
"Aku-aku ke sana saja deh, Tuan." Tunjuk Dokter Maya ke Amel.
"Duduk!" perintah Joan ngotot.
"Ba-baiklah, maaf Tuan." Dokter Maya terpaksa duduk. Perasaannya jadi nano nano seperti permen karet yang mau pergi tapi disuruh nempel.
"Anu..." Joan mulai bicara kaku.
'Anu? Anu apaan tuh? Anu siapa?' pikir Dokter Maya merasa dongkol.
"Tuan mau curhat ya?" tebak Dokter Maya tidak berani menatap Joan.
"Ya mau curhat, mumpung ada Dokter di sini. Siapa tahu bisa sembuhkan galauku," lesu Joan.
'Oh itu tuh, pasti Anu ini pacarnya Tuan Joan! Jadi dia ke sini untuk melupakan Anu!" Dokter bule itu mengira Anu adalah nama pacar Joan. Kira-kira Anustia atau Anusmu? Ah unik sekali nama pacar Tuan Joan itu.
"Pacar Tuan pasti bermasalah ya?" tebak Dokter Maya ceplas ceplos.
Joan kaget mendengarnya. 'Sepertinya Dokter ini yang bermasalah, aku kan belum punya pacar, kok dia langsung nebak asal gitu?' Joan membatin tambah jengkel.
"Kau salah, aku masih jomblo." Joan menghirup dua kali nafas, berusaha tenang semaksimal mungkin.
'Jomblo? Terus Anu siapa?' pikir Dokter bingung.
"Tidak usah berpikir jauh tentangku!" ucap Joan ketus tidak suka ekspresi bengong Dokter Maya.
__ADS_1
'Eh, kok dia pede banget bicara gitu? Siapa juga yang mikir aneh-aneh tentang dia?' batin Dokter Maya mulai risih.
"Maaf Tuan, sepertinya kau salah. Aku tidak memikirkan tentangmu, dan aku ini punya pacar, tidak akan ada pria lain yang aku pikirkan!" jelas Dokter Maya.
"Oh kirain kamu single, bagus deh." Joan menyadarkan punggungnya dan melihat Rayden tertawa di dekat Arum.
'Ha bagus? Kok dia bicara tidak jelas gitu sih? Oh atau dia pikir aku tergoda olehnya?' pikir Dokter Maya hatinya tidak karuan.
"Maaf, bagusnya apa ya?" tanya Dokter Maya tidak paham.
Joan pun meliriknya lagi. "Dokter Maya, kau pasti tahu kenapa aku menahanmu ke sini," ucap Joan terhenti.
"Dengar baik-baik, aku ingatkan padamu, jangan pernah berniat jadi pelakor dalam rumah tangga adikku. Jika sampai kau berani menggoda adikku, nyawamu taruhannya."
Dokter Maya membisu tiba-tiba diancam.
"Maaf Tuan Joan, sepertinya kita sudah terlalu jauh keluar dari topik. Tolong jangan alihkan pembicaraan ke urusan pribadiku," kata Dokter Maya benci.
"Aku hanya khawatir, setelah aku pulang, kau akan bermain serong. Tapi sepertinya kau masih tahu diri untuk menjaga perasaan pacarmu. Sekarang mungkin bukan waktunya aku curhat padamu, permisi." Joan bangkit dari kursi meninggalkan Dokter Maya yang yang mengepal tangan.
"Pergi gitu saja setelah melukai perasaanku?" kesal Dokter Maya ingin sekali menyuntik virus ke tubuh Joan agar pria itu lumpuh kembali.
"Pacar matamu! Aku sama sekali tidak punya pacar! Dasar pria bunglon! Ku pikir baik hati, rupanya pintar mengubah diri! Ahhhh pengen sekali aku suntik mati tuh orang!" Dokter Maya teriak-teriak dalam hatinya.
Melihat Joan pergi meninggalkan Dokter Maya, membuat Rayden dan Arum yang tidak sengaja melihat mereka menjadi bingung.
__ADS_1
"Tumben sekali Joan duduk bersama Dokter Maya," gumam Rayden.
"Ya Om, aku jadi penasaran apa yang mereka bicarakan," sambung Arum minum susu kotak di dekat Rayden.
"Hah, Om?" Rayden menoleh, pertama kali istrinya manggil gitu.
"Kenapa? Mau susu, Om?" tawar Arum menahan tawa.
"Atau donat, Om?
"Aruum! Jangan manggil gitu dong! Aku ini kan bukan Om buat kamu!" Rayden mengoceh.
"Hihihi... kan umurnya sudah mau 27 tahun, beda 8 tahun, bisa dong aku panggil Om tampan. Apalagi setelah kita pulang ke Indonesia, kamu akan jadi Om CEOku, terus jadi supir kuliahku." Arum tertawa meledek Rayden.
"Bebyyyyyy! Sini aku jadikan kau sambal pecel!" teriak Rayden tidak suka dipanggil Om-om.
"Hahahaha... kabur! Ada Om-om!" tawa Arum meledek dan berlari ke Amel. Barsha menahan tawa melihat tingkah ceria Arum dan kekonyolan Rayden.
"Sini, Om makan kau!" ujar Rayden ingin menerkam istrinya sendiri.
"Kakak! Jangan lari-lari, nanti jatuh!" Amel ikut berlari mengejar Arum yang korslet hari ini. Dokter Maya geleng-geleng kepala di samping kereta baby Ai dan Key melihat orang tua anak asuhnya itu kekanak-kanakkan. Sontak, pandangannya mencari Joan yang tidak menampakkan diri.
"Kemana lagi bunglon satu ini?" gumam Dokter Maya memikirkan Joan.
....
__ADS_1
Ngapain cari Pak Joan, mau disuntik kah Dokter?😂