
Pagi harinya, di ruang makan. Nyonya Mariam tengah duduk menyantap sarapan paginya di samping Tuan Edward. Hanya berdua membuatnya malas untuk menghabisi sarapannya.
"Bi!" panggil Nyonya Mariam. Pelayan bergegas menghadap.
"Kenapa kau berteriak?" tanya Tuan Edward.
"Sayang, itu Rayden dan menantu kita belum juga turun sarapan, aku cemas mereka akan sakit maag bila tidak ikut sarapan bersama kita," jawab Nyonya Mariam pengertian. Padahal itu hanyalah pura-pura.
"Sejak kemarin, mereka tidak pernah turun," tambahnya lagi.
"Apa saya perlu panggilkan mereka?" sahut pelayan itu.
"Pergilah," titah Tuan Edward.
"Baik." Pelayan pun bergegas meninggalkan dapur. Nyonya Mariam merasa jengkel melihat jam ponselnya sudah pukul 08. 12 pagi.
"Permisi, Nona."
Kamar Rayden diketuk-ketuk dari luar oleh pelayan itu.
"Bibi, ada apa ke sini?" tanya Arum sudah selesai berdandan. Seperti biasa, ia tampil cantik dengan senyum manisnya.
"Nyonya dan Tuan memanggil kalian untuk sarapan pagi, Nona," jawab pelayan itu sopan.
"Tunggu sebentar ya, Rayden lagi mandi. Nanti--"
"Awss!" ringis Arum mendadak pinggulnya sakit akibat digempur kemarin malam.
"Nona, kenapa?" tanya pelayan itu panik.
"Haha, ini cuma agak sakit, Bi." Arum tersipu malu menjawabnya. Pelayan menahan tawa, tahu maksud rintihan Arum.
"Semoga Nona cepat hamil ya," ucap pelayan tersenyum.
"Terima kasih, Bi." Arum balas tersenyum.
"Kalau begitu, aku ke bawah lagi ya, Non." Pelayan pergi setelah Arum mengangguk kecil. Gadis itu menutup pintu kamar, duduk di tepi ranjang. Seandainya saja ada keberanian, pasti Arum sudah turun duluan. Tapi ia terlalu takut menghadap mertuanya.
"Kenapa belum turun?" sahut Rayden keluar dari kamar mandi kemudian memakai pakaian yang sudah disiapkan Arum.
Arum berdiri lalu mendekati Rayden, memeluk dari belakang pria yang tengah mengancing bajunya itu.
"Tumben meluk? Ada apa?" tanya Rayden menatapnya.
"Kita pulang ke Indonesia yuk, Mas,"
"Ngapain?"
"Aku rindu sama Kamelia," lirih Arum.
"Adikmu tidak ada di sana,"
"Tidak ada? Terus Kamelia di mana?" tanya Arum sedikit terkejut.
"Dia berada di rumah sakit yang akan menyembuhkan penyakitnya. Kau tidak usah cemas," kecup Rayden ke kening Arum.
"Sekarang ayo kita turun sarapan." Rayden memegang tangan Arum, menarik gadis itu, membawanya ke lantai bawah. Arum menunduk lesu sarapan di antara mereka.
'Mas Rayden sepertinya tidak terlalu peduli pada Kamelia, apa karena anak ini cuma adik tiriku, dia hanya menjawab singkat dan datar?'
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Tuan Edward membuyarkan pikirannya.
"Nak, kau baik-baik saja?" tanyanya menatap Arum.
"Ba-baik, Pah," jawab Arum terbata-bata. Nyonya Mariam memutar bola mata malas melihat Arum berdekatan dengan Rayden dan tersenyum pada Edward.
"Baguslah, tapi kalau Rayden sampai menyakitimu, kau laporkan pada Papa," ucap Tuan Edward tidak mau ada kekerasan di rumahnya.
"Cih, aku tidak akan mungkin menyakitinya," decak Rayden menyantap makanannya. Suasana kembali hening. Arum nampak tidak enak lagi makan pagi ini.
"Rayden, sejak kau menikah, Papa tidak pernah melihat kakakmu, kemana dia?" tanya Tuan Edward.
Arum terdiam. 'Eh, apa Papa tidak tahu Tuan Joan berobat?' batin Arum menengok Rayden.
"Hem, benar. Dari kemarin tidak ada kabar Joan, apa dia baik-baik saja?" sahut Nyonya Mariam ikut bertanya.
Rayden mengepal tangan. Ia tentu kesal karena ayah dan Mariam baru mengingat kakak lumpuhnya itu.
"Dia di rumah Mama Barsha, tidak sempat hadir ke pernikahan kami," jawab Rayden datar.
"Ada apa dengannya?" tanya mereka serempak.
"Dia baik-baik kok di sana, hanya saja dia malas melihat kalian berdua," jawab Rayden berhenti sarapan. Arum dari tadi sudah bergetar ketakutan mendengarnya. 'Oh tidak, Mas Rayden harusnya jangan bicara kasar gitu.'
"Baby, ayo kita pergi," ajak Rayden menarik Arum berdiri.
"Rayden, kau ini calon pewaris. Tidak seharusnya bersikap kurang ajar begitu pada Papa!" ujar Tuan Edward sudah marah.
"Aku tahu, tidak usah memarahiku!" balas Rayden membawa Arum keluar dari sana.
"Cih, kalau saja kakakmu tidak lumpuh, Papa tidak akan mungkin mencalonkanmu," decitnya kesal diabaikan oleh putra keduanya. Mariam merungut, ia juga berpikir demikian.
'Seandainya Joan dapat berjalan, aku juga lebih baik nikah dengan pria tampan itu dari pada pria tua ini. Tapi jika aku menikah dengan Joan, bisa-bisa pria itu akan mempermalukan diriku!' batin Nyonya Mariam memakan sarapannya dengan emosi.
"Ke rumah Mama," jawab Rayden singkat. Responnya terlalu datar, nampak pria itu masih kesal.
'Mas Ray sepertinya lagi sibuk sampai-sampai dia tidak begitu serius memikirkan Kamelia.' Arum menatap lesu Rayden yang serius melihat ke depan.
"Bagaimana pinggulmu, apa masih sakit?"
Arum tersentak lalu tersipu malu-malu.
"Sudah baikan, Mas. Terima kasih tadi pagi Mas olesin obat," lirih Arum menunduk.
"Maaf kemarin aku terlalu menikmatinya." Rayden memegang tangan Arum. Gadis itu hanya menggelengkan kepala. Ia ingat jelas, kemarin malam percintaan mereka benar-benar menggila. Bagaikan pengantin baru yang menikmati malam pertamanya.
Sesampainya di tempat Barsha, keduanya disambut oleh asisten Braga dan Melissa, namun kali ini tatapan asisten Braga menatapnya sinis. Arum jadi heran dengan pria paruh baya itu.
"Tumben sekali kalian datang sepagi ini?" sambut Barsha menghampiri mereka.
"Pagi, Tante," sapa Arum tersenyum.
Tuk! Awss! ringis Arum, kepalanya dipukul pakai majalah.
"Mama, kenapa pagi-pagi sudah melakukan kekerasan?" cetus Rayden tidak terima wanita itu selalu saja memukul.
"Hadeh, harusnya panggil Mama bukan Tante!" balas Nyonya Barsha memarahi Arum.
"Ma-maaf, Mama. Arum tidak akan ngulang lagi," lirih Arum mengelus-elus kepalanya.
__ADS_1
"Kemarilah, duduk sama Mama. Melissa, tolong buatkan susu dan teh untuk kami," perintah Nyonya Barsha sambil menarik Arum.
"Baik, Nyonya!" Melissa pergi menyiapkan tugasnya. Kini tinggal asisten Braga yang berdiri di antara ketiganya.
"Sekarang apa rencana kalian?" tanya Barsha menyeduh teh panasnya duluan.
"Tidak ada rencana buat honymoon?"
Keduanya masih terdiam.
"Astaga, kenapa kalian tiba-tiba kaku gini? Kalian baik-baik saja?" Barsha gemas melihat keduanya.
"Em itu, aku ikut Mas Rayden saja, Ma." Arum melirik Rayden.
"Rayden, apa rencanamu?" tatap selir Barsha serius.
"Maunya sih pengen Arum cepat lahiran,"
Tuuk!
"Aaahh Mama, bisa nggak sih kebiasaan mukulnya dihilangkan! Kesel tau!" celetuk Rayden dipukul lagi.
Arum senyum-senyum melihat hubungan keduanya begitu erat. 'Kalau saja aku bukan anak yatim piatu, pasti Mama dan Papaku pasti shock mendapat menantu kaya.' Arum menunduk lesu dan meminum susu yang dibuat Melissa, membuat asisten Braga yang meliriknya merasa curiga. 'Apa yang dia pikirkan sampai murung gitu? Apa dia sedang memikirkan Tuan Joan?' batin asisten Braga.
"Untuk menunggu lahiran, masih ada lima bulan. Dari pada kalian tinggal di sini hanya diam saja, lebih baik kalian berdua honymoon saja ke Paris, sekalian bisa menjenguk Joan,"
DEG.
Arum terkejut diberi saran itu, apalagi asisten Braga ikut terkejut heran. 'Lahiran? Sejak kapan gadis ini hamil?' pikir Braga mengepal tangan.
"Huftt, Mama bicara saja dulu sama Arum," hela Rayden bangkit.
"Mau kemana, Mas?" tanya Arum mendongak.
"Cari udara segar pagi ini, kau di sinilah ngobrol sama Mama." Rayden membelai Arum lalu pergi begitu saja, dan diikuti oleh asisten Braga.
Suasana kembali hening, Arum nampak canggung berhadapan dengan Barsha yang mengungkit Joan.
"Arum, apa kau setuju?"
Arum diam sejenak, memikirkan Joan.
"Mama, sebenarnya--" Arum ingin menolak karena Joan pasti akan sakit hati jika berkunjung ke Paris.
"Sekalian kau bisa kuliah di sana."
Tiba-tiba Rayden datang menolak dengan lantang.
"Itu tidak akan terjadi, Mah!"
"Kenapa denganmu tiba-tiba datang marah-marah?" tanya selir Barsha heran. Rayden menatap dingin Arum, sangat-sangat dingin dan menakutkan, ia pun dengan kasar menarik Arum berdiri.
"Achh, Mas. Kau kenapa?" rintih Arum. Pinggulnya masih sakit dan sekarang Rayden menariknya paksa.
"Kita pulang sekarang!" bentak Rayden membawa cepat Arum keluar. Barsha bangkit, ia terkejut dengan perubahan emosi Rayden. Sedangkan asisten Braga tersenyum picik melihat Arum kesakitan.
"Acchhh pelan-pelan nariknya, aku lagi hamil, Mas," ringis Arum dipaksa masuk ke dalam mobil. Rayden tetap diam, ia melaju meninggalkan tempat Barsha. Arum bergetar ketakutan melihat laju mobil melesat seperti dulu.
"Mas, jangan ngebut, aku takut kita kecelakaan. Baby kita di dalam perut bisa ketakutan juga," lirih Arum memegang bahu Rayden.
__ADS_1
"Arghh, bisa nggak sih kau diam!" bentak Rayden marah hingga Arum terguncang ketakutan. Arum pun menunduk, perasaannya mulai tidak enak, resah dan gelisah dengan perubahan sikap Rayden.
"Mas, kita mau kemana?" Arum cemas melihat laju mobil bukan ke mansion Edward.