
Entah kenapa Arum selalu membayangkan tentang Wira dan Kinan setelah berminggu-minggu lalu ia mengunjungi panti asuhan.
Bayangan sosok Wira yang selalu positif, dan perhatian dulu padanya masih tersimpan di dalam ingatannya.
"Gimana ya kabar, Kinan?" gumam Arum sedang digantungkan sebuah syall untuk bayi Ai dan Key di dalam kamar.
Amel yang sedang asik memperhatikan dua keponakannya, tiba-tiba berteriak.
"Kakak!" panggil Amel menghampirinya. "Kenapa teriak, Mel?" tanya Arum menghentikannya.
"Kakak, lihat! Baby Key sudah bisa tengkurap!"
"Hihihi, lucu deh," tawa Amel menunjuk Baby Key di dekat Baby Ai yang terlentang.
Arum dengan kedua tangannya menutup mulut, dia kagum dan senang bisa melihat anak ke duanya lebih dulu berkembang. Ia membaringkannya ke atas kasur, lalu berjalan ke arah dua bayi yang menggemaskan itu.
"Astaga, lucu banget sih anak mommy," ucap Arum mengeluarkan ponselnya kemudian merekam moment baby Key. Bagus nih aku kirim ke daddynya, gumam Arum terus merekam dan mengajak baby key bicara. Ibu mana yang mau mengabaikan kesempatan menggemaskan ini?
Sontak, lagi-lagi Amel teriak.
"Wah, Kakak lihat!"
Arum menoleh, kedua matanya membola melihat bayi Ai yang sedang belajar tengkurap.
"Hahaha..." Arum tertawa menatap putra kecilnya berhasil.
"Kakak, Amel mau panggil Mama. Pasti mama senang lihat mereka!" ucap Amel lari keluar kamar.
"Ayyuuyuu, gemasnya. Siapa sih yang ajari tengkurap," ucap Arum masih merekam dua baby twinnya. Tiba-tiba, seseorang masuk dan menyahut dari belakang.
"Tentu dong daddy yang ajari," kata Rayden duduk di sebelah Arum, dan meluncurkan satu kecupan manis di pipi kiri istrinya.
"Ahh, Mas? Sudah pulang kerja?" tanya Arum mengalihkan ponselnya ke wajah tampan Rayden.
"Sudah sayang, gimana? Senang lihat anak-anak kita?" tanya Rayden menarik Arum ke dalam dekapannya.
“Hehe, senang dong, apalagi ayahnya yang pinter ngurus anak,” jawab Arum menggeliat di dalam pelukan suaminya.
Rayden membelai rambut Arum, lalu menyandarkan dagunya ke bahu istrinya kemudian memeluk Arum dari belakang. Memejamkan mata dan merasakan kehangatan dari pelukannya.
Arum pun berhenti merekam. Ia sontak terkejut mendengar dengkuran Rayden. "Pufft, mas, capek banget ya hari ini?" tanya Arum mentoel pinggang Rayden.
__ADS_1
"Emhh… capek banget, sayang," jawab Rayden mengeratkan pelukannya.
"Tapi puasa seninnya lancar, kan?"
"He'em," jawab Rayden agak lesu.
"Gak diam-diam makan di luar, kan?" selidik Arum menyipitkan mata.
"Gak dong, mana mungkin batalin." Rayden menggelengkan kepala kembali ceria.
"Hahaha... bagus deh." Arum tertawa geli melihat setiap ekspresi yang dikeluarkan suaminya itu.
"Tapi," ucap Rayden lesu lagi.
"Hm, kenapa?" tanya Arum heran.
"Sayang, jika ayahmu masih hidup di luar sana, apa yang akan kamu lakukan?"
Mendengar pertanyaan Rayden, Arum tersentak tiba-tiba Rayden mengungkit soal ayahnya.
"A-aku--"
"Apa kamu akan memaafkannya? Atau dendam?" ucap Rayden ingin tahu.
"Selama ini, apa kamu membenci ayahmu?" tanya Rayden lagi.
Arum menunduk, mulut terkunci, tak bisa berkata-kata. Rayden pun memeluknya dengan hangat sebelum istrinya menjatuhkan air mata.
"Lebih baik orang seperti itu tidak perlu diungkit lagi, Rayden."
Arum yang hampir menangis, ia pun melihat Barsha masuk bersama Amel. Rayden pun mengangguk paham. Amel di sana sedikit bingung melihat semua ekspresi mereka. Gadis kecil itu ingin tahu siapa yang dimaksud Barsha, tapi Amel juga tidak berani bertanya.
Arum dan Rayden hanya bisa diam melihat Amel, gadis kecil yang tumbuh hingga kini tanpa ayah dan ibu kandungnya. Pasti, jika Amel bisa melihat Tuan Marsel, pasti gadis itu bisa merasa lebih baik. Tapi apa itu sungguh bisa?
"Rayden," panggil Barsha menengok anak dan menantunya.
“Kenapa, Mah?” tanya Rayden dan Arum pada wanita yang sedang mengambil baby Ai.
"Mama ingin mengunjungi lagi panti asuhan minggu lalu. Apa kalian bisa menemani Mama ke sana? Mama masih pengen melihat-lihat anak-anak panti asuhan, pasti menyenangkan bisa berkunjung ke panti itu, Nak," jawab Barsha tersenyum.
"Hah, yakin Mama mau ke sana lagi?" tanya Rayden ragu, karena Barsha dari dulu tidak terlalu suka keramaian, tapi sekarang wanita itu mulai dinikmati.
__ADS_1
"Ya, mama juga pengen cucu-cucu Mama dibawa ke sana. Pasti lebih menyenangkan lagi," jawab Barsha sudah yakin.
"Hm, iya juga sih, tapi bagusnya kapan kunjungan amal itu dilaksanakan, Mah?" tanya Arum, sambil memikirkan hari yang tepat.
"Bagaimana kalau hari ini? Mumpung masih ada waktu sebelum waktu buka puasa tiba," jawab Barsha menunjuk jam dinding yang memperlihatkan waktu sudah pukul 15.43 sore.
"Baiklah, mari kita bersiap sekarang. Nanti Rayden juga akan mengirim staf dari perusahaan untuk membantu keinginan mama ini," ucap Rayden menyetujuinya.
"Hem, terima kasih, Nak." Barsha mengelus dada merasa lega. Sedangkan Amel sedang berpikir. "Wah, bisa asik nih kalau buka di sana. Pasti aku dapat teman baru!" gumam Amel senyum-senyum sendiri.
Tidak menunggu lama, mereka pun mulai berangkat ke panti asuhan lagi. Begitu bahagianya, panti anak-anak mendapat makanan enak hari ini untuk berbuka puasa. Namun, tidak sangka. Rayden dan Arum sangat terkejut melihat ada orang lain di panti itu. Orang yang sangat familiar itu sedang duduk di kursi roda.
Barsha dan Amel pun juga terkejut dengan orang itu adalah Wira.
Mereka pun bertanya pada yayasan panti.
"Maaf, Buk. Apa itu benar, Wiransyah?" tanya Arum di sebelah Rayden.
"Benar, Nak. Lima hari yang lalu, seseorang membawanya kemari. Tapi sayang, dia-" ucap Ibu panti terhenti gara-gara Rayden ingin melabrak Wira.
"Mas, tenang! Kamu kenapa marah gini sih?" Arum mencegat Rayden agar tidak mengganggu tanya Wira yang sendirian di bawah pohon itu.
"Sayang, apa kamu lupa, laki-laki ini jahat banget sama istrinya. Dia malah ingin menjual Kinan, aku sudah lama ingin menghajarnya!" jawab Rayden. Suasana yang tadi tenang mulai kisruh dengan kelakuan Rayden.
"Menjual Kinan?" Barsha dan Amel terkejut dalam hati. Arum pun tidak kalah kaget mendengar ucapan Rayden, tapi Ibu panti segera menahan Rayden.
"Tunggu, Tuan Ray. Sepertinya ada yang salah,"
"Salah? Apa yang salah?" tanya Rayden.
"Tuan Ray, Nona Arum, sebenarnya-" ucap Ibu panti mulai menjelaskan rahasia Wira. Mengatakan, lima hari lalu sekretaris memulangkan Wira, dan membawa pria itu kembali ke sini atas perintah Wira sendiri. Ibu panti juga mengatakan, Wira sekarang sedang mengidap kanker otak stadium akhir, karena itulah mengapa pria botak yang duduk di bawah pohon itu terlihat lemah. Ditambah Wira lumpuh dan buta.
Barsha, Arum dan Amel saling bertatap muka. Sedangkan Rayden tersenyum miring. “Cih, ternyata dia terkena karma juga.”
Tapi, Ibu panti menggelengkan kepala, tidak membenarkan ucapan Rayden barusan.
"Tuan Ray, kamu salah besar. Tuan Wira sudah lama mengidap kanker sebelum mengenal istrinya," ucap Ibu panti melihat Wira yang tertunduk sendirian di sana.
Rayden terkejut. "Tunggu, maksudnya?" Rayden seakan tidak paham.
"Tuan Ray, mungkin kamu mengira Tuan Wira jahat pada istrinya. Tapi yang sebenarnya, Tuan Wira mencintai istrinya, demi cintanya, dia tidak tega mengatakan penyakitnya ini pada keluarganya dan istrinya. Hanya kami dan sekretarisnya yang tahu. Dia terlalu bodoh, menyembunyikan penderitaan selama ini pada istrinya. Dan caranya itu salah."
__ADS_1
Arum meremas tangan, menatap Wira. "Ya Allah, jadi selama ini dia sakit? Selama ini Kinan tidak tahu suaminya sedang sekarat?" gumam Arum melihat Barsha. Ia pun memeluk Ibunya. Sedih membayangkan mimpi Wira tersebut.
"Maaf, tolong kalian jangan terlalu ramai jika di sebelahnya. Dia tidak ingin siapa pun tahu soal ini. Terutama kamu, Nona Arum." Ibu panti berpesan agar mereka tidak mengganggu Wira. Tapi apa benar Rayden dan Arum akan membiarkan pria itu begitu saja?