Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
67. Anak Laki - Laki


__ADS_3

"Maaf, bisakah Ibu ikut dengan saya?" Gara-gara sahutan singkat itu, Kinan pun secepatnya mendorong dirinya mundur. Terlepas dari pelukan gratis Joan.


"Maaf, aku tadi memelukmu." Kinan sedikit menunduk, kemudian berjalan ke Dokter. Joan hanya tersenyum lega melihat Kinan.


"Maaf, Bu. Saya jadi mengganggu waktu kalian," ucap Dokter.


"Tidak apa-apa, Dokter tidak salah kok di sini," balas Kinan. Sedih rasanya Dokter itu mengira Joan adalah suaminya.


"Terima kasih Dokter sudah merawat saya, nanti biaya rumah sakit -" Kinan terhenti saat Dokter menunjuk Joan.


"Biaya rumah sakit sudah dibayar oleh suami anda, sekarang bisakah Ibu kembali masuk ke dalam?"


Kinan menengok sebentar, melihat Joan masih berdiri di tempatnya. 'Hadeh, dia itu bukan suamiku. Dokter ini sudah salah paham, tapi kenapa Tuan ini hanya diam saja?' batin Kinan.


"Itu Dok, untuk apa saya masuk?" tanya Kinan tidak jadi membenarkan ucapan Dokter itu.


"Bu, kondisi anda perlu diperiksa lebih jelas lagi. Apalagi anda baru-baru ini hampir mengalami kecelakaan, saya khawatir ada dampak terjadi pada kehamilan anda."


Benar kata Dokter, ada bayi di dalam perutnya yang perlu diperiksa. Kinan langsung meraba perut buncitnya lalu mengelus lembut. Sedikit menyesal. Merasa tidak ada bedanya dia dengan Wira yang tidak memikirkan masa depan anaknya itu.


'Maaf sayang, Bunda hampir membuat mu terluka. Bunda janji tidak akan melakukan kebodohan itu.'


Kinan kecewa dalam hati. Dia hampir menjadi Ibu kejam di dunia ini. Untung rasa sayangnya masih mewarasakannya.

__ADS_1


"Mari Nona ikut masuk bersama suami anda juga," ajak Dokter pada Joan.


Kinan menggelengkan kepala. "Dokter, dia itu-" lagi-lagi Kinan terhenti saat satu tangan mendarat ke atas kepalanya. Elusan lembut itu terasa hangat. Kinan menoleh ke Joan yang sudah berdiri di dekatnya. Begitu lama kedua mata mereka bertemu sehingga Dokter jadi tersenyum melihat pasangan di depannya itu.


"Terima kasih Dokter sudah merawatnya, sekarang mari istriku kita masuk periksa kehamilanmu." Kinan terperangah mendengar dan melihat senyum manis Joan. Begitu jauh sifatnya dengan Wira. Jaraknya seperti planet pluto dan bumi.


'Tuan ini baik sekali, sampai membantu ku. Memang sudah lama aku ingin diperiksa, tapi Wira selalu saja sibuk. Kenapa pria ini yang malah baik padaku? Kenapa bukan suamiku sendiri?' batin Kinan menunduk sedih.


Dia pun masuk bersama Joan, dan hanya diam terus melihat Suster perempuan mengoles gel ke permukaan perutnya kemudian meletakkan alat periksa USG dan seketika menampilkan janin di dalam perutnya. Joan yang duduk tidak jauh dari mereka pun takjub dan berdiri mendekati monitor. Gambar di depannya membuat Joan terpana, seperti ada perasaan aneh melihat kaki dan tangan mungil itu sangat aktif di dalam sana. Rasanya dia ingin memiliki baby juga.


"Selamat ya Bu, anaknya laki-laki dan sangat sehat. Tapi bulan depan Ibu harus mengecek lagi agar lebih jelas kelaminnya dan kesehatan bayi. Sekali lagi selamat ya, Bu." Dokter berdiri di sebelah suster dan tersenyum ramah. Sedangkan Kinan kembali terharu sudah melakukan trimester satu meski tanpa kehadiran Wira.


'Padahal aku ingin Mas Wira yang menemaniku, tapi rupanya aku ditemani pria lain.'


Kini Kinan duduk berdekatan Joan di depan meja kerja Dokter dan mendengar arahan konsultasi dari Dokter.


"Kinan, Dok." Kinan menyambungnya. Joan pun melirik Kinan yang tersenyum manis. 'Oh Kinan? Jadi namanya itu?' Joan diam-diam mengukir senyum tipis.


"Nah, itu Bu Kinan jangan terlalu banyak pikiran ya, dan harus banyak-banyak istirahat, jangan paksakan diri untuk melakukan kegiatan berat, terutama untuk-" Dokter lagi-lagi berhenti, lupa nama Joan.


"Siapa nama, Bapak?" tanya Dokter.


"Joan, Dok." Kinan pun menoleh juga mendengar pria itu menyebut nama. 'Joan? Kenapa aku tidak asing dengan nama ini ya?' batin Kinan sedikit terkejut.

__ADS_1


"Ah ya, Pak Joan biasakan memberi waktu untuk istri anda dan sesekali membawanya jalan-jalan agar perasaaan sang Ibu dapat rileks dan bayi di dalam perut istri anda tetap aktif dan sehat. Tolong perhatikan selalu istri anda."


Dokter memberikan buku kehamilan ke Joan membuat Kinan jadi malu karena Joan harus diberi buku panduan Ibu hamil itu.


"Ba-baik, akan saya ingat, Dok!" Joan tersenyum bodoh diberi amanah itu. 'Ya Tuhan, aku merasa seperti suami nyata gadis ini.' Joan dalam benaknya sudah jauh ikut campur.


Setelah konsultasi cukup lama, Dokter baru mengizinkan Kinan dan Joan keluar dari ruangan. Sekarang suasana jadi canggung di antara Kinan dan Joan.


"Nih, ambillah bukumu, Nona." Joan menyerahkan buku bumil itu dan tidak lupa tersenyum. Dia memang sosok pria yang murah senyum kepada siapa saja.


"Te-terima kasih, Tuan." Kinan dengan malu-malu mengambilnya.


"A-aku jadi merepotkan mu hari ini," tambah Kinan tersenyum manis. "Aku pergi duluan, permisi." Kinan bergegas ingin pulang namun tangan yang memegang buku itu ditahan oleh Joan.


"Sebentar, Nona."


Kinan pun refleks menarik tangannya lepas membuat Joan agak terkejut. "Maaf Tuan, tolong jangan asal menyentuh ku." Ucapan Kinan itu mengingatkan Arum padanya.


"Maaf, aku sudah kurang ajar," ucap Joan cengengesan.


"Oh ya, kita belum saling kenal," tambah Joan membuat Kinan mengernyitkan dahi.


"Terus?" tanya Kinan.

__ADS_1


...


Ngajak kenalan🤭


__ADS_2