Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
51. Mamaaaa!


__ADS_3

Rayden dengan hati-hati membaringkan Arum ke ranjang, lalu berlari keluar memanggil Barsha dan Arleya. "Mamaaaaaaaa!" Begitu lantang hingga dua wanita tua itu menoleh secepatnya.


"Kenapa kau teriak-teriak?"


"Tolong jaga Istriku." Rayden mengambil kunci mobilnya dan jaketnya.


"Arum kenapa?" tanya Arleya.


"Dia makin lemah, Tante." Rayden berjalan cepat ke pintu.


"Apa? Kamu udah ngapain aja sampai Arum tambah lemah?"


"Kamu nggak 'gituan' kan sama dia?"


Rayden mendesis. Mana mungkin ia tega gempur tubuh istrinya. Apalagi hari ini ayahnya dikabari meninggal. Udah ia buang jauh-jauh pikiran itu.


"Nggak lah, Tante!" bantah Rayden membuka pintu lalu keluar menjemput Dokter pribadinya sekarang juga, ia pakai mobil andalannya, Cargosh!


Barsha dan Arleya bergegas masuk ke dalam kamar Arum. Keduanya terkejut melihat Arum sadar dan meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Shhht, jangan keras-karas bicaranya." Arum tersenyum manis. Barsha dan Arleya duduk di sebelah Arum.


"Kamu lagi demam, Nak?" tanya Barsha membelai rambut Arum. Gadis itu terkejut dengan sikap Barsha yang sangat peduli. Padahal dulu-dulu sering anggap ia lagi berpura-pura.


"Aku tidak demam kok, Tante. Ma-ma Leya tidak usah cemas juga ya," ucap Arum menatap Arleya dari pada Barsha membuat wanita itu sedih putrinya lebih lama menatap Arleya. Rasanya ia ingin jujur, tapi belum waktunya karena Arum sedang sakit.


Arleya menatap bergantian Arum dan Barsha. Anak dan Ibu itu membuatnya merasa gemas. Mulutnya gatal ingin katakan jujur, tapi ia juga tahu harus menjaga mental Arum dulu.


"Panggil Mama dong, bukan Tante." Barsha membelai rambut Arum.


"Baiklah, Mama." Arum tersenyum ria kemudian menunduk gelisah.


"Kamu kenapa sedih?" tanya dua wanita itu serempak. Arum menahan tawa melihat kekompakkan mereka. "Sejak umurku 10 tahun, aku tidak punya Ibu. Sekarang aku punya dua Ibu yang baik-baik. Terima kasih, Mama." Arum terisak di depan mereka. Barsha sudah tidak tahan, ia memeluk Arum sangat erat. Arleya menghembuskan nafas terharu mendengar ungkapan hati Arum.


"Seandainya, Kamelia masih hidup. Dia pasti senang punya Mama angkat seperti Mama Arleya dan Mama Barsha." Arum menunduk lagi, memikirkan adik tirinya yang dinyatakan sudah meninggal. Barsha meraih tangan Arum, bertanya mengapa Arum dan Kamelia ditelantarkan. Arum pun jujur apa yang dia ingat. Mengatakan sejak umur 10 tahun, orang tuanya pergi meninggalkan ia dan Kamelia yang masih bayi di rumah kumuh. Untung ada Bu RT yang dari dulu memperhatikan hidupnya. Barsha menangis, ia memeluk Arum. Wanita itu semakin marah pada Marsel yang kejam meninggalkan dua anak gadisnya. Arleya juga mengutuk Marsel yang jahat. Marsel seperti penjahat yang perlu Arleya basmi. Arum bingung mengapa Barsha selalu memeluknya dan menangis pilu.


"Mama sedih ya karena ayah meninggal?" sahut Arum menebak. Barsha menggelengkan kepala, ia sedih karena hidup putrinya menderita sejak kecil. Tiba-tiba ketiganya terkejut mendengar Rayden sudah datang bersama Dokter pribadinya. Nampak Rayden memarahi keterlambatannya. Arum buru-buru berbaring dan menutup mata. Pura-pura tidur.


"Drama apa lagi yang direncanakan gadis ini?" pikir Barsha dan Arleya.

__ADS_1


"Mamaaa! Bagaimana keadaan Arum? Apa dia tadi sadar?" tanya Rayden mendekati istrinya. Barsha dan Arleya sama-sama menggelengkan kepala. Keduanya keluar dan mengintip di luar kamar.


"Sekarang periksa dia, buat dia sehat! Jangan sampai dia sakit, Dok!" pinta Rayden.


"Baiklah, silahkan keluar dulu, Tuan." Dokter meletakkan alat medisnya di atas meja.


"Kok aku keluar?" kaget Rayden. Seperti biasa, ia tidak suka ada pria lain sentuh istrinya, meski itupun Dokter, akan dia ledakkan.


"Tuan Rayden, anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan macam-macam pada istri anda. Kalau tidak percaya, silahkan panggil dua wanita yang ngintip itu," ucap Dokter pria itu nunjuk ke pintu. Rayden mendengus, ia pun keluar dan menyuruh Barsha, Arleya masuk.


"Cih, awas! Kalau sampai kau sentuh istriku sedikitpun, jari-jarimu akan dipotong!" tekan Rayden serius berucap lalu ke sofa. Duduk manis menunggu kabar istrinya. Kini kerjaannya cuma bengong di depan Tv. Melirik ke arah kamar sesekali.


Krieet! Pintu terbuka. Rayden menghampiri Arleya yang keluar sendirian. "Bagaimana kondisi Istriku? Dia tidak parah kan, Tante?" tanya Rayden ingin masuk tapi dihalangi oleh Arleya.


"Hufft..." Arleya menghembus nafas berat.


"Kenapa kau lesu, Tante?"


"Rayden, bayi yang dikandung Arum-"


"Bayiku kenapa, Tante?"


"Itu, kata Dokter bayimu perempuan,"


"Benar Nak, cucu Mama perempuan." Barsha keluar dan ikut membenarkan.


"Tidak mungkin!" Rayden masuk lalu menghampiri Arum yang sadar. Setelah melihat istrinya, ia meremas kerah leher Dokternya. Arum terkejut melihat Rayden kecewa.


"Dokter, apa kau yakin bayiku perempuan? Katakan sejujurnya padaku!" desak Rayden serius.


"Apa kau tidak percaya padaku, Tuan Rayden?" tanya Dokter melepaskan cengkeraman Rayden.


"Yaiyalah, di sini tidak ada alat medis lain. Bagaimana kau bisa tahu?" Tunjuk Rayden ke perut Arum.


"Saya punya mata-"


"Mata batin? Hahaha.....sejak kapan profesimu jadi pelawak?" tawa Rayden tidak percaya. Dokter tersenyum sesal ditertawakan.


"Mas," lirih Arum meraih tangan Rayden.

__ADS_1


"Ada apa, beby?" Rayden duduk di sebelahnya.


"Mas tidak suka anak perempuan?"


Rayden terdiam.


"Hiks, ya sudah Mas buang aku saja." Rayden dan Dokter terlonjak.


"Tidak beby, aku tidak seperti Ayahku yang main buang gitu saja. Aku tidak akan membuang mu." Rayden mengelus pipi basah Arum akibat air mata itu menetes.


"Ta-tapi anak pertama kita cewek, Mas tidak marah?" lirih Arum sedih.


"Selagi Tuhan beri kita kesempatan, kita bisa buat dilain waktu. Sekarang yang terpenting kesehatan mu, beby." Cuuhupp. Rayden mengecup Arum di depan Dokter. Lagi-lagi kemesraannya diperlihatkan.


"Ehem, masih ada jomblo di sini. Jangan buat saya iri pada kalian." Dokter tersenyum kecut.


"Ya sudah, kau nikah! Jangan nunggu umur tua baru nikah, ntar nyesel loh!" balas Rayden ketus.


Dokter pun keluar meninggalkan keduanya yang memadu kasih. Terlihat Rayden dan Arum begitu bahagia. Sampai-sampai Arum minta nama untuk bayinya. Dua wanita itu mengelus dada melihat Rayden tidak marah.


"Dok, yakin nih perempuan?" tanya Arleya belum yakin tebakan Dokter.


"Saya bukan Tuhan dan bisa saja akan terganti. Doain saja bisa keluar laki-laki. Sekarang saya harus ke rumah sakit, ada satu pasien yang harus saya rawat," ucap Dokter siap pergi lagi.


"Siapa, Dok?" tanya keduanya bersamaan.


"Adik tiri Nona Arum, Kamelia."


DEG.


"Loh, bukannya sudah ninggal ya kata Arum tadi kan?" kaget Arleya.


"Belum, Nyonya. Anak itu masih tahap pemulihan. Sebulan lalu ia habis melakukan tranpalansi sumsung tulang belakang. Sekarang tinggal beberapa hari ia bisa mengunjungi Nona Arum. Saya permisi." Dokter keluar, berjalan sendirian mencari taksi.


"Cih, Rayden breng sek sekali sudah menakut-nakuti Arum!" Arleya tambah marah.


Barsha hanya bisa diam, rupa-rupanya ia masih punya anak tiri yang hidup dari suami keduanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2