
Hari ini di rumah Rayden sangat meriah, satu keluarga bahagia itu sedang menyiapkan satu acara ultah Rayden yang ke 27 tahun. Tidak ketinggalan Dokter Maya ikut antusias membantu Barsha. Sedangkan Amel mulai nakal curi-curi kue dan lari ke arah kereta bayi dua keponakan kecilnya. Melihat tingkah Amel itu, Rayden yang sedang memasang dekoran di setiap ujung tiang hanya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba Arum juga ikut nakal hari ini.
Doaaarr!
"Ah kodok markodok!"
"Ahhahaha..." tawa Arum mendengar teriakan suaminya.
"Baby!" celetuk Rayden turun dari kursi. Arum buru-buru ingin kabur, tapi tangan panjang Rayden mencegatnya.
"Habis nakal, langsung kabur ya." Rayden mencubit dua pipi Arum yang sudah tembem.
"Ya dong, aku gak mau dililit sama bapak phyton." Arum menepuk phyton Rayden di bawah sana membuatnya bersemu.
"Arum! Di sini banyak orang, gak malu apa kalau ada yang lihat Mommy Ai nakal megang anuku," cetus Rayden malu phytonnya jadi tegak.
"Ih baru juga sekali dipegang langsung berdiri, baperan banget sih anunya suamiku," gemas Arum menahan tawa.
"Ya bisa berdirilah, tanganmu kan selalu pegang itu," bisik Rayden ke telinga istrinya.
"Kalau mau pegang lagi, kita ke kamar yuk main hip hop di ranjang," tambahnya mere mas bokong Arum yang sudah bahenol.
"Uuhh mas, kita berhenti! Aku cuma bercanda," geli Arum ingin meledak siang ini.
Rayden nyengir kuda melihat pipi Arum memerah. Ia pun menepuk-nepuk kepala kelinci kecilnya.
"Ya sudah jangan nakal dulu hari ini," ucap Rayden memindahkan kursi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Okay, ayangku." Arum memeluk Rayden.
__ADS_1
Tapi lanjut nanti malam, hehehe...
"Ayang ayang, kata-kata apa lagi tuh?" tanya Rayden menengoknya.
"Dulu manggilnya mas, sekarang ayang, jangan semain aku dengan ayam!" lanjut Rayden tidak suka, itu terlalu berlebihan.
"Bukan ayam, itu kata manis yang lagi trend, kata S nya dibuang jadi ayang, ga papa kan aku panggil suamiku dengan ayang?" tanya Arum meluk lagi.
"Gak!" tolak Rayden sangat geli.
"Loh kenapa?" tanya Arum ketus.
"Karena aku tidak mau bernasib seperti huruf S yang dibuang, jadi panggil Mas saja!" tegas Rayden serius.
Arum memonyongkan mulutnya. "Hm, baiklah Mas."
Cuup
"Ahhh, mas curang!" desah Arum memukul dada Rayden yang terbahak-bahak.
Melihat adiknya bahagia, Joan jadi lesu sendirian duduk di kursi. Cemburu sih cemburu, tapi apa boleh buat, dia harus tahan banting melihat kemesraan dua sejoli itu yang memiliki cinta kuat.
"Uhhh, apa aku akan jadi perjaka tua?" Joan mendesah murung.
Tiba-tiba dia menoleh saat dipanggil oleh Dokter Maya.
"Permisi Tuan, apa aku boleh duduk di sini juga?"
Dengan gugup, Joan bergeser. "Silahkan."
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan." Dokter Maya duduk di samping Joan dan melihat Amel mendorong kereta baby Ai dan Key ke sana kemari.
"Hari ini gerah banget ya, Tuan." Dokter Maya mengibas kepanasan. Keringatnya bercucuran di leher putihnya.
Joan mengerutkan kening. "Kamu sedang menggodaku?"
Dokter Maya menoleh. "Menggoda? Gak gitu, Tuan!" timpalnya terkejut.
"Oh, kirain kamu ke sini sengaja ingin menggodaku," ucap Joan terus terang.
'Dih, pede banget juga nih cowok,' batin Dokter Maya sedikit bergeser.
"Kenapa menjauh?" tanya Joan meliriknya.
"Gak ada apa-apa kok," jawab Dokter Maya membuang pandangannya cepat.
"Tidak usah takut, aku tidak sama sekali minat untuk menerkammu," ucap Joan hampir membuat Dokter Maya hatinya jatuh. 'Ya ampun, Tuan Joan ini kenapa sih dari tadi ngomong gak jelas gitu? Apa otaknya lagi tidak beres? Siapa juga yang mau goda dia?' batin Dokter Maya geli.
"Hehehe... sepertinya aku ke Amel dulu, permisi-"
"Jangan!" tahan Joan memegang tangan Dokter Maya membuat hati wanita itu berdebar-debar bisa menyentuh tangan itu.
"Kok jangan?" tanya Dokter Maya agak takut.
"Maksudku jangan ke sana dulu," jawab Joan lalu nepuk-nepuk kursi.
"Sini duduk sebentar," tambahnya sambil tersenyum.
'Duh, dia mau ngapain sih? Kok gerak-geriknya mencurigakan gitu?' batin Dokter Maya waspada.
__ADS_1
.
PDKT itu si Joan, Dokš¤