Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
28. Sangat Mencintainya!


__ADS_3

Kebisingan-kebisingan memenuhi isi ruang dapur. Terlihat para pembantu saling berbisik di pagi hari ini. Mereka tentunya menggosipkan hubungan Arum dan Rayden. Melissa di sana sudah berkali-kali mengatakan bahwa Arum pasti telah dipaksa oleh Rayden sehingga gadis itu hamil. Namun ada juga beberapa yang masih mengira Arum, gadis liar yang sengaja meniduri Rayden.


Tok tok tok


Sontak saja, keriuhan itu langsung hilang setelah Arum yang tengah berdiri di dekat pintu mengetuk-ngetuk kecil. Terlihat tatapan teduh gadis itu membuat mereka tidak enak sudah bergosip tentangnya.


"Kasihan sekali, dia pasti menangis sepanjang malam," bisik pelayan di samping Melissa. "Kau benar, matanya jadi sembab gitu." Pelayan lain ikut berbisik. Melissa mendekati Arum yang berdiri sendirian di dekat pintu.


"Good morning, Arum." Melissa menyapa ramah. Arum hanya tertunduk, tidak tahu bagaimana bersikap pada mereka. 'Puk-puk-puk.' Melissa menepuk bahu Arum lalu menghiburnya.


"Jangan murung, Arum. Kami di sini tidak akan mengucilkanmu kok,"


"Ta-tapi aku jadi tidak enak pada kalian," ucap Arum lusuh.


"Aku sudah mempermalukan kalian, i'm sorry," tambahnya dengan lirih dan menunduk. Sebagian pembantu pun mendekati Arum. Satu persatu memeluk gadis itu. Arum terhenyak dengan kelakuan mereka.


"Kami sudah tahu dari Melissa kalau kau sedang hamil anak Tuan Rayden. Awalnya kami kecewa padamu, tapi Melissa kembali menyadarkan kami kalau kau melakukan ini karena terpaksa demi adik tirimu. Kau terlalu baik sampai mengorbankan dirimu, Arum."


Mereka sedikit memarahinya.


"Ma-maaf, aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Arum menggenggam kuat tangannya dan menatap satu persatu mereka


Melissa tersenyum, memberikan segelas air. Arum balas tersenyum, ia meneguk habis segelas air itu. Semuanya pun kembali membaik dan mulai bekerja.

__ADS_1


"Kau mau jalan-jalan, Arum?" tanya Melissa meletakkan gelasnya.


"Aku mencari Tuan Rayden, apa kau melihatnya?


"Oh itu, kemarilah!" Melissa menarik gadis bedress biru itu menuju ke sebuah ruangan. Arum pun mengikutinya sambil deg-degan. Arum khawatir Tuan Rayden dan Nyonya Barsha sedang berdebat lagi. Namun setelah mereka sampai, Arum diam di dekat Melissa. Ia pikir keduanya berdebat, rupanya Tuan Rayden duduk dan sedang berbicara serius pada wanita itu.


"Apa yang mereka bicarakan, Sa?" tanya Arum belum masuk.


Melissa mengangkat dua bahunya. "Aku juga tidak tahu, Arum," jawabnya.


"Sudah berapa lama mereka bicara?" tanya Arum lagi.


"Sudah dua jam, Rum."


Melissa kembali menepuk bahu Arum, ia pamit untuk mengerjakan tugasnya. Arum mengangguk dan tersenyum manis. Kini gadis itu hanya bisa mengintip di dekat pintu ruang baca Nyonya Barsha.


"Hmm... apa sih yang mereka bicarakan?" gumam Arum sangat penasaran melihat Rayden menulis sesuatu di sebuah kertas, terlihat seperti sedang menandatangani sebuah kesepakatan.


Seketika, gadis itu terlonjat kaget setelah Nyonya Barsha menoleh padanya. Gadis itu bersembunyi sambil menyentuh dadanya.


"Hai Nak, kemarilah!" panggil Nyonya Barsha. Rayden tersentak langsung menengok ke arah pintu, di mana Arum akhirnya menampakkan diri.


"Baby, kau sudah bangun?" Rayden ingin berdiri, tetapi Nyonya Barsha menahannya.

__ADS_1


"Kemarilah," panggil wanita itu lagi. Arum pun mendekat.


"Se-selamat pagi, Nyonya." Arum membungkuk setengah badan. Rayden yang melihatnya pun berdecih tidak suka dengan tindakan gadisnya itu, ia secepatnya menarik Arum jatuh ke pangkuannya. Arum terkesiap dipangku di hadapan Nyonya Barsha.


"Tu-tuan--"


"Shht, tidak usah takut." Rayden mengecup lagi kepalanya di depan mata Nyonya Barsha. Wanita itu tersenyum kesal melihat Rayden sengaja menunjukkan kemesraan mereka.


"Bagaimana lenganmu, Baby? Apa masih sakit?" tanya Rayden dengan lembut membelai rambut Arum.


"Su-sudah tidak sakit lagi, Tuan." Arum tersipu dikhawatirkan olehnya pagi ini. "Syukurlah, maaf kemarin kasar padamu, Baby." Rayden kembali mengecup di pipinya. Arum bergidik geli dicium lagi lalu mengangguk memberi senyuman manis.


Nyonya Barsha memutar bola mata malas melihat keduanya. "Apakah kalian saling cinta?" tanya Nyonya Barsha ingin tahu.


Arum spontan menoleh padanya, ia gugup tidak tahu, tetapi tidak untuk Rayden yang merangkul perut Arum langsung saja menjawab, "Benar, kami saling cinta."


Tuk! Aduuh! Rayden meringis dipukul kepalanya oleh Nyonya Barsha pakai buku.


"Berhenti membohongi Mama lagi, Mama tahu kalian berdua cuma bersandiwara." Nyonya Barsha melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap kesal pada Rayden.


"Mama salah! Aku sangat mencintainya, mana ada sandiwara!" bantah Rayden langsung saja mengagetkan Arum. Gadis itu menengadah melihat tatapan serius Rayden. 'Cinta?' Arum seolah tidak percaya. Dan lagi-lagi Rayden berulah, dia menyosor bibirnya di depan mata Nyonya Barsha, membuat wanita tua itu membola terkejut. Arum pun bersemu dibuatnya pagi ini.


.

__ADS_1


Kalau udah cinta, udah ngga pandang tempat si Rayden😅


__ADS_2