Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
62. Kedinginan


__ADS_3

Kinan sama sekali tidak menduga isi surat itu. Dua matanya beralih ke Wira yang lebih asik diam memakan masakannya ketimbang menatapnya saat ini yang sangat terkejut. Bahkan dua tangannya bergetar hebat memegang surat itu, terasa hatinya terguncang.


"Kontrak Pernikahan? Apa maksud surat ini, Mas?" tanya Kinan dengan suara gemetar dan berdiri begitu kecewa. Dia pikir surat itu berisi kata-kata manis, tapi rupanya kata-kata yang melukai hatinya semakin dalam.


Tertera isi surat kontrak itu bahwa setelah Kinan melahirkan anak di dalam perutnya itu, maka pernikahan ini akan berakhir. Yang artinya Wira sudah yakin untuk menceraikan Kinan.


Ditambah kalimat di bawah sana menusuk paling dalam hatinya. Tertulis, jika Kinan sampai menolak maka harus lakukan aborsi anak di dalam perutnya itu.


"Mas, jawablah! Kenapa kau tega sekali tulis surat begini!" ujar Kinan dengan mata berkaca-kaca dan kepalan tangan.


Kinan terisak. "Aku pikir Mas akan melupakan gadis itu, tapi rupanya kamu lampiaskan emosi itu padaku. Memangnya aku punya salah apa sampai kamu tidak bisa sayang pada ku dan anak kita?!" tambah Kinan menepuk dadanya yang perih dan sakit.


Mendengar ocehan dan isakan gadis yang tengah berbadan dua itu, membuat CEO Es itu berhenti makan. Meletakkan sendok dengan dingin dan menatap masam ke Kinan.


"Salahmu yang salah mencintaiku!" Wira berdiri dari kursi. Ucapannya itu menusuk lagi ke dalam hati Kinan.


"Salah mencintai? Tidak Mas, aku tidak salah mencintaimu, aku sudah benar mencintaimu sampai sekarang, dan di luar sana ada banyak yang menginginkan anak, tapi kenapa kamu tega menyuruhku aborsi! Aku tengah mengandung anakmu, darah dagingmu, dan penerusmu. Kamu kejam sekali, Mas!"


Kinan tidak hentinya mengoceh dan mendesah kesal, ia pun melewati Wira untuk masuk ke dalam kamar. Namun sekilas dengan cepat, Wira menahan lengan rampingnya itu.


"Aku tidak akan biarkan kamu pergi gitu saja dari masalah surat ini. Sekarang pilih salah satu keputusan yang tertera di surat itu, Kinan!" balas Wira membentak.

__ADS_1


Sosok pria lembut dan periang yang awal Kinan bertemu, kini sosok itu tidak ada lagi. Meski begitu, Kinan masih tetap bertahan untuk selalu setia mencintainya walau harus berkali-kali terluka.


Kinan ingat jelas dapat hamil karena Wira saat itu tengah mabuk setelah menghadiri acara reuni teman-temannya. Sehingga kesempatan baginya memadu cinta hingga dapat mengandung anak Wira sekarang.


"Hentikan, Mas! Jangan paksa aku lagi, aku capek bertengkar denganmu. Aku butuh istirahat!" lawan Kinan menghempaskan tangan yang mencengkeramnya itu.


Wira pun lagi menarik tangan Kinan dan dengan tegas berkata, "Kalau kau capek, suruh Papamu mengurus perceraian kita!" ucap Wira tanpa berpikir dua kali lagi. Kinan bisa saja laporkan sikap Wira pada Papanya, tapi karena cinta, dia tidak tega melihat Wira akan disiksa. Ia lebih rela bersama Wira meski harus menerima silih berganti luka yang diberikan suaminya itu.


Kinan teriak bercampur tangisnya. "Mas, aku tidak ingin bercerai, sampai kapan pun aku tidak mau pisah! Aku tidak butuh perpisahan, yang aku butuhkan Mas melirikku dan mencintai anak kita." Air mata itu mengalir deras.


Wira berdecak tidak karuan. "Anak kita? Bagaimana jika anak itu bukan anakku?" Bagaimana jika kau sudah hamil seperti Arum yang hanya memanfaatkan aku saja!" kelakar Wira masih dendam dan benci pada Arum sehingga melampiaskan ke Kinan.


"Usia kandunganku sudah empat bulan, tidak lama lagi kita akan jadi orang tua dan Papa dapat cucu. Penerus perusahaan kelak di masa depan, Mas." Kinan tersenyum lirih dan memeluk tubuh suaminya.


"Mas, sudah cukup ya. Jangan buat aku depresi begini. Hiks...." Kinan terisak semakin erat memeluk Wira. Tiba-tiba Wira berucap singkat dan membuatnya menengadah ke atas, menatap netral sang suami.


"Kau butuh hiburan?" tanya Wira dengan datar.


Senyum Kinan melebar, merasa senang mendengarnya. Berpikir, suaminya itu mungkin akan mengajaknya keluar jalan-jalan.


"Ya, Mas."

__ADS_1


Namun lagi dia harus menelan kepahitan mulut Wira yang kurang ajar itu.


"Bagus, kamu keluarlah jalan sendirian, atau carilah pria lain yang bisa menghiburmu." Entah kenapa Wira malah mencemoohnya.


Kinan mendorong diri lepas dari pelukan itu kemudian marah.


"Mas, kita ke sini untuk jalan-jalan berdua saja, bukan menyuruh ku jalan dengan pria lain! Hargailah sedikit perasaanku ini, Mas." Kinan meraih tangan Wira, menggenggamnya lembut.


Tapi Wira melepaskannya lalu berjalan acuh melewatinya.


"Aku tidak punya waktu menemanimu jalan-jalan," tolak Wira dingin.


"Sekarang kamu putuskan isi surat itu."


Braaak! Wira menutup pintu dengan keras lalu berjalan santai untuk mandi kemudian setelah usai, ia rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Mas!" teriak Kinan mengetuk pintu di depannya yang terkunci dari dalam. Tapi Wira tetap acuh tak acuh dengan teriakan Kinan.


"Mas, aku yakin kamu pasti lagi siap-siap pengen keluar bareng aku. Baiklah, aku tunggu Mas bersiap-siap di sini." Kinan berhenti terisak, duduk manis di sofa dan menunggu Wira keluar dari kamar itu.


Akan tetapi, hari sudah petang, dan tetap saja Wira masih asik di dalam kamarnya dan melupakan Kinan yang sedang masak di dapur. Tinggal lauknya belum masak jadi Kinan duduk di kursi dan menunggu lauk itu serta Wira keluar dari kamar. Terasa angin masuk dan begitu dingin membuat Kinan yang hamil menggigil kedinginan.

__ADS_1


__ADS_2