden mau menuruti Mama." Arum pun tersenyum ceria melihat Ibunya sangat peduli pada hubungannya yang sekarang.
Akan tetapi, Arum yang seorang istri dicuekin, apalagi Barsha yang tetap juga dicuekin oleh Rayden. Seolah pria itu ingin sekali istrinya datang sendirian ke rumah Wira.
.
.
Sebelum Wira datang ke rumahnya, pria berambut ikal itu sebenarnya ogah untuk menyapa tetangganya. Tapi karena selalu didesak terus-terusan hingga ia pun menuruti keinginan Istrinya. Padahal ia begitu sibuk menelpon Ayah mertuanya yang sedang bicara soal bisnis perusahaan. Memang Wira saat ini telah diangkat menjadi Direktur Utama setelah memenuhi amanah dari Ibu Kinan sebelum meninggal untuk menikahi Kinan. Wira sangat beruntung, dari pekerja pabrik menjadi seorang Direktur utama. Tapi sayang, pria itu dikenal sebagai Direktur Es yang memiliki sifat dingin dan acuh tak acuh. Pria yang sangat dicintai Kinan itu tidak peduli, sangat tidak peduli pada janin di dalam perut Kinan.
Terlihat Barsha keluar dari kamar dan berpapasan dengan Rayden.
"Ray, siapa di luar? Kenapa kau tidak membuka pintu untuknya, Nak? " tanya Barsha. Tapi lagi, Rayden berlalu pergi ke ruang kerjanya. Barsha cemberut, ia pun menghampiri pintu dan terkejut yang datang bertamu sungguh Wira dan Kinan. Jantung Barsha berdegup kencang, ia bingung bagaimana menyapa pasutri yang satu ini.
Wira terdiam, kemudian menoleh ke Kinan. Pria itu sangat terkejut melihat wanita di depannya memang Barsha yang pernah tampil di dalam pernikahan Rayden dan Arumi.
__ADS_1
Satu jam lalu, Kinan saat memberi kopi pada Wira yang sedang menelpon, ia dengan sengaja menjatuhkan secarik foto pernikahan Rayden dan Arum yang dia ambil dari internet. Kinan ingin Wira sedikit mengetahui niatnya. Berharap Wira mengenali gadis di dalam foto itu.
"Mas, lagi teleponan sama Papa ya? " tanya Kinan manis. Seperti biasa, CEO Es itu hanya mendehem singkat. Kinan menunduk, sakit sekali mendapat suami yang selalu acuh padanya.
"Eh ini foto siapa? " Kinan mulai rencananya. Sontak, Wira pun menengok ke belakang dan melihat Istrinya yang tengah hamil tua itu membungkuk setengah badan ingin mengambil secarik foto di lantai. Terlihat Kinan bersusah payah meraihnya, membuat Wira mendesis tidak tega. Pria itu pun menghentikan panggilannya.
"Pah, nanti kita lanjutkan memikirkan perusahaan. Sekarang Kinan lagi disebelahku. Apa Papa ingin bicara dengannya?"
Tidak, menurut Papa Kinan di sana, ini adalah kesempatan putrinya dapat berduaan dan membangun rumah tangga yang baik, dan akhirnya panggilan itu pun diputuskan.
"Sini biar aku yang ambilkan untukmu." Wira membungkuk mengambilnya.
DEG. Wira tersentak saat kedua mata hitamnya fokus ke satu objek di dalam foto itu. Kinan yang berdiri normal lagi, ia pun menelan ludah tidak sabar bagaimana respon Wira.
"Kenapa kau diam melihat foto ini, Mas?" tanya Kinan iseng. Wira duduk di kursinya tanpa menjawab Kinan. Sungguh sikap dinginnya itu sangat keterlaluan, serasa Kinan tidak ada di dekatnya.
Wira pun mengambil ponselnya. Foto itu terasa tidak asing, sangat-sangat familiar.
"Mas, itu foto pernikahan putra kedua Mafia Veldemort, tapi sayang sekali, media mengabarkan keduanya sudah meninggal. Padahal rasanya, gadis di dalam foto itu mirip dengan Arum. Bahkan namanya saja hampir mirip kan? "
Benar, itulah yang dipikirkan Wira. Serasa Arumi ini mirip dengan gadis yang dia cintai. Wira membandingkan foto Arum di ponselnya membuat Kinan tambah tersiksa di dalam ponsel suaminya ada gadis lain. Kinan meremas tepi bajunya, sangat sakit ayah dari bayinya sama sekali tidak ada cinta untuknya. Kinan mencoba tahan, menahan agar air matanya tidak mengalir turun.
"Tunggu, pria ini pernah aku lihat juga."
Kinan terkejut mendengarnya. 'Mas Wira pernah bertemu Tuan Rayden?' batin Kinan mengamati ekspresi kaget suaminya.
__ADS_1