
Wanita itu terkejut melihat Wira sempoyongan keluar dari kamar dan mendekatinya sangat kacau berantakan.
“Ambillah dan terima kasih sudah berpura-pura selama ini,” lirih Wira memberi amplop berisi uang puluhan juta. Wanita bule itu mengambilnya.
“Ambillah kunci mobil ini juga dan pergilah!” lanjutnya memberi kunci mobilnya. Wanita itu enggan mengambilnya, dia menolak lalu pergi membawa amplop saja. Meninggalkan Wira jatuh bersimpuh di dalam rumah sendirian. Wanita itu pergi menerjang hujan.
“Hahahaha… sekarang semuanya sudah hancur, aku sudah lama melepaskanmu.” Wira menatap foto pernikahannya. Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, mengambil serpihan kaca dan plaster. Wira memperbaikinya, tapi retakan di foto itu masih jelas dilihat. Foto yang pecah seperti pernikahannya sekarang.
“Jangan cintai aku, bencilah padaku. Aku tak ingin jadi beban untukmu, Kinan.” Wira terisak, air matanya berjatuhan. Dia perlahan terkejut tiba-tiba cairan merah menetes ke fotonya.
Wira menyentuh hidung, dan tertawa menyedihkan melihat darah mimisannya keluar lagi.
“Hahaha… bodoh! Harusnya kau aborsi anak itu, tapi kau malah ingin melahirkan anak dari pria yang mau mati ini! Kau bodoh, Kinan!” Wira ingin melempar foto pernikahannya namun dia tidak dapat menahan untuk memeluknya.
“Bencilah, bencilah padaku.” Wira tergeletak di sebelah foto pernikahannya dan melihat tangannya penuh darah. Dia perlahan menutup mata saat mobil Rayden dan Joan meninggalkan rumah itu. Wira tersenyum, membayangkan hidupnya menyedihkan.
Dia punya harta, namun Wira tahu dia hanyalah menantu sampah di rumah Kinan. Suami yang hanya anak angkat dikeluarganya. Wira tak ingin memberi beban untuk Kinan lagi dan malu mendapat cinta Kinan. Maupun malu membalas cinta istrinya. Cukuplah dia menyimpan rahasia luka dan penyakitnya dibalik sifatnya yang dingin selama ini.
“Baby boy … maafkan ayah.“
Salahkah sikapku selama ini?
Dapatkah aku menggenggam sedetik tanganmu, Kinan?
Wira pingsan, mengabaikan satu pesan masuk dari papa Kinan.
“Nak, kapan kalian pulang ke Indonesia?"
…
Perlahan rasa sakit itu kembali muncul di kepalanya, pusing dan nyeri berkelanjutan itu menyiksanya.
Pelan-pelan Wira membuka mata dan melihat semua di depannya begitu silau, cahaya yang berasal dari alat rumah sakit yang sedang menanganinya. Dia pun sekuat tenaga menoleh, melihat seorang Dokter sedang berbincang kepada suster di sebelahnya.
“Penyakit pasien semakin parah, kita membutuhkan persetujuan keluarganya untuk melakukan tindakan operasi, suster.”
__ADS_1
Dia ingin bicara, namun lagi-lagi mulutnya serasa terkunci. Sudah lama dia merasakan gejala penyakitnya itu dan tidak pernah bermaksud untuk dingin pada istrinya selama ini, dia tidak tahu bagaimana mengatakan sejujurnya hal menyakitkan ini.
Awal dia tahu memiliki penyakit setelah dia terbang ke Paris. Saat itu Wira mencari Kamelia di setiap rumah sakit, namun rupanya dia yang menjadi salah satu pasien rumah sakit saat kepalanya berdenyut hebat tiada henti sehingga pingsan tidak sadarkan diri.
Wira sangat terkejut Dokter mengatakan dia mengidap kanker otak.
Namun Wira tidak percaya, dia mengabaikan pesan Dokter. Padahal Dokter bersungguh sungguh agar dia menjalani perawatan segera.
Wira menolak percaya, karena dia hanyalah anak angkat, anak yatim piatu yang dipungut. Biaya rumah sakit terlalu mahal untuknya, dia tidak mau keluarga angkatnya terbebani.
Dia mengira hidupnya tak berharga lagi, tak ada cinta yang perlu dia perjuangkan. Tapi saat dia putus asa, cinta kembali menyapanya di bandara. Mempertemukannya dengan Kinan yang saat itu pulang dari luar negeri.
Dia meneteskan air mata, mengingat senyum Kinan yang sangat indah. Saat itulah, Wira perlahan membuka hati untuknya, namun tidak pernah berniat untuk menikahi wanita cantik itu.
Tapi, karena didesak oleh keluarganya dan Kinan, Wira terima demi membalas budi.
Wira ingat lagi, senyum Kinan. Wanita itu sangat bahagia saat dia mengikatnya dengan cincin pernikahan.
Namun setelah Wira diam-diam kembali mengecek kesehatan, rupanya kanker otaknya semakin ganas menyebar, karena itulah senyum indah istrinya harus disingkirkan.
Wira pikir, biarkan kebencian itu tumbuh agar Kinan bisa cepat melupakannya saat jantungnya tak berdetak lagi.
Jika saja hatinya busuk, Wira bisa saja lari membawa harta ayah mertuanya, tapi dia bukanlah menantu jahat. Wira sejak awal punya pendirian tinggi tidak ingin membuat orang lain menderita. Tak mau ayah mertuanya jatuh bangkrut dan istrinya menjadi miskin.
Sekali lagi, air matanya menetes mengingat sikap kejinya pada Kinan sudah merahasiakan deritanya.
“Maaf Dokter, saya tidak tahu keluarganya ada di mana. Pria ini hanya sendirian dibawa ke sini,” ucap suster itu apa adanya.
“Siapa yang membawanya?”
“Saya juga tidak tahu, Dok."
Wira memejamkan mata kemudian susah payah beranjak duduk dan melepaskan alat oksigen di mulutnya.
“Dokter, pasien sudah sadar!” Tunjuk suster padanya. Dokter itu mendekatinya, ingin menanyakan perihal sakitnya.
__ADS_1
“Tuan, anda mengidap–”
“Saya sudah tahu, Dok.” Wira memutuskannya, membuka jarum infus di tangannya. “Saya mengidap kanker otak stadium tiga,” lirih Wira dengan raut wajah pucat menahan sakit.
Wira turun dari brankar, namun dicegat oleh Dokter dan suster.
“Tuan, anda ingin kemana?”
“Saya harus pulang, Dok.” Wira tetap saja turun dari brankar.
“Anda perlu perawatan, Tuan. Penyakit anda sangatlah serius, anda harus segera dioperasi!” ucap Dokter sekali lagi mencegah Wira yang ingin keluar dari ruang rawatnya.
Wira menunduk. “Operasi?” Kata itu selalu terbayang-bayang jumlah biayanya yang mahal. Di mana dia harus mendapat uang sebanyak itu? Sedangkan dia hanyalah pria yang tidak punya apa-apa dan hanya bergantung pada harta keluarga istrinya.
Wira menatap tajam Dokter, dia sudah muak lalu menolak tegas pada Dokter itu.
“Saya tahu, tapi Dokter jangan memaksa saya. Biarkan saya memilih sendiri keputusan akhir penyakit ini!”
Dokter terkejut pasiennya tidak terlalu peduli pada penyakit itu dan malah pergi begitu saja. Suster yang di sana agak kasihan melihat keteguhan Wira itu.
Malam ini, udara sangat sejuk di dekat dermaga. Terlihat satu pria berdiri di tepi sendirian. Menghadap ke air yang tenang dengan tatapan kosong. Dia menerawang jauh istrinya.
“Apa kau sudah melupakanku di sana?” lirihnya menunduk dan menyentuh dadanya. Terisak diam dan menggenggam ponsel di tangannya. Wira mengetik satu pesan kepada Papa Kinan.
“Papa, kau tidak lama lagi akan mendapat pewaris baru. Ku harap kehadirannya kelak dapat menebus kesalahanku yang tidak bisa mengatur lama perusahaanmu, ku harap menantu barumu dapat lebih memajukan perusahaan.”
Wira sangat berat hati mengetik ucapan selamat tinggal itu, tapi pesan itu dihapusnya lagi, Wira gelisah dan takut penyakit jantung ayah mertuanya akan kambuh setelah membaca pesannya itu.
“Ahhhhhhhhh!” Wira berteriak, mengeluarkan emosinya yang tertahan.
Seketika saja, darah kembali mengalir dari hidungnya. Dia mimisan lagi. Itulah mengapa dia sering pergi meninggalkan Kinan, karena Wira tidak ingin mimisan di depan istrinya.
Wira pergi, berjalan terhuyung-huyung meninggalkan dermaga itu, meninggalkan setumpuk tissu kotor yang berisi bercak darah mimisannya.
Pandangannya tiba-tiba melihat Kinan di depan mata. Wira berjalan ke arah istrinya yang sedang tersenyum, namun saat dia ingin sekali memeluknya, lagi-lagi itu hanyalah halusinasi. Wira jatuh bersimpuh, menangis kembali memikirkan dirinya yang sedang sekarat.
__ADS_1
.....