Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Surat


__ADS_3

"Leon?" Seorang wanita langsung berlari menghampiri Leon.


Daniel memberikan Leon pada Elina begitu saja. "Lain kali anda harus menjaganya dengan baik dan jangan membuat tuan kerepotan," ucap Daniel dengan nada dingin. Kedua matanya bagaikan panah es yang ingin menusuk ke arah Leon.


"Maafkan aku mom," ucap Leon. Bocah itu menunduk ketakutan.


"Daniel kau tidak ingin masuk?" tawar Elina. Siapa tau ia bisa mengobrol banyak bersama Daniel.


Sudut bibir Daniel terangkat ke atas. "Tidak perlu," ucapnya dengan nada dingin dan menusuk. Daniel merapikan jasnya yang sedikit lusuh karena menggendong Leon.


Elina menurunkan Leon dengan kasar dan menatap tajam. Dia berkacak pinggang pada anak berusia lima tahun itu. "Leon, apa kau bisa saja menjadi anak yang berguna? Apa kau bisa seperti ayah mu? Dengar Leon, kalau kau ingin memiliki seorang ayah. Kau harus membuat Anderson menyayangi mu."


Leon menunduk dan memainkan ibu jarinya. Dengan wajah kusut dan lemas dia duduk di atas batu di dekat kolam. Dia menunduk lekat dan menahan air matanya.


"Aku akan bekerja keras Mom agar di akui oleh Daddy." gumamnya.


Di tempat lain.


Di ufuk barat warna langit memerah, para burung pun telah kembali ke sarangnya. Langit sore di iringi dengan angin sejuk membuat seorang wanita tidur di samping putri kecilnya dengan beralas rumput hijau dan indah.


"Sayang kau pasti lelah, bagaimana? Kau suka main hari ini?" tanya Vivian.


Dia tersenyum melihat senyuman lebar putrinya itu. Wajah dan senyumannya mengingatkannya pada seseorang. Siapa sangka ia memiliki seorang anak, gadis kecil yang sangat manis dan imut. Gadis itu bagaikan rembulan untuknya, hati yang sakit dan kecewa langsung sirna. Ia tidak menyangka bisa memiliki bocah imut, obat penawar di hatinya.


Kini mereka kelelahan memainkan gelembung di waktu sore. Setiap waktu terasa indah baginya. Dalam hidup ini, tidak ada penyesalan di hatinya.


"Abi sayang ayo masuk, sebentar lagi petang."


Bocah menggemaskan itu menggenggam tangan ibunya dan mengayunkannya sambil melangkah.

__ADS_1


Abigail Floretta di panggil Abi, bocah menggemaskan yang lahir pada saat musim dingin. Wajahnya sama persis dengan Anderson dan merupakan sulung Vivian dengan Anderson.


Tok


Tok


"Sayang kamu ke kamar dulu, nanti mommy menyusul." Abigail mengangguk patuh. Anak kecil itu berlari menaiki anak tangga.


Vivian pun membuka pintu rumahnya dan melihat seorang pelayan yang bekerja di kediaman ayahnya. Dia menggunakan topi dan pakaian sederhana berwarna hitam.


"Nona." Sapanya.


"Masuklah," Ajak Vivian.


Wanita yang tak beda jauh dengan umurnya pun masuk. Dia membuka sebuah koper milik tas kerja. Penyamaran yang sangat baik, bahkan selama ini dia menjadi pelayan pengantar surat antara Daddy Elmar dan Vivian. Demi menjaga keamanan putrinya, Daddy Elmar menghubungi Vivian lewat tulisan surat dan memberikannya pada pelayan kediamannya untuk di antar ke Vivian. Tidak akan ada yang curiga sekaligus Anderson. Pria itu sangat tak menyadari, pelayan yang di kirim setiap bulannya pasti di sangka pulang ke kampung halamannya.


"Waw, Daddy memberikan dua surat. Pasti banyak hal yang Daddy bahas," ucapnya. "Aku akan membuatkan teh untuk mu."


Sejak meninggalkan London, Vivian hidup sendiri tanpa pelayan dan merawat anaknya sendiri. Hanya pada saat Abigail kecil Milea membantu merawatnya, tapi setelah berumur 1 tahun. Vivian menyuruh Milea kembali ke kediaman ayahnya.


"Tidak perlu Nona, sebaiknya Nona membaca surat itu. Biar saya saja yang membuatnya sendiri. Em Nona, di mana Nona Abi?" tanya pelayan Wanita bernama Milea.


"Ada di atas, katanya mau mandi. Aku lupa harus memandikannya."


"Tidak perlu Nona, biar saya saja yang memandikan Nona Abi."


"Terima kasih Milea," ucap Vivian dengan tulus.


Vivian menuju kamarnya, ia membuka satu surat. Dia tersenyum. Surat itu berisi tentang curhatan ayahnya. Ayahnya banyak cerita tentang kesehariannya dan menjadi satu halaman. "Di lihat dari tulisannya sebanyak ini, Daddy pasti terlihat cerewet."

__ADS_1


Viviam membuka dua surat berikutnya dan surat itu membahas tentang Anderson yang masih menanyakan keberadaannya sekaligus nenek Amel.


Vivian mengambil sebuah kertas. Dia mengambil kertas itu dan menuliskannya. Keadaannya dan tentu saja keadaan Abigail. Dia juga menitip sebuah salam untuk nenek Amel.


Beberapa hari kemudian.


Daddy Elmar menutup surat itu dan kemudian membakaranya. Ia mengambil jasnya dan menuju ke mansion Anderson.


Tap


Tap


Seorang pengawal tengah berlari tergesa-gesa melaporkan kedatangan seseorang. "Nyonya Tua, di luar ada tuan Elmar ingin menemuinya anda."


Wajah nenek Amel langsung berubah ceria. Ia menutup majalahnya dan bergegas menemui Daddy Elmar di ruang utama.


"Tuan Elmar." Sapa nenek Amel.


Daddy Elmar tersenyum dan berdiri dan memberikan hormat. Ia membungkukkan sedikit badannya.


"Silahkan duduk." Nenek Amel mempersilahkan Daddy Elmar duduk kembali. "Apa tentang Vivian?"


"Iya, dia menyampaikan salam untuk Nyonya. Keadaan Vivian baik-baik saja."


"Syukurlah." Nenek Amel merasa lega. Vivian dengan sendirinya meminta ayahnya untuk menemuinya.


"Daddy." Anderson menatap tak percaya ayah mertuanya datang ke mansionnya. "Daddy apa ada sesuatu yang terjadi pada Vivian."


"Tidak ada!" Jawab Daddy Elmar dengan ketus. "Vivian hanya menanyakan nenek mu bukan dirimu."

__ADS_1


__ADS_2