
Sebelum Notif itu muncul, Rayden dan Arum sedang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Terlihat Rayden bicara pada anak buahnya jika perusahaan IT nya di Indonesia mulai berkembang.
Sedangkan Arum sedang menyusui Baby Key, namun masih saja Baby kecilnya yang satu itu masih menolak untuk menettek. Arum jadi sedih, dan gelisah.
"Seandainya Dokter kemarin tinggal di sini, pasti aku tidak khawatir begini. Jam berapa ya Dokter datang ke sini lagi?"
Arum melihat jam dinding, menunggu Dokter yang akan datang membawa obat untuk Baby Key. Seandainya Rayden mau, Baby Key pasti dibawa ke Rumah sakit, tapi Rayden tetap menolak.
Seketika, pandangannya menatap ke luar jendela, melihat Kinan keluar sendirian. "Eh, aku pikir dia ikut ke dalam mobil bersama Wira." Arum terkejut, karena memang tadi pagi dia melihat mobil Wira melaju pergi. Arum mendekati Jendela, melihat raut wajah Kinan sedih berjalan sendirian pergi dari rumah.
"Apa yang sedang dia pikirkan sampai sedih begitu?"
Oeekkkk Oeekkkk
Pandangan Arum sontak beralih ke Baby Key yang rewel. Spontan Barsha yang ingin membawa Kamelia ke sekolah jadi masuk ke dalam, melihat mengapa cucu perempuannya menangis sekencang itu.
"Nak, ada apa dengan cucu Mama sampai menangis keras?"
Arum menghampiri Ibunya. "Mah, aku takut. Dari tadi Baby Key tidak mau minum ASI-ku."
"Rayden sudah telpon Dokter untuk ke sini?" tanya Barsha. Tidak tega melihat putrinya kesusahan menenangkan Baby Key.
Rayden masuk dan menyahutnya. "Sudah Mah, kita tunggu Dokter datang ke sini, kalian tetaplah tenang," jawab Rayden kemudian berdiri di dekat Arum.
"Sini sayang, biar aku yang menenangkannya," tambah Rayden mengambil Baby Key dari Arum kemudian membawanya ke arah jendela, lalu mengajak bicara Baby Key dengan penuh kasih sayang. Arum dan Barsha mengelus dada melihat Rayden adil mengurus dua Baby-nya.
"Mama tidak sangka, Rayden sangat sayang pada Baby Key," lirih Barsha menyapu genangan air mata di pinggir matanya. Ada satu memori di mana Marsel yang dulu ingin anak laki-laki juga sayang pada Arum, tapi karena sifat Marsel yang keras ingin memaksanya untuk melahirkan anak lain, membuat Barsha kabur tidak kuat diancam terus-menerus.
"Ya Mah, aku juga terkejut, dia bisa adil memberi cinta untuk Baby Key." Arum menghembus nafas lega. Dia pikir, Rayden akan lebih peduli pada Anak laki-lakinya, tidak sangka pria itu memiliki cinta besar untuk kedua malaikat kecilnya.
Seketika, Kamelia masuk. "Mama, Kamelia sudah siap berangkat sekolah." Barsha dan Arum menoleh ke gadis kecil itu yang manis. "Baiklah, Mama antar adikmu ke sekolah. Kalian berdua hubungi Mama ya kalau Dokter sudah datang," ucap Barsha ke Arum.
__ADS_1
"Baik, Mah." Arum mengantar Ibunya dan Adiknya ke pintu utama rumah. Terlihat Barsha masuk bersama Kamelia ke dalam taksi yang dipesan sudah datang.
Ketika ingin menutup pintu, ia menengok ke rumah Wira. Rumah itu nampak kosong dan gelap. "Sepertinya Kinan masih di luar, tapi kemana dia pergi tadi?" gumam Arum pun menutup pintu lalu masuk ke dalam kamar. Melihat Rayden berhasil menenangkan Baby Key dan malah rebahan santai di sebelah Baby Ai yang tertidur dan Baby Key yang menguap kecil, membuat Rayden gemas sendiri melihat bibir kecil anaknya.
"Sayang, Mama dan adikmu sudah berangkat?" tanya Rayden pun memandangi istrinya yang sedang berdiri di depan cermin rias.
"Barusan mereka pergi, Mas." Arum menoleh dan melemparkan senyum manisnya.
"Oh, jadi giliran aku dong diurus sekarang," lirik Rayden seraya mengedip-edipkan matanya dengan nakal.
"Mas, kalau mau mandi pergi saja, aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi tadi." Arum membuka lemari baju, mengambil satu pasang baju Bayinya, ia ingin mengganti pakaian Baby Ai dan Baby Key.
Tidak sadar, Rayden sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya.
"Istriku..." bisik Rayden membuat Arum menggeliat geli.
"Kenapa, suamiku?" tanya Arum berbalik lalu memeluknya dari depan dan menatap wajah tampan suaminya yang sedang cari-cari waktu untuk dibelai.
"Pengen kamu," jawab Rayden lalu cium singkat bibir sang istri. Dia sudah dari kemarin menahan, tapi sekarang tidak sanggup berpuasa. Rayden rindu ingin seperti dulu saat pertama kali mengenal Arum.
Rayden memonyongkan mulutnya, agak kesal melihat istrinya pura-pura polos.
"Pengen kamu, Baby. Pengen gituan, kamu paham, kan?"
Arum menahan tawa mendengarnya, dia pun melirik baby twins di atas ranjangnya. Arum melewati Rayden, menuju ke ranjang.
"Gituan apa?" tanya Arum meletakkan satu pasang baju anak kembarnya. Rayden mendengus jengkel lagi-lagi dicuekin.
"Tau ah," dengus Rayden menjatuhkan diri, duduk kesal di kursi dan membuang muka. Bagaikan Istri yang sedang bete dengan suaminya, tapi ini malah terbalik.
"Loh, kenapa mukanya dibuat jelek gitu?" tanya Arum mengganti pakaian Baby Ai duluan dan sesekali melirik suaminya itu.
__ADS_1
"Suami ngambek, tidak mau bicara lagi!"
Arum tertawa, lucu dan menggemaskan melihat suaminya marah pengen dimanja-manja.
"Ya sudah, duduk manis di situ ya," ucap Arum berpindah mengganti pakaian Baby Key yang mulai mengantuk lagi.
"Saaayaaaang!" panggil Rayden cemberut.
Arum menoleh. "Mas, jangan teriak. Nanti Baby kita bangun," omel Arum berkacak pinggang pada Baby besarnya itu yang mulai rewel.
"Ya udah, sini dong! Giliran aku diurus!" sedihnya pengen nangis.
"Mas, anak kita lagi sakit." Arum pun menghampiri suaminya.
"Terus?" Rayden menatapnya.
"Terus gak bisa gituan, Mas." Arum membelai pipi Rayden agar tenang juga.
"Kamu jangan ikut rewel ya, Mas." Arum gemas hingga mentoelnya juga.
Rayden pun menariknya pinggang ramping istrinya, sehingga jatuh ke dalam pangkuannya membuat Arum agak terkejut. Rayden menyandarkan dagunya ke bahu sang Istri.
"Mas, jangan nakal ih." Arum mendesah kesal tangan suaminya mulai agresif masuk ke bawah dasternya.
"Mas pengen kamu, Baby," bisik Rayden mengecup leher Arum, menghirup sisa aroma tubuh Arum yang wangi setelah mandi tadi.
"Tapi Mas, aku-"
"Aku apa? Masih masa nifas?" cetus Rayden memutuskan ucapan Arum dan menatap kesal.
"Ya, Mas," cengir Arum.
__ADS_1
Rayden pun menarik tangannya dari balik daster lalu menghitung jari membuat Arum bingung.
"Mas, hitung apa sampai serius gitu?" tanya Arum.