
Beberapa kali Vivian menarik nafas dalamnya dan menghembuskannya. Semakin ia melupakan kejadian itu, semakin ia teringat. Ia benci perasaan ini, seharusnya ia bisa menjaga batas hatinya hingga hatinya tidak akan patah lagi.
"Aku membenci perasaan ini."
Vivian aku mengutuk mu, kau tidak akan pernah bahagia. Kebahagian yang kau miliki seharusnya milik Alena.
"Aku sudah menerimanya." Vivian teringat perkataan ibu tirinya itu. Ia tidak ingin mengingatnya, tapi pikiran itu datang begitu saja.
"Vivian, Vivian, argh ....."
Waktu terus mengalir, Vivian berdiri di balkon dan sepanjang malam ia tidak bisa tidur nyenyak. Hingga ponselnya berdering dan membuatnya menoleh ke arah meja bundar itu.
Vivian mengambilnya dan melihat nama Daddynya.
"Iya Dad,"
"Vivian, Anderson sudah sadar," ucap Daddy Elmar. Setelah Anderson sadar, ia langsung menghubungi Vivian agar putrinya datang untuk melihatnya.
__ADS_1
"Vivi akan kesana." Vivian meremas ponselnya. Ia harus menyiapkan hatinya lebih dulu sebelum kesana.
Sementara itu, Daddy Elmar menghampiri Anderson. Sebelumnya ia menghubungi Dokter untuk memeriksa Anderson. Kini Dokter pun telah selesai memeriksanya.
Anderson melihat sekelilingnya hanya ada Daddy Elmar, mertuanya. Ia tidak melihat Vivian dan Neneknya itu. "Dimana Vivian Dad? Bagaimana kabarnya Vivian?" tanya Anderson. Ia hendak beranjak, namun Daddy Elmar menghentikannya.
"Berbaringlah dulu, tubuh mu masih lemah. Aku menyuruh Vivian pulang dan sudah menghubunginya. Sebentar lagi dia akan datang kesini," ucap Daddy Elmar. Sebenarnya hatinya tidak tahan melihat keadaan Anderson, tapi sebagai seorang ayah hati dan pikirannya terusik dengan perbuatan Anderson.
"Daddy aku bisa menjelaskan semuanya."
Daddy Elmar menghela nafas dalam. "Aku memang menunggu penjelasan mu."
Daddy Elmar mengerti, namun hati tak akan bisa di bohongi. "Kau masih ragu dengan rumah tangga mu dan putri ku. Jadi aku tidak akan menghentikan keputusan Vivian. Kebohongan yang kau lakukan membuat hati Vivian terluka yang kedua kalinya."
Dada Anderson terasa panas. Tubuhnya langsung panas dingin. "Dad, aku akan berbicara dengan Vivian."
"Yah bicaralah, tapi aku mohon sebagai seorang ayah jangan memaksa apa yang putri ku tidak inginkan. Aku keluar dulu, kau beristirahatlah."
__ADS_1
Daddy Elmar pun keluar, hatinya terasa perih dua kali lipat. Sebelah tangannya mengepal dengan kuat dengan meninju tembok itu dan kepalanya ia sandarkan pada tangan yang terkepal itu. Sebagai seorang ayah ia gagal membahagiakan putrinya. Jika tidak melihat keadaan Anderson, sudah pasti ia membunuhnya dengan tangannya. "Sayang aku gagal." Air matanya terjatuh, kebahagian yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya ia tidak bisa menjalankannya sebagai seorang ayah.
"Bagaimana keadaan Anderson?" Daddy Elmar yang sedang menangis sontak menoleh. Ia melihat seorang wanita di atas kursi roda dengan seorang suster di belakangnya.
"Dia sudah sadar, kau bisa menjenguknya." Daddy Elmar pun berbalik pergi.
Elina pun masuk dengan di dorong oleh suster tadi, ia sangat khawatir pada keadaan Anderson. Setelah sampai di hadapan Anderson, suster itu pun pergi.
"Anderson bagaimana keadaan mu? Tangan mu pasti sakit kan? Aku, aku minta maaf, ini semua salah ku melibatkan mu dan orang terdekat mu. Aku akan minta maaf pada istri mu dan nenek Amel." Elina menangis tersedu-sedu, ia merasa bersalah karena menyebabkan Anderson terluka.
"Ini bukan salah mu, ini sudah keinginan ku. Aku tidak bisa melihat wanita hamil di siksa. Apa kandungan mu baik-baik saja?"
"Iya dia baik-baik saja, ayahnya kuat. Jadi pasti dia akan tumbuh dengan kuat. Terima kasih Anderson." Elina menggenggam tangan Anderson dan tersenyum hangat.
"Ehem ....."
Seorang wanita berderhem membuat Anderson langsung menarik tangannya. Ia sangat gugup melihat Vivian dan neneknya yang berada di depannya tak jauh darinya. Ia tidak menyadari dengan kehadiran kedua orang itu.
__ADS_1
"Jadi kau sudah menjadi Daddnya?"