Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Jangan Pikirkan Orang Lain


__ADS_3

Anderson mengerutkan keningnya ketika melihat Leon berada di ruang tamu sambil menonton Tv. Bocah itu tidak menyadari kehadirannya dan malah asik dengan kartun yang dia tonton.


"Anderson kau sudah pulang?" tanya Nenek Amel. Dia muncul di belakang Anderson dan membuat pria itu terkejut.


"Emm Nenek, dia kenapa di sini? Mana Vivian?" tanya Anderson. Jika Leon ada di sini sudah pasti Elina juga datang. Ia talut membuat Vivian dan Abigail tertekan dengan kehadiran mereka.


"Nenek akan menceritakannya pada mu. Vivian dan Abigail berada di taman samping."


Anderson mengangguk, dia mengekori nenek Amel.


"Elina datang kesini dan menyerahkan Leon pada mu dan Vivian untuk di rawat."


"Apa?"


"Katanya dia mau pergi jauh."

__ADS_1


"Nek, ini pasti akal-akalannya saja," ucap Anderson. Ia tidak mau teledor lagi dan membuat Vivian salah paham. "Kenapa Nenek menerimanya?"


"Aku sudah memiliki Abigail, biarkan saja Leon di rawat oleh saudara Elina. Aku tidak percaya dia pergi jauh sebelum aku memastikannya. Awas saja kalau dia berulah lagi."


"Anderson, aku tidak menyuruh mu menerima Leon. Tapi kasihan jika kita membiarkannya saja, siapa tau sifatnya tidak seperti ibunya. Masalah itu, kau yang bisa mendidiknya dengan baik. Begini saja, kau taruh Leon di rumah mu yang lain."


"Nenek, aku akan berbicara dengan Vivian." Anderson bangkit, ia melirik Leon dan berlalu menuju taman samping.


....


"Abi sayang, kau kamar dulu ya. Mommy dan Daddy ingin berbicara berdua."


"Iya Mom."


"Apa? Apa ada masalah?"

__ADS_1


Anderson mendekati Vivian dan duduk berjongkok. Ia meraih kedua tangan Vivian dan menggenggamnya. "Vivian maafkan aku, aku tidak mencegah Elina dan Lein kesini."


"Aku merasa bersalah pada mu. Tolong maafkan aku."


"Aku tidak tau kalau Elina datang kesini dan membawa Leon. Aku akan membuat Leon berada jauh di antara kita." Anderson terlihat khawatir. Ia takut hubungannya semakin merenggang.


"Vivian aku sangat mencintai mu, tolong maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji pada mu." Anderson mencium kedua tangan Vivian. "Vivian aku ayah yang buruk dan suami yang buruk, tolong berikan aku kesempatan, aku mohon. Aku ingin membuat mu dan Abigail bahagia di sisa hidup ku."


Vivian mengangguk, ia sudah memikirkannya dan akan memberikan kesempatan. "Tapi sepertinya tidak akan mudah, kau tidak tau sifat Abigail. Dia tidak mudah memafkan."


"Aku akan berusaha membuat Abi menerima ku lagi." Anderson menaruh tangan Vivian di pipinya. "Aku merindukan mu Vi, aku sangat merindukan mu," ucap Anderson dengan nada hangat, tanpa terasa air matanya mengalir. Betapa ia terasa tercekik setiap harinya saat Vivian menghilang darinya.


"Aku akan membuat mu mencintai ku. Aku tau kau menerima ku karena mempertimbangkan Abigail. Aku paham Vi, aku sudah menorehkan luka yang tak mungkin aku sembuhkan dalam sekejap. Aku akan berusaha menjadi sosok suami dan ayah yang di percayai oleh kalian."


"Masalah Leon, kau bisa mempertimbangkannya. Aku bisa membuat Leon tidak berada di samping kita. Pikirkan Abigail dan dirimu, bukan oranf lain."

__ADS_1


Vivian mengangguk dan tersenyum. Anderson mendekati wajah Vivian dan mengecup lembut bibirnya. Ia menekan kepala Vivian hingga cukup lama dia mencium Vivian.


__ADS_2