
"Astaga, jadi pria itu adalah Tuan Rayden? Apakah saat itu istrinya yang hamil adalah Arumi ini?" gumam Wira mengira sekarang Rayden saat itu kehabisan uang akibat dikejar musuh yang ingin membunuhnya. "Dan artinya, saat itu dia dalam bahaya? Apakah setelah pertemuan terakhir kita saat itu adalah hari di mana ia dibunuh?"
Kinan terdiam mendengar asumsi suaminya itu. 'Rupanya Mas Wira benar-benar pernah bertemu Tuan Rayden, apakah Mas Wira juga pernah bertemu Arum? Tapi dari ucapannya ini, sepertinya Mas Wira masih belum sadar Arumi di foto itu adalah Arum.' Kinan membatin sedikit kesal dan sedih.
Kraak! Wira berdiri dari kursi dan meletakkan foto itu.
"Mau kemana, Mas? Mau ke rumah tetangga? " tanya Kinan.
"Tidak, Mas punya urusan mencari seseorang hari ini, tidak ada waktu-" putus Wira melewati Kinan dan segera ditahan Istrinya itu.
"Mas, tunggu,"
"Ck, jika kau ingin ke sana, pergilah sendirian! Aku masih-" putus Wira tidak suka didesak. Tapi ucapan Kinan membuat ucapannya itu digantung.
__ADS_1
"Mas, tetangga kita itu sebenarnya pasangan yang ada di dalam foto ini," ucap Kinan menunjuk foto itu di atas meja.
"A-apa? Jadi mereka masih hidup-"
"Ya Mas, ayo kita jenguk mereka. Kau pasti akan senang dapat bertemu kawan lama yang punya istri baik dan dua bayi kembar."
Ucapan kinan itulah yang membuat Wira sekarang datang ke rumah Rayden. Barsha yang sekarang berdiri di pintu masih ragu memberi izin masuk. Tapi, sahutan mengagetkan Barsha. Sahutan dari anak perempuan yang berasal dari belakang Wira dan Kinan.
"Kamelia sudah pulang, Mama."
"Kamelia? Ini sungguh kau?" Wira jongkok di depan anak itu membuat Kamelia kebingungan.
"Om, siapa?" tanya Kamelia memang tidak kenal Wira. Barsha berkeringat dingin melihat Wira berhasil mengenali Kamelia. Entah kenapa anak itu sudah berani pulang sendirian sehingga sekarang pertemuan ini membuatnya sangat gugup dan tegang.
__ADS_1
"Ini saya teman kakakmu! Nama saya, Wira!" jawab Wira mengelus pipi Kamelia.
"Teman Kak Arum?" tanya Kamelia masih kurang paham, karena ia tahu Arum dulu sama sekali tidak punya teman cowok.
"Ya, Om dari Indonesia sudah lama mencarimu, maaf Kamelia, Kakakmu sudah lama meninggal," lirih Wira berdiri dan mengelus kepala Kamelia. Ia cukup senang melihat adik dari gadis yang dia cintai sudah sehat. Kamelia terkejut mendengarnya, ia pun menatap Barsha lalu meraih tangan Wira.
"Om, kakakku masih hidup, Kak Arum ada di dalam, dan ini Mamanya Kak Arum dan Kamelia."
Wira terperanjat langsung menatap ke Barsha. "Anda Ibunya Arum? Dan sungguh Arum ada di dalam sana?" tanya Wira serius. Barsha tergagap, namun seketika suasana hening setelah Arum nongol.
"Mah, siapa yang datang.... Wi-wira?" Arum membisu.
"A-arum?!" Wira sangat terkejut gadis yang membuat hatinya sedih sampai sekarang sudah ada di depan matanya. Pria itu maju ingin memeluk Arum membuat Kinan shock, sangat shock melihat suaminya benar-benar masih mencintai Arum. Namun sebelum Wira memeluk tubuh Arum, dengan cepat seseorang mendorongnya hingga Wira terdorong ke belakang hampir terjatuh.
__ADS_1
"Sialan, tidak akan aku biarkan kau menyentuh sedikitpun istriku!" Ujar Rayden marah, dan berdiri di hadapan Wira sambil merentangkan kedua tangannya. Suasana pun berubah menjadi tegang dalam pertemuan yang luar biasa ini. Rupa-rupanya gadis yang dicintai Wira selama ini adalah istri dari pria yang pernah dia tolong.