
"Mas, hitung apa sampai serius gitu?" tanya Arum.
Rayden berhenti, tersenyum lebar membuat Arum tambah bingung.
"Ih ditanya malah senyum, ngeri tau!" celetuk Arum.
"Mas tadi ngitung apa-" tambah Arum berhenti setelah Rayden menyambar bibirnya lagi.
"Hitung masa nifas, sayang." Arum tersentak begitu kuat keinginan Rayden sampai repot-repot menghitung masa nifasnya.
"Terus, kenapa dengan itu?" tanya Arum mulai waspada. Dia pun sadar kalau masa nifasnya sudah berakhir.
Rayden tersenyum menyeringai, membuat bulu kuduk Arum berdiri. "Berhentilah polos, aku tidak suka."
"Kalau begitu, aku harus nakal?" tanya Arum ingin berdiri tapi Rayden memeluknya erat.
"Pengen gitu, sayang." Rayden menc*mbu bibir istrinya. Sangat lembut sehingga ingin segera menerkamnya.
"Tapi kalau aku nakal, bisa bahaya loh, Mas." Arum jadi pasrah dipeluk.
Rayden pun menurunkan sebelah lengan daster istrinya sehingga terpampang satu buah dadanya yang montok berisi itu. "Kamu jangan nakal di luar, Mas pengennya kamu nakal di dalam sayang," ucap Rayden menunjuk ke ranjang.
"Maksudnya?" Arum agak dongkol mengartikannya.
__ADS_1
"Pengennya nakal cuma ke suami tampan mu ini, sayang." Rayden memegang kepala Arum lalu ia turun mengecup leher putih dan halus itu. Satu tangannya naik menangkap bakpau istrinya.
"Ahh..umhh..." Membuat Arum jadi mendesah syahdu.
"Kita pindah ke kamar sebelah yuk, sayang," bisik Rayden sudah tidak tahan ingin bercinta pagi ini.
"Tapi Mas, kita harus nunggu Dokter dan tidak ada yang jaga Baby kita di sini. Aku takut mereka nanti nangis pas lagi enaknya."
Arum memejamkan mata, menggigit bibir bawah dan mengeluarkan dessahan kecil. "Uuuh, kita tundah seminggu lagi ya, Mas. Kita tunggu Baby Key sehat total." Arum memohon dengan mata berbinar-binar.
Rayden tidak suka ditolak, dia langsung mengangkat tubuh istrinya dan melirik Baby-nya sudah tidur lelap. Phytonnya sudah tidak tahan ingin bergelayut di dalam sarangnya.
"Tidak perlu takut sayang, anak kita tidak akan nangis. Yang jelas kamu jangan sampai teriak kalau Mas masukin nanti," kata Rayden agak menggelikan.
'Aduh, laki-laki kalau sudah pengen gitu benar-benar susah cari alasan untuk menghindar.' Arum membatin.
"Mas, nanti saja ya, kita tunggu Dokter dulu." Lagi-lagi Arum cari alasan, dia sebenarnya sudah sembuh, hanya saja tidak ingin sensasi saat bercinta akan terganggu dengan kedatangan Dokter.
Rayden geleng-geleng kepala, tidak mau nurut ke istri. Dia pun menindih Arum dan ingin memulai aksinya. Arum pun memejamkan mata dan pasrah melayani suaminya. Tapi saat ingin melepaskan daster istrinya, suara notif menyahut di atas meja. Rayden dan Arum pun menoleh bersama.
"Jangan-jangan Dokter?" Mereka pun turun dari ranjang dan mengambil ponsel masing-masing. Seketika kedua terkejut.
"Ini..."
__ADS_1
"Mas, dapat pesan apa?" tanya Arum ke Rayden yang diam.
"Kamu dapat pesan apa, sayang?" balas Rayden malah balik tanya.
"Ini dari Dokter, katanya sudah dekat ke rumah. Lebih baik kita tunda dulu ya bercocok tanamnya," cengir Arum merasa terselamatkan. Tidak seperti Rayden yang tambah kesal lagi-lagi ular pitonnya yang sudah meronta-ronta harus puasa kembali.
"Kalau kamu apa, Mas?" tanya Arum ingin melihat isi pesan Rayden. "Cih, grup zenat-zenut, sayang."
"Hah, grup apa tuh?" tanya Arum merasa lucu mendengar tema grup itu.
"Grup emak-emak," jawab Rayden fokus membawa isi pesan yang begitu panjang dari Arleya.
"Apa, emak-emak?" kaget Arum memegang dadanya.
"Kenapa shock, sayang?" tanya Rayden menoleh dan melihat Arum nangis.
"Hiks, teganya kau Mas!" ujar Arum memukul kesal lengan suaminya itu.
"Lah, tega kenapa?" tanya Rayden bingung.
"Beraninya kamu masuk grup itu, beraninya kamu coba-coba selingkuh di belakangku, hiksss...." tangis Arum membuat Rayden melompat kaget.
'Astaga, teganya kau memfitnahku, sayang.'
__ADS_1
....
Makanya tambahin istrinya juga ke grup itušbuambang