
Arum jatuh berjongkok di bawah pohon, menundukkan kepalanya. 'Sorry, Tuan Joan. Kau terlalu baik, aku tidak pantas untukmu," lirihnya mengusap pinggir mata yang basah.
Arum menyendiri di bawah pohon, ingin lebih lama menenangkan dirinya. 'Tante Barsha sedang sibuk memikirkan wilayah Billns, ia bilang gangster di kota itu satu persatu saling menyerang. Jika saja Tante Barsha bisa bantu, mungkin kondisi gangster di perbatasan itu bisa diperbaiki. Tapi Tuan Ed melarang Tante Barsha mengurusnya.'
Arum menengadah ke atas langit, ia berharap dapat membantu. Tapi ia kembali menunduk lesu. Kemudian menusuk-nusuk tanah di bawahnya memakai ranting kecil lalu memandangi layar ponselnya.
"Tuan Rayden kapan pulang ya? Ini sudah jam 18.00 petang. Apa dia akan bermalam di rumah keluarga itu?"
"Achhh.... pasti di sana banyak wanita cantik, jadi dia tinggal lama di sana. Tuan Rayden memang nyebelin, katanya cinta, tapi main perempuan di belakang sana."
Arum menutup wajahnya, sangat khawatir. Rasanya hatinya kacau jika tidak menatap semenit wajah pria itu. Tiba-tiba saja, Arum termangu seseorang mendehem di sebelahnya.
"Ehem, di sini kau rupanya."
Sontak Arum berdiri. "Tuan Ray!" Ia berteriak gembira dan langsung memberinya pelukan. Rayden terdiam melihat kecerian Arum yang luar biasa itu. Seakan rindunya tumpah meriah petang ini.
"Ah, sorry! Aku jadi lancang memeluk--"
"Sshtt, aku menyukai tingkahmu ini." Rayden meletakkan jarinya ke mulut Arum. Gadis itu menunduk malu, diam-diam mengantongi surat cinta Joan. Arum takut, Rayden akan marah kalau sampai membacanya.
Rayden pun menyentuh dagunya, ia heran mengapa gadis hamilnya sendirian di bawah pohon.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Itu, aku--"
"Kau habis teleponan sama pria itu?" tebak Rayden dengan mata melotot, nampak masih belum melupakan Wira. Mengira Arum masih berhubungan dengan Wira.
"Ti--tidak kok Tuan, aku di sini cuma menghibur diri." Arum tersenyum manis mencoba menangkis kecurigaan Rayden.
"Kau lagi sedih, Baby?" Rayden duduk bersila di tanah dan menarik Arum duduk di hadapannya. Ia memeluk Arum, hanya berdua menikmati suasana manis ini. Arum merah merona. Tindakan Rayden semakin lembut dan nyaman. Seolah ada rumah baru untuknya berteduh dan bersandar.
__ADS_1
"Aku merindukan--"
"Me?" tebak Rayden.
"Puft, siapa yang merindukanmu." Arum tertawa geli, Rayden terlalu pede.
"Oh pria itu ya?" tebaknya mencubit kesal pipi Arum.
"Aduh, bukan dia!" ringis Arum bermanja.
"Terus?"
"Kamelia," lirih Arum menjawab dan menunduk lesu. Rayden pun menyikap rambut Arum, mengecup lembut pipinya.
"Tidak usah sedih, adikmu baik-baik saja, Baby."
Arum berbalik badan, memeluk sepenuhnya pria itu.
"Ada apa lagi?" tanya Rayden mengernyit heran mendengar suara lirih dan lemah Arum.
Arum mendongakkan kepala. Menatap dalam-dalam manik biru langitnya. "Tuan sungguh mencintai ku?" Pertanyaan Arum itu sejenak membuat Rayden terdiam.
"Apakah itu hanya candaan?" tanya Arum perlahan melepaskan rangkulannya, tetapi Rayden balas memeluknya dan menggelengkan kepala.
"Artinya?"
"Tak seperti itu,"
"Kalau begitu, Tuan mencintai--"
"That right, you-my love," bisik Rayden ke telinga Arum. Hembusan nafas Rayden itu terasa menggelikan. Akan tetapi, Arum tersenyum sumringah mendengarnya.
__ADS_1
"I love you, Baby."
Chup! Rayden dengan manisnya mencium bibir merah itu di bawah rindangan pohon mangga. Arum pun membalas ciumannya. Sontak, Melissa yang datang ingin memanggil Arum masuk ke dalam mansion, ia bergegas pergi tidak mau mengganggu keduanya yang sedang berduaan mesra.
Seketika tangan Rayden menyelip ke dalam baju Arum. Satu tangan nakalnya berhasil mendaki dan meremaas gunung surgawi Arum.
"Uuhh Tuan," Suara indah itu keluar juga. Arum menggigit bibir bawahnya, ia menahan des*hannya saat Rayden turun mengecup ke belahan gunung surgawinya. Satu tangan gadis itu menjambak rambut Rayden dan mendesis nikmat ketika tangan Rayden masuk ke celana lalu mengelus-elus bokong Arum.
"Uumm... Tuan, ki-kita ada di luar. Nanti ada yang melihat kita." Arum memohon bak kucing manis. Rayden tersenyum smirk lalu berdiri mengangkat Arum pergi dari sana.
"Tu-tuan, kita mau kemana?"
"Ke kamar, Baby."
Rayden berjalan lurus menyusuri lorong yang sepi.
"Ngapain ke sana?" tanya Arum pura-pura polos.
Rayden berhenti lalu berbisik dengan nakal.
"Makan kamu, sayang."
Arum tersentak mendengar jawaban konyol itu.
"Iihh, dasar monster goblin!" Arum memukul-mukul manja dada Rayden. Tingkahnya yang gemesin itu membuat Rayden bergelora. Cinta di hatinya bergejolak tidak tahan.
Kriiet! Pintu ditutup rapat. Rayden meletakkan Arum ke atas ranjang lalu dengan nakal menggelitik dari pusar naik ke belahan susu Arum. Gadis itu tertawa geli menerimanya.
"Ummhhh...." Rayden mulai mencu*bu gadisnya lalu dengan nafsunya membuka celana Arum.
.......
__ADS_1
.......