Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
End


__ADS_3

"Sayang." Sapa Anderson. Dia duduk berjongkok di depan putrinya. Kini ia bersama dengan putrinya, Abigail meminta menginap untuk menjaga nenek Amel. Sedangkan Vivian pergi keluar membeli makanan dan Daddy Elmar ke kantor. Saat Abigail bangun dari tidurnya ia membawanya ke taman rumah sakit.


"Sebenarnya apa yang harus Daddy lakukan agar kamu memaafkan Daddy? Apa pun itu Daddy akan menuruti mu asalkan jangan meminta untuk mengganti Daddy. Maafkan Daddy."


Kedua mata Abigail menggenang, ia langsung memeluk Anderson. Mulutnya tajam karena ia kesal pada ayahnya yang pergi tanpa memperdulikannya. "Abi benci Daddy, Daddy tidak pernah mendatangi kami. Daddy pasti tidak mencintai kami. Aku dan Mommy selalu merasakan sakit. Biasanya aku melihat teman-teman ku di jemput ayahnya, tapi dengan ku. Aku melewati hari tanpa bersama ayah dan tidak bisa pergi ke taman."


Dada Anderson terasa sesak. Bagaikan terhimpit oleh ribuan batu. Penderitaan, kesakitan dan kesepiannya tidak sebanding dengan keadaan istri dan putrinya. "Maafkan Daddy sayang, Daddy berjanji akan memperlakukan Abigail seperti putri, berikan Daddy kesempatan sayang."


"Daddy mencintai Mommy." Anderson mengurai pelukannya dan mengangkat tubuh Abigail, menggendongnya dan beberapa kali mengecup keningnya. "Daddy sangat menyayangi Abi."


....


"Vivian." Sapa nenek Amel. Ia melihat menantunya baru saja masuk dan menaruh beberapa makanan.


"Iya Nek, apa Nenek butuh sesuatu?"


"Vivian kembalilah pada Anderson berikan dia kesempatan. Vivian Abigail butuh sosok seorang ayah. Kau pasti merasa Abigail tidak butuh, tapi hati tidak bisa di bohongi. Kasian Abigail Vivian, Anderson sudah menyadari kesalahannya. Selama ini dia sudah lepas dari Elina. Tetapi waktu itu Elina ingin bunuh diri, nenek tidak tega pada anak di kandungnya. Jadilah nenek yang mengurusnya, Anderson tidak, dia sama sekali tidak peduli sekalipun Leon datang ke mansion dan mengajaknya berbicara."


"Vivian Nenek mohon, kembalilah pada Anderson." Perkataan nenek Amel begitu lemah lembut, ia ingin Vivian mengerti dan menerima cucunya kembali. "Jangan di jawab sekarang, kau bisa memikirkannya dulu."


"Mommy." Sapa Abigail.


Anderson menghampiri Vivian dan Abigail pun meminta di gendong oleh Vivian.


"Kau datang dari mana? Mommy membawakan sarapan untuk mu."


"Apa Mommy yang membuatnya sendiri? Katanya Mommy beli?" tanya Abigail.


"Tidak sayang, awalnya memang Mommy ingin beli, tapi tidak, Mommy ingin memasak khusus untuk Abigail."


"Wah." Kedua mata Abigail berbinar, ia paling suka omelet buatan Vivian.

__ADS_1


"Ini." Vivian membuka kotak bekal itu. Dia menaruh di depan Elena. "Anderson duduklah di sini. Ikutlah sarapan." Ajak Vivian. Tidak mungkin ia tidak menawari Anderson yang melihatnya makan.


"Khusus untuk nenek, Vivian buatkan bubur." Vivian menyuapi nenek Amel dengan telaten. Dia menoleh dan melihat betapa akrapnya Anderson pada Abigail. Dia menyuapi Abigail dan Abigail pun menyuapinya.


"Kau tidak tega merebut kebahagian mereka. Lihatlah Vivian, anak dan ayah itu tak bisa di pisahkan. Hubungan darah tidak bisa di pisahkan sekalipun kematian."


Vivian tersenyum, ia melanjutkan menyuapi nenek Amel.


"Bubur buatan mu sangat enak," ucap nenek Amel.


Anderson menghampiri Vivian. "Vi, kau belum sarapan kan? Aku bawakan sarapan, makanlah."


"Tidak, aku bisa makan sendiri." Tolak Vivian secara halus. Dia malu jika di lihat orang lain.


"Mommy suapi nenek dan Daddy suapi Mommy." Sanggah Abigail. "Ayo Mommy makan, suapan Daddy sangat enak."


Vivian mengangguk, Anderson langsung menyuapi Vivian dengan tangannya.


"Ye Mommy ..." Abigail bertepuk tangan dan tertawa lepas.


....


"Leon, bisakah kau tinggal dengan Vivian dan Anderson?"


"Mommy mau kemana? Mommy Leon mau ikut Mommy." Leon menangis, ia takut ibunya membuangnya.


Elina menggeleng, ia mengusap kepala Leon. "Tidak sayang, Mommy tidak akan meninggalkan Leon. Mommy hanya butuh waktu. Mommy ingin menenangkan diri."


"Bisakah ajak Leon?"


"Sayang, hidup bersama nenek Amel dan Anderson. Kehidupan mu pasti terjamin, Anderson dan Vivian akan menyayangi mu. Anggaplah mereka sebagai ganti Mommy."

__ADS_1


"Kau pasti menyayangi nenek Amel dan Anderson kan?"


Leon mengangguk, sekalipun ia di perlakukan dingin oleh Anderson, tapi ia tetap menyayangi Anderson. "Setelah nenek Amel pulang. Mommy akan mengantarkan mu ke sana."


Beberapa hari kemudian.


Elina mengajak Leon ke mansion, ia yakin nenek Amel sudah pulang. Beberapa hari yang lalu ia ingin menjenguk nenek Amel, tapi nenek Amel sudah pulang.


"Ayo sayang."


Seorang pelayan pun datang pada nenek Amel dan mengatakan jika Elina dan Leon ingin bertemu. Nenek Amel mengijinkannya, sebelum itu dia meminta ijin pada Vivian dan Vivian mengijinkannya.


Bagi Vivian tidak masalah jika bertemu dengan Elina, lagi pula ia tidak memiliki masalah dengan Elina.


"Nenek." Sapa Leon. Bocah berumur 5 tahun itu mendekat pada nenek Amel yang bersandar di kepala ranjang.


"Nenek, Vivian." Sapa Elina tersenyum.


Vivian hanya mengangguk saja tanpa ingin mengeluarkan suaranya.


"Bagaimana keadaan nenek?" tanya Elina.


"Keadaan ku sudah membaik," jawab nenek Amel.


"Nenek Amel, Vivian, kebetulan kau ada di sini. Aku ingin mengatakan sesuatu." Elina menggenggam tangan Vivian. "Tolong jaga Leon, dari awal dia sangat mengharapkan sosok seorang ayah yang tak bisa aku berikan. Tolong jaga dia, aku, aku sebenarnya malu mengatakannya, tapi aku benar-benar meminta maaf. Aku melakukan kesalahan terbesar untuk mu dan Anderson. Aku ingin pergi jauh dan aku mohon tolong terima Leon, kembalilah pada Anderson."


"Apa maksud mu? Kau bisa merawat Leon?"


Elina menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terbelenggu oleh masa lalu. "Tidak, aku ingin mencari ketenangan. Aku mohon titip Leon."


Elina beralih pada Leon, dia mencium kening Leon dan menahan tangisnya. "Kau harus menurut pada Mommy Vivi dan Daddy An."

__ADS_1


Leon mengangguk, hidungnya kembang kempis ingin menangis. "Leon sayang Mommy."


"Mommy akan selalu menyayangi Leon dan menyimpan nama Leon di hati Mommy. Mommy pergi sayang, ingat jangan nakal."


__ADS_2