Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden

Mengandung Anak Untuk Tuan Rayden
88. Apa Salahku


__ADS_3

“Mah, tolong tenangin Joan,” ucap Rayden ke Barsha.


“Kalian tenang saja, Mama akan mengurusnya. Kalian hati-hati di jalan ya.”


“Baik Mah!” ucap Kamelia mencium tangan Barsha.


“Dadah Nenek!!” ucap Arum melambaikan tangan anaknya ke Ibunya itu. Barsha balas melambai dan tersenyum melihat mobil anak-anaknya melaju pergi. Terlihat di dalam mobil, Kamelia duduk di dekat Kinan, tidak lupa bocah itu menghiburnya. Kinan pun dapat tenang, meski luka hatinya tidak dapat lagi sembuh.


Seperti halnya Joan, untuk kedua kalinya dia gagal dalam asmara. Pria itu diam-diam menangis di dalam kamar dan melihat cincin pernikahan Kinan yang dia buka sendiri dari jari Kinan saat bumil cantik itu tertidur. Barsha ingin masuk, tapi rasanya bukan waktu yang pas.


“Selamat malam, Nyonya,” sapa Dokter Maya baru datang dan langsung saja masuk menghampiri Barsha.


“Dokter Maya, aku pikir kau ikut berangkat bersama Arum ke Indonesia,” kaget Barsha.


“Maaf Nyonya, tadi ada macet jadi baru ke sini. Apakah Tuan Rayden dan Arum sudah berangkat?” tanya Dokter Maya.


“Barusan pergi,” jawab Barsha jelas.


“Aduh, kalau begitu aku harus menyusul nih.” Dokter Maya ingin pergi tapi Barsha mencegatnya.


“Sebentar,”


“Ada apa, Nyonya?” tanya Dokter Maya.


Saat Barsha ingin menjawab, Dokter Maya langsung kaget kaget mendengar Joan di sana sedang mengamuk.


'Ih, apalagi yang terjadi dengan bunglon ini?' batin Dokter Maya heran. Dia pun bertanya kepada Barsha. Barsha pun menjelaskan kalau Joan gagal lagi dalam urusan percintaannya. Dokter Maya dalam hati tertawa mengetahui pria itu gagal menjadi pebinor.


“Oh begitu, saya ikut sedih mendengarkan Nyonya.” Dokter Maya menoleh ke pintu.

__ADS_1


“Aku pergi dulu ya Nyonya,” ucap Dokter Maya tidak mau lama-lama. Tapi lagi-lagi dia ditahan.


"Tunggu bentar,"


“Ada apa lagi, Nyonya?” tanya Dokter Maya.


“Aku mau kamu masuk menghiburnya dulu,”


DEg. Dokter Maya melongo diberi perintah.


“Tapi-”


“Dokter Maya, tolong bantu aku.” Barsha memohon. Dia jujur ​​tidak bisa menenangkan Joan, karena pria itu kalau sedih terlalu manja. Alias ​​akan berubah seperti anak kecil yang menangis, beda seperti Rayden yang kalau sedih hanya memendamnya saja.


Karena tidak tega wanita paruh baya itu memohon, terpaksa Dokter Maya setuju. Barsha memeluk Dokter Maya lalu memberi jempol, dia segera pergi menemui Arleya, Barsha ingin bicada soal Veldemort.


Ternyata, yang dikatakan Barsha memang benar. Ketika Dokter Maya membuka pintu, dia tidak menguasai pria itu punya sisi lembek juga.


“Kamu, siapa suruh masuk ke sini? Keluarlah!” Usir Joan Marah.


“Nyonya Barsha, Tuan.” Dokter Maya tersenyum kecut.


“Ck, keluarlah!” usir Joan lagi dan melotot.


“Mengapa anda menyuruh saya keluar?” Dokter Maya belum juga melakukan apa-apa tapi sudah diusir duluan.


“Aku tidak menyukaimu, aku membencimu! Gara-gara kamu, hidup hancur!” ungkap Joan menunjuknya.


'Idih, dasar bunglon aneh. Aku belum pernah ngapa-ngapain dia tapi sudah dituduh penghancur hidupnya.' Batin Dokter Maya jengkel.

__ADS_1


“Jangan main benci-bencian dulu, nanti Tuan Joan bisa jatuh cinta loh sama aku,” ucap Dokter Maya memungut bantal di lantai.


"Hei!" ujar Joan. Dokter Maya menoleh dan sontak satu bantal mendarat di wajahnya. PAAK!


Dokter Maya sudah tidak tahan melihat tingkah pria menyebalkan yang satu ini. Dia pun meremas bantal itu lalu mengoceh panjang.


“Tuan Joan! Kenapa sih denganmu? Apa salahku sampai kau lampiaskan padaku? Aku ini kesal sekali padanya tau! Aku masuk ke sini untuk menghiburmu, bukan membuatku emosi begini! Kau ini pria tulen, tapi bertingkah sok anak kecil! Dasar bunglon tua!” cecar Dokter Maya melempar bola tepat ke wajah Joan. PAAK!


“Hahahaha… makan tuh bantal!” tawa Dokter Maya Meledeknya. Joan mememicingkan mata, membuat tawa dokter Maya menciut.


'Eh busyet, tatapan apa tuh?' batin Dokter Maya mundur.


“Huh baiklah, aku akan keluar, sepertinya aku sulit jadi Doktermu. Tuan Rayden tampaknya lebih mudah dipahami daripada Anda,” ucap Dokter Maya berbalik, namun lagi-lagi bantal menghantam kepalanya.


“Ahh! Mau kamu apa sih! kesal Dokter Maya berbalik, namun seketika dia mundur saat tubuh tinggi berdiri di hadapannya. Dokter Maya melihat dari bawah ke atas. Matanya bertatap langsung dengan mata Joan sehingga wanita itu menelan ludah dengan susah payah.


“Hahaha, rupanya sudah tenang ya. Kalau begitu, saya pergi dulu Tuan Joan,” ucap Dokter Maya agak takut, dia segera berbalik namun Joan segera mencekal tangan kanan dokter Maya.


“Aghh, kenapa kau menarik ku? Lepaskan!” ujar Dokter Maya gemetar.


Joan menatap dingin lalu mengangkat dagu Dokter Maya.


“Kau sudah menggangguku, jadi sekarang aku tidak akan mengampunimu!” ucap Joan tegas. Seluruh tubuh Dokter Maya bergetar hebat, seakan mati rasa, lemas tak bertulang mendapat ucapan itu.


“Maaf Tuan Joan, saya lagi buru-buru untuk menyusul Tuan Rayden, saya harap Tuan Joan melupakan ini saja.” Dokter Maya tersenyum kecut.


Joan menggertak marah, kesal sekali dibilang bunglon tua. Memangnya kalau sudah tua, rudalnya di bawah sana tidak berfungsi untuk menembak? Dan lagi umurnya masih 28 tahun.


“Aduh, kok perasaanku nggak enak ya?” gumam Arum di dalam pesawat memikirkan Dokter Maya yang tertinggal.

__ADS_1


....


__ADS_2