
"Nyonya Tua, Tuan Anderson, di luar ada anaknya nyonya Elina yang ingin bertemu dengan anda."
Nenek Amelia menghentikan makannya, sedangkan Anderson ia malah mengacuhkannya.
"Bawa Leo masuk." Titah nenek Amel.
Selang beberapa saat seorang pelayan mengantarkan Leon. Bocah kecil itu tersenyum dan berlari menghampiri nenek Amel. "Nenek," sapa Leon.
"Maknlah dulu, baru nanti kita bicara," ucap nenek Amel.
Seorang pelayan yang menunggu di ruang makan dengan sigap membantu Leon menaiki kursi dan mengambilkan makanan untuknya.
"Nenek, Leon merindukan nenek," ucap Leon.
Sekalipun nenek Amel tidak suka, tapi ia harus menghagai anak kecil di depannya. Jika memikirkan kesalahan ibunya, ingin sekali ia mengurungkan niatnya untuk bersikap baik.
"Kenapa kau datang kesini Leon?" tanya nenek Amel. Firasatnya mengatkan kalau Elina menyuruh Leo menemuinya.
Emm
__ADS_1
"Leo hanya rindu saja pada nenek," ucap Leon. Dia melirik Anderson yang sama sekali tak melihat ke arahnya seperti tidak tertarik padanya. "Om Anderson."
"Leon kau tidak suruh oleh ibu mu kan?"
"Tidak," jawab Leon dengan jujur. Ia memang ingin menemui mereka. "Apa nenek merasa risih pada Leon?"
"Tidak, hanya saja. Kalau ibu mu menyuruh sesuatu. Kau tidak boleh mengikutinya dan kau bisa menceritakan pada nenek dan Anderson. Sebagai imbalannya kau boleh menemui nenek dan Anderson."
Leon mengangguk dengan antusias. Ia akan melakukan apa yang di suruh nenek Amel. "Baik Nek."
"Nek, besok pagi-pagi aku harus ke luar kota. Mungkin membutuhkan waktu beberapa hari."
.....
Perjalana dari London ke Edinburg hanya membutuhkan waktu tujuh jam dengan tempuh perjalan darat. Kini Anderson tiba pada petang hari, ia menginap di salah satu hotel. Rasa lelahnya membuat tidur lebih awal. Besok pagi ia harus meninjau langsung pembuatan Mall, Wisata anak dan sekolah anak-anak sebagai investor terbesarnya.
"Tuan." Daniel membangunkan Anderson. Pria itu menyipitkan kedua matanya dan beranjak turun dari ranjangnya.
"Tuan hari ini kita akan meninjau pembuatan Mall dulu. Besok pagi kita akan meninjau pembuatan wisatanya setelah itu baru kita melihat sekolahnya Tuan."
__ADS_1
"Kau tau kan? Aku tidak suka mengulur waktu," ucap Anderson. Ia tidak ingin berlama-lama di Edinburg.
"Hah." Anderson mendesah. Ia menurunkan kaca mobilnya dan melihat ke arah luar. Beberapa mobil pun melaju kencang melewati mobil yang di tumoanginya.
Dari jauh, ia melihat seorang anak perempuan. Kedua rambutnya di ikat kepang. Anak itu berdiri di pinggir jalan dan tanpa sadar melihat ke arahnya.
Anderason tersenyum dan anak itu pun tersenyum. Saat mobil Anderson mulai menjauh tiba-tiba satu mobil berhenti di depan anak perempuan itu.
"Abi, maafkan Mommy sayang. Mommy telat menjemput mu." Sesal Vivian. Dia membantu Abigail masuk ke dalam mobilnya.
Anderson mengerutkan keningnya saat melihat bayangan seorang wanita. "Vivian."
"Berhenti! Berhenti cepat!" Teriak Anderson. Daniel mencari celah untuk meminggirkan mobilnya ke tepi. Saat mobil itu berhenti di tepi, Anderson keluar dengan tergesa-gesa dan melihat ke arah tadi.
"Vivian ..... Vivian ... Vivian .... " Anderson berlari ke arah bayangan mobil tadi. Siapa duga mobil itu telah menghilang dan melaju kencang melewatinya.
"Tuan ... Tuan ..." Daniel berlari menghampiri bosnya itu.
"Aku tadi melihat Vivian. Aku yakin itu dia."
__ADS_1