Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Daddy Sangat Jahat


__ADS_3

Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Separuh jendela mobil itu terbuka. Kedua mata elangnya menatap sebuah bangunan rumah yang tampak damai dan tenang.


Selang beberapa seorang anak kecil keluar dari rumah itu. Anak kecil itu berlari ke arah gerbang dan seorang wanita yang berkacak pinggang sambil menggunakan celemek warna pink dan ia meneriaki nama anaknya.


"Abigail Floretta!"


Anderson tersenyum, ia mengusap air matanya. Ia melihat wajah putrinya sangat dekat dan berdiri di gerbang pintu.


Vivian berlari menghampiri putrinya. "Sayang jangan lari seperti itu."


"Mommy Abi ingin menunggu Kakek di sini."


Vivian tersenyum, ia tau betapa putrinya sangat merindukan sang kakek. "Kakek pasti senang kalau aku menyambutnya. Yah, baiklah Abigail Floretta, Abi dan Eta Mommy pasti tidak bisa menghalangi mu. Lakukan semau mu, tapi jangan membukakan gerbang pada siapa pun. Oke, Mommy mau memasak dulu dan memanggang kue."


"Oke."

__ADS_1


Vivian pun melenggang pergi meninggalkan putrinya di depan gerbang. Bocah kecil itu duduk di ayunan di taman.


Anderson turun dari mobilnya dan mendekat ke arah gerbang. Abigail pun turun dari ayunannya dan menuju ke arah gerbang.


"Om cari siapa?" tanya Abigail. Ia mengernyit mengingat wajah laki-laki dewasa di depannya. "Sepertinya aku pernah melihat wajahnya? Tapi dimana ya?" gumam Abigail.


Anderson berjongkok dan tersenyum. Ia memandang wajah bocah perempuan di depannya. "Kau anak wanita itu?"


"Wanita tadi?" tanya Anderson.


"Dia ibu ku? Om cari siapa?" tanya Abigail menatap penuh curiga. Abigail menyipitkan kedua matanya.


Anderson semakin tertawa. "Lalu ayah mu di mana?"


Abigail memainkan bibirnya, miring ke kanan dan ke kira. Jari telunjuknya mengetuk pipi dan kedua matanya melirik ke atas seperti berpikir keras. "Entahlah, aku tidak tau. Mommy bilang Daddy pergi ke tempat yang jauh. Aku tidak menanyakannya lagi pada Mommy. Aku pernah bertanya, kemana Daddy? Mommy sedih, awas saja kalau Daddy mengganggu Mommy. Aku tidak akan tinggal diam." Abigail berkacak pinggang. Kedua matanya seakan ingin balas dendam. "Awas saja, Mommy sedih pasti gara-gara Daddy. Aku akan memukulnya. Huh,"

__ADS_1


Glek


"Kenapa aku merasa mendapatkan ibu harimau dan anak singa?" gumam Anderson. Ibunya saja tak bisa ia dekati apalagi anaknya.


"Bagaimana kalau Daddy mu merindukan mu?"


"Rindu? Kalau rindu seharusnya mancari Mommy dan tidak membuat Mommy sedih. Gara-gara Daddy Mommy sedih. Aku tidak mau punya Daddy seperti itu."


"Apa?!" Anderson menganga dengan lebar. Bagaimana tidak? Sebelum dia mengakui putrinya ia sudah lebih dulu tidak mengakuinya?


"Apa Mommy mu yang mengajari mu?"


"Tidak!" tegas Abigail. "Aku sudah dewasa, jadi aku sudah mengerti kalau Daddy sangat jahat dan buat Mommy bersedih. Om ngapain masih di sini? Om mau mencari orang ya?"


Anderson mengangguk dan menggeleng.

__ADS_1


"Om ini waras apa tidak? Mengangguk dan meggeleng?" Abigail memonyongkan bibirnya. Lama-lama ia merasa aneh dan berpikir kalau pria di depannya adalah orang gila.


"Mommy ada orang gila ..." Abigail berteriak sambil berlari masuk ke dalam.


__ADS_2