
"Leon, kau sudah bertemu dengan Anderson dan nenek Amel?" tanya Elina. Dia melirik putranya yang diam saja. Anak itu sama sekali tidak mengangkat bibir bawahnya. "Leon, Mommy bertanya." Sarkasnya.
"Mom, Om Anderson tidak mau aku panggil Daddy. Aku bukan anaknya, dia sudah menegaskannya."
"Leon dia akan menganggap mu sebagai anaknya kalau kamu berjuang keras. Dia tidak memiliki anak, jadi sudah pasti kau bisa merebut kasih sayangnya."
"Mommy ada cara," ucap Elina. Dia mengambil ponselnya di samping piringnya itu dan menekan sebuah tombol hijau dengan nama 'Daniel'.
"Daniel, kau bisa membantu ku. Begini, Leon sedang sakit dan dia butuh Anderson. Demamnya belum turun, kau tau sendiri kalau Leon sangat menyayangi Anderson."
Daniel melirik tuannya, wanita ini selalu ada saja alasannya untuk mengganggu bosnya. "Anda bisa mengatasinya sendiri, kami berada di luar kota dan akan menginap beberapa hari."
Bip
Daniel memasukkan ponselnya ke saku jasnya dan menghadap kembali ke arah Anderson yang bagaikan robot membersihkan lantai. Mondar-mandir dengan wajah tak bisa di artikan. "Tuan, saya akan menyiapkan makan malam."
__ADS_1
"Bukan, aku tidak butuh makan malam. Daniel kau sudah melihat CCTVnya kan? Dia benar-benar Vivian. Aku takut Daniel, aku ingin menemuinya."
"Apa anda yakin anak itu adalah anak anda?" Daniel teringat CCTVnya itu, seorang anak masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Vivian.
"Bagaimana kalau besok kita awasi dulu? tuan harus menguatkan hati dulu."
Sepanjang malam Anderson duduk di dekat jendela dan menyilangkan kakinya. Di tangannya ada segelas anggur yang menemaninya. Ia meneguk sedikit dan tersenyum. Antara senang dan sedih ia tidak bisa memungkirinya. Jiwanya yang terombang ambing perlahan menyatu.
"Vivian, aku menemukan mu. Tetapi aku takut, Vi ..."
....
Ceklek
Vivian membuka toko bunganya, ia masuk dan mengambil dompetnya yang tertinggal. Dompet itu sangat berarti karena di dalam dompet ada kenangannya.
__ADS_1
Ia mengambil foto itu di lokernya dan kembali mengunci toko bunganya. Besok ulang tahun putrinya, jadi ia akan mempersiapkan acara ulang tahunnya yang ke 5 tahunnya dengan mengundang beberapa temannya sekaligus ayahnya. Ia tidak sabar melihat ayahnya. Sudah sangat lama ia memendam rindu pada sang ayah.
Vivian membuka pintu mobilnya, namun satu mobil yang menjadi pusat perhatian. Mobil hitam di seberang tokonya. Ia merasa ada sesuatu di dalam mobil itu dan merasa aneh dengan hatinya sendiri.
"Hah." Seorang pria menghembuskan nafas beratnya. Ia menekan dadanya yang terasa perih. Air matanya mengalir di pipinya. Ia menyandarkan punggungnya dengan kasar di kursi mobilnya itu. "Ternyata benar dia."
Daniel menunduk, ia hanya diam sambil mendengarkan isakan kecil dari bosnya. Ada rasa haru dan kasihan, ternyata percintaan mereka terlalu rumit. "Tuan apa kita jadi mengikuti nyonya?"
Tidak ada jawaban, Daniel menjalankan mobilnya mulai mengikuti Vivian dari jarak jauh. Ia melihat mobil itu berbelok dan mengikutinya hingga sampailah mobil itu memasuki sebuah pekarang rumah sederhana.
Vivian keluar dan di sambut seorang anak kecil. Anak perempuan yang sempat bersitatap dengan Anderson.
"Tuan ...."
"Dia putri ku, aku yakin. Aku sangat yakin dia putri ku."
__ADS_1