
Vivian menyenggol dengan sikunya tangan pria yang memegang pistol itu hingga pistol itu jatuh ke lantai. Ia dengan sigap mengambilnya dan menyodongkannya ke arah Dixon.
Semua orang tertuju ke arah Vivian, terutama Dixon. Ia cukup kagum dengan wanita kuat seperti Vivian.
"Kau sangat menganggumkan. Seandainya kau menikah dengan ku, kau akan menjadi wanita yang paling bahagia." Dixon melangkah sedangkan Vivian memundurkan langkahnya.
Dengan cepat Anderson berlari dan menendang tubuh samping Dixon. Dixon jatuh tersungkur ke lantai. Anderson pun dengan cepat mengambil pistol di tangan Vivian dan menyodongkan ke arahnya.
Dixon mengepalkan tangannya, tidak semudah itu ia kalah pada Anderson. Ia berdiri dan mengambil pistolnya itu. "Aku mati, kau juga harus mati," ucap Dixon dengan nada penekanan.
Deg
Elina berlari, dia menghadang Anderson. "Hentikan Dixon!!! Hentikan kegilaan mu. Anderson akan mengampuni mu, jadi pergilah. Aku tidak akan ikut dengan mu."
Nyut
Dixon merasakan sakit yang amat dalam. Dia menatap perut buncit Elina. "Heh, semudah itu." Dixon tersenyum sinis.
Vivian yang melihat sepasang insan itu mengepalkan kedua tangannya. Melihat mereka yang rela melakukan demi cinta, ia merasa menjadi orang ketiga.
__ADS_1
"Anderson, lihatlah istri mu."
Anderson menoleh ke arah Vivian, kedua netranya melihat sebuah api yang membara. Anderson memegang dadanya yang terasa sesak, langkahnya memundur selangkah. Bagaikan belati barap api yang keluar dari belakang Vivian dan menusuk dadanya.
"Anderson." Elina dengan sigap menahan tubuh Anderson. "Kau tidak apa-apa?" tanya Elina khawatir. Ia menoleh ke arah pandangan Anderson yang lurus ke depan dengan mengandung kesedihan.
Kini ia mengerti tatapan itu tertuju pada sosok wanita. Hatinya berteriak kesakitan. "Hentikan hal gila ini Dixon!" teriaknya.
"Kalau kau ingin membunuh ku, bunuh saja aku agar semuanya selesai." Teriaknya lagi.
Dor
Satu peluru meluncur ke atas membuat peringatan semua orang berhenti. "Baiklah, kau ingin mati dengan kekasih mu itu kan?" Perlahan tangannya menarik pistol itu dan satu tembakan meleset tepat di tangan Anderson. Ya, Anderson menolong Elina dengan mendoringnya ke semping dan Elina jatuh ke lantai.
"Anderson!" pekik Elina.
Vivian sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Bagaikan patung ia hanya menyaksikan cinta segitiga itu. Anderson merasakan tangan kirinya berdenyut. Ia menoleh ke arah Vivian dan berharap wanita itu datang menghampirinya, namun wanita itu malah memalingkan wajahnya dan sama sekali tak peduli.
"Sial! Aku akan membunuh mu!" teriak Dixon.
__ADS_1
Nenek Amel berteriak, Elina syok ia termangu, sedangkan Anderson. Ia sudah siap mati jika memang hidupnya tidak berharga.
Vivian mengambil heelsnya, saat Dixon ingin menembak ke arah Anderson. Ia langsung melemparkan heelsnya ke tangan Dixon dan membuat pistol itu terlempar jauh.
Anderson langsung menarik kerah baju Dixon, ia memukul wajah Dixon hingga babak belur. Bahkan wajahnya tak terbentuk lagi.
Dor
Satu tembakan membuat Anderson tak menyadari tembakan itu. Beberap polisi datang dengan Daddy Elmar. Mereka dengan sigap mengepung anak buah Dixon
Pria itu berlari ke arah putrinya dan memeluk putri semata wayangnya. "Vivian."
Daddy Elmar memeluk erat Vivian. Ia menangis ketakutan. Vivian adalah permatanya, satu-satu alasan kenapa ia bertahan hidup. "Sayang kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja Dad."
Daddy Elmar memeluk kembali Vivian. Dia mencium kening Vivian.
"Nenek." Vivian menghampiri nenek Amel. "Apa Nenek baik-baik saja"
__ADS_1
"Iya sayang."
"Anderson!" Teriak Elina memekik telinga.