Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Kue Untuk Lucy, tapi Untuk Vivian


__ADS_3

"Vivian sayang, kau kenapa?" tanya nenek Amel. Ia melihat Vivian banyak melamun di dalam mobil tidak seperti biasanya.


"Ah, tidak apa-apa Nek. Aku hanya kepikiran Anderson." Akhir-akhir ini ia merasa Anderson menyembunyikan sesuatu. Tapi entahlah, bertanya pada Daniel, pria itu pasti akan menutupinya, memangnya siapa bosnya.


Nenek Amel tersenyum hambar. Hatinya menangis, namun air mata ia tahan. "Kau tidak ada masalah dengan Anderson. Maafkanlah Anderson jika dia melakukan kesalahan."


Nenek Amel menggenggam tangan Vivian. "Bisakah kau tidak akan meninggalkan Anderson apapun kesalahannya?"


Sejujurnya dalam hatinya ingin berkata ia, tapi ia sudah pernah di khianati. Ia tidak ingin terbelenggu dalam cinta pengkhianatan. "Nek, aku bisa tidak meninggalkan Anderason jika keadaannya memang mendukung ku, tapi jika keadaannya tidak, aku tidak bisa. Aku sudah pernah merasa di khianati."


Bahkan aku pernah mati dalam pengkhianatan itu batin Vivian.


"Nenek paham sayang." Nenek Amel mengelus pipi Vivian. Ia kembali melihat lurus ke depan. Sedangkan pengawal yang menjadi sopirnya hanya bisa melihat wajah nenek Amel di balik spion mobil itu.


Tak terasa perjalanan yang menempuh waktu setengah jam itu telah sampai. Mereka berada di butik ternama dan sudah langganan nenek Amel. Nenek Amel pun masuk di ekori Vivian.


Nenek Amel mencarikan sebuah dress dan gaun, heels dan tas bermerek. Dia memanjakan menantu satu-satunya itu. Dia juga membeli beberap dress untuk di pakai.

__ADS_1


"Nek, dasi ini bagus untuk Anderson, bagaimana?" tanya Vivian meminta pendapat. Ia memilih dasi berwarna navy dengan garis miring berwarna putih.


Nenek Amel mengangguk dan tersenyum. "Pilihan mu pasti bagus Vivian. Kau sudah mengerti selera yang cocok untuk Anderson."


"Iya aku ingin menghadiahkannya."


Nenek Amel mengatur pembayarannya, sedangkan Vivian ia melihat ke arah seberang jalan dan di sana ia seperti melihat Anderson dan Daniel keluar dari toko kue.


Perlahan kakinya melangkah ke arah jendela kaca. Kedua netranya melihat dengan jelas siapa yang berada di seberang itu. Ia tersenyum, mungkinkah kue itu di hadiahkan untuknya.


"Anderson kau ada di mana?"


"Aku berada di kan ...."


"Aku melihat mu."


Perkataan Anderson terpotong ketika Vivian mengatakan sedang melihatnya. Sejenak Anderson terdiam. Ia langsung melihat sekelilingnya dan dari seberang sana ia melihat Vivian. Ia mematikan ponselnya, dadanya berdebar. Hampir saja ia ketahuan berbohong.

__ADS_1


"Vivi." Anderson menoleh ke kanan dan ke kiri, ia langsung menyebrang dan berlari menghampiri Vivian.


"Vivian kau ada di sini? Bersama siapa?" tanya Anderson menodong pertanyaan. Begitu nenek Amel membalikkan tubuhnya Anderson langsung terdiam. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Vivian.


"Aku bersama nenek." Vivian melihat sebuah kue, ia mengambil kue itu. "Apa ini untuk ku?" tanya Vivian.


Anderson mengangguk tanpa menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan kalau kue itu untuk Lucy. Wanita itu tadi merengek ingin memakan kue cokelat, jadinya ia harus membeli kue cokelat itu sendiri.


Sedangkan nenek Amel memalingkan wajahnya, ia semakin tidak tega melihat kebohongan cucunya itu. Ia menghampiri Vivian. "Sayang kau ingin kue? Kenapa tidak bilang? Nenek bisa membelikannya."


Vivian tersenyum, sebenarnya ia tidak ingin kue. Tetapi begitu melihat Anderason membeli kue, sudah pasti kue itu untuknya. "Tidak Nek, aku tidak ingin kue, tapi begitu Anderson membeli kue, pasti kue itu untuk ku."


Hati nenek Amel semakin bergemuruh, kemarahannya semakin meluap-luap. Namun ia menahannya dan tidak ingin menampar wajah Anderson di depan umum.


"Anderson, terima kasih."


"Iya, kau pulanglah dulu. Aku pulang malam ini, tunggu aku pulang." Anderson menyelinapkan anak rambut Vivian ke belakang kupingnya. Kemudian mengelus pipinya, wajahnya terlihat manis baginya.

__ADS_1


__ADS_2