Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
38. Mau Susumu


__ADS_3

Hueekkk...


"Kamu mual lagi?" tanya Rayden perhatian.


"Ya, sudah mual-mual lagi nih," ucap Arum agak cemas.


"Obat vitamin mu sudah habis?" tanya Rayden fokus menyetir.


"Sudah, kemarin malam." Arum mengelus-elus dadanya yang tidak karuan dengan mual-mualnya itu.


"Kalau begitu kita singgah dulu ke supermarket beli vitamin dan susu kandungan untukmu," ucap Rayden segera berbelok. Asisten Braga yang melihat mobil Rayden itupun terkejut. 'Loh, kemana Tuan Rayden?' pikir Asisten Braga bergegas mencarinya.


Ciiit! Mobil Rayden berhenti di sebuah supermarket. Arum dan Rayden turun bersama. Sontak saja, kehadiran mereka membuat semua mata pembeli beralih pada Rayden yang berkumis dan berjenggot. Nampak mereka berbisik-bisik karena baru melihat keduanya. Memang Arum membuka samarannya, ia kembali seperti dirinya sendiri.


Rayden menatap sinis dan dingin mereka, pria itu menarik cepat Arum untuk mengambil keranjang. Tatapan mereka membuat Rayden kesal. Seolah-olah ia seorang gangster di samping Arum. Lah memang Mafia wkwk...


"Sudah selesai pilihnya?" sahut Rayden menghampiri Arum.


"Sudah nih, Mas." Arum memperlihatkan isi keranjang.


"Tidak ada lagi yang mau kau beli selain itu?" tanya Rayden menatap dua kotak susu Ibu hamil dan satu set vitamin.


"Emm... itu--"


"Itu apa?"


"Aku bisa jajan gak?" tanya Arum malu-malu.


Rayden menatan tawa mendengarnya. "Puftt, apa perlu izin dulu ke suami?"


"Ya Mas, nanti kalau aku asal beli kamu bakal marah, terus uang kamu bisa habis," jawab Arum tergagap.


"Hei, apa kamu lupa siapa aku? Aku ini putra kedua Mafia, aku punya banyak uang di dompetku, bahkan di berbagai benua aku punya rekening banyak. Apa kamu masih meragukan uang ku?"


Arum memutar bola mata malas mendengar Rayden yang pamer kekayaan. 'Iss sombong banget, awas ntar jatuh miskin baru tau rasa!' Arum menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?"


"Tidak ada apa-apa,"


"Kamu tidak percaya?"

__ADS_1


"Sudah, tidak usah berisik! Nanti semua orang curiga sama kita," cetus Arum agak kesal.


"Kalau gitu sana beli sesuatu, siapa tahu Baby Boy ku pengen makan es krim," ucap Rayden menunjuk. Arum merungut mendengarnya. 'Baby Boy ku? Ini kan Baby aku juga! Ihh bicaranya bikin kesel deh! Harusnya Baby kita bersama!' gerutu Arum dalam hati.


"Baby Boy? Kenapa kamu bisa yakin anak kita laki-laki?" tanya Arum belum juga minggat dari tempatnya berdiri.


"Karena anakku harus laki-laki, bukan perempuan."


DEG.


Arum tersentak kaget, seakan-akan ada sengatan listrik menusuk jantungnya. Kalau sengatan cinta, sudah pasti meledak.


"Kalau yang lahir perempuan?" ucap Arum agak cemas. Benar saja, Rayden tidak menjawab.


"Sudah tidak usah tanya-tanya, sana pergi beli yang kamu suka!"


Arum menunduk lesu, ia pun pergi membeli sepuas hatinya. Ia sedih bercampur kecewa pertanyaannya tidak dijawab. Terlihat Rayden sudah berdiri menunggunya di depan kasir. Sedangkan Arum membuka ponselnya, ia melihat makanan yang bisa mewujudkan keinginan Rayden itu.


Sesampainya di depan kasir.


"Dek, belanjaannya banyak sekali. Buat Mamanya ya?" seorang Ibu menyenggol bahu Arum karena melihat belanjaan Arum seperti kesukaan ibu-ibu hamil. Ia mengira Ibunya Arum yang hamil.


"Bukan, Mama saya sudah tidak ada, Bu,"


"Tidak apa-apa, Bu." Arum tersenyum manis.


"Terus belanjaan sebanyak ini buat siapa, Dek?" Ibu itu tanya lagi sambil melirik Rayden yang sudah masam di samping Arum.


"Buat saya sendiri, Bu," jawab Arum mengelus perutnya.


"Eh, kamu sedang hamil?" kaget Ibu itu karena Arum yang belia sudah mengandung anak.


"Hehe iya Bu, sudah mau tiga bulan," cengir Arum.


"Suaminya kemana ya, Dek? Kenapa yang temenin belanja Omnya?"


DEG.


Rayden hampir meledak dianggap om-om oleh Ibu itu. Mungkin karena ia pakai kumis dan jenggot, ia terlihat pria tua tampan.


Arum menengok Rayden yang sudah merah padam, dalam hatinya ia tertawa puas melihat pria itu memendam amarah.

__ADS_1


"Suami saya ada kok, Bu,"


"Terus suaminya mana?" tanya Ibu itu penasaran. Rayden menggertakkan giginya, jelas-jelas ia adalah suaminya Arum.


"Ini suami saya, Bu." Arum merangkul lengan Rayden. "What's?" Ibu itu langsung saja shock, diikuti kusir juga.


"Mas, senyum dong." Arum menggeliatkan tangannya. Rayden pun dengan kesal tersenyum kecut. Dalam hatinya ia ingin sekali mengirim nuklir ke supermarket itu.


Arum bergegas membawa Rayden keluar setelah belanjaannya sudah beres. Tidak seperti Ibu tadi yang masih diam mematung.


"Itu sungguh suaminnya? Kok gitu?" gumam Ibu garuk-garuk kepala.


"Aduh Ibu, gak usah heran, kalau sudah cinta, tidak mandang umur lagi. Hahaha...."


Kusir menertawai Ibu bule itu yang keheranan. Sedangkan Rayden masih saja cemberut menyetir di samping Arum yang tengah meminum susu kotak.


"Mau susu, Mas?" Arum menawarkan susu kotaknya.


"Gak, aku tidak suka susu itu," tolak Rayden datar.


"Terus mau susu yang mana? Di sini ada loh rasa coklat, vanila, dan stroberi," ucap Arum menawarkan lagi.


"Gak mau,"


"Oh gitu, terus mau minum apa?" tanya Arum menyedot pipet susu kotaknya. Rayden menengok lalu berkata dengan serius.


"Mau susumu,"


Huukk... hukkk.... huukk


Arum tersedak mendengarnya, apalagi Rayden menunjuk susu bulatnya.


"Susuku belum ada isinya, Mas!" celetuk Arum kesal.


"Tunggu ada isinya," ucap Rayden menahan tawa.


"Ishh, gak boleh minum! Ini buat Baby kita, bukan buat Daddynya!" rungut Arum mendengus. Mendengar penolakan Arum, Rayden langsung tersenyum seringai. 'Hehehe...' Sepertinya Rayden punya rencana untuk Arum malam ini. Gadis itu bergidik ngeri melihat tatapan nakal Rayden. 'Jangan-jangan Masku kesurapan nih?'


.......


.......

__ADS_1


.......


Maaf ya kalau ada sedikit perubahan🙏🤭


__ADS_2