
Elina menatap lekat wajah Anderson saat mendengarkan perkataan Dixon. Ia menggenggam lengan Anderson. "Anderson, turuti saja perkataan Dixon. Aku mohon, biarkan aku berkorban. Ini salah ku."
Daniel yang berada di belakang Anderson merasa jengah. Berkorban? Sungguh lucu, yang berkorban di sini justru istri tuannya. "Tuan, apa kita tidak sebaiknya menuruti perkataan Dixon? Nyawa nyonya Vivian dalam bahaya."
"Keluarga lebih penting tuan," ucap Daniel. Dia mengingatkan Anderson kalau keluarganya lebih penting apa pun.
"Yah, aku harus menyelamatkan mereka. Aku tidak mungkin menyerahkan Elina karena dia sedang hamil. Kau tau sendiri Dixon."
Perkataan jengkel yang selalu membuat Daniel diam-diam menggerutu di dalam hatinya. "Berarti Tuan ingin mengorbankan Nyonya?"
"Daniel, jaga batas mu." Sarkas Anderson.
"Anderson bawa aku," ucap Elina dengan nada permohon sambil menggenggam sebelah tangan Anderson.
Anderson pun mengangguk. Dia kemudian bergegas membawa Elina keluar dari rumah sakit. Ia sangat khawatir pada keselamatan dua wanita itu. Ia takut terjadi sesuatu pada mereka.
.....
Begitu melihat sebuah gedung tua, Anderson dan Elina keluar dari dalam mobil. Dia melihat gedung berlantai tiga itu, Elina menggenggam erat lengan Anderson membuat Daniel berdecak.
Wanita itu selalu mencari perhatian pada tuannya dengan dalih kandungannyan itu.
"Rupanya kau datang tidak sendiri." Suara seorang pria muncul di bawah tangga. Dia melihat istrinya dengan penuh kebencian. "Wanita murahan, cih!"
"Dimana mereka?" tanya Anderson.
Drt
Drt
Anderson mengangkat ponselnya, ia melihat sang ayah mertua menghubunginya.
"Anderson dimana Vivian? Awas saja kalau terjadi sesuatu pada Vivian, aku tidak akan memaafkan mu." Bentak Daddy Elmar.
Anderson berusaha tenang. "Vivian baik-baik saja Dad, aku akan membawanya dengan selamat," ucap Anderson dengan cepat kemudian mematikan ponselnya.
Daddy Elmar bertambah tak karuan, hatinya sangat gelisah. Ia pun menghubungi seseorang untuk melacak keberadaan seseorang.
Di waktu yang sama.
__ADS_1
Dixon tersenyum sinis. Beberapa anak buah Dixon keluar. Mereka dengan sigap menghampiri Elina, Anderson dan Daniel.
"Jangan melawan, kalau kalian melawan, dor ..." Dixon tertawa. Dia menyuruh pengawalnya membawa Elina.
Kini Anderson dan Daniel tidak bisa berbuat apa-apa. Keduanya memilih diam, namun dalam hati sudah merencanakan sesuatu.
Di luapkan dengan kemarahan yang mendalam, Dixon menarik rambut Elina ke belakang. Giginya bergemalatuk dan rahangnya mengeras. Kurang apa dirinya sampai di khianati olehnya.
"Wanita menjijikkan!"
Plak
Tamparan keras ia layangkan pada Elina. Anderson meronta, ia tidak bisa melihat wanita yang sedang mengandung mendapatkan kekerasan.
Dixon menoleh, ia semakin menggeram ketika Anderson mencoba menyelamatkan Elina. "Rupanya kau sangat mencintai istri ku. Kau sudah menikah, tapi kau berkhianat."
Prok
Prok
Dixon bertepuk dua kali menandakan dua pengawal yang berjaga di lantai dua membawa Vivian dan nenek Amel turun.
"Jangan sakiti istri ku!" teriak Anderson.
Dixon tertawa keras, baginya Anderson sangat lucu. Sudah berselingkuh tapi masih mengharapkan istrinya, Vivian. Ia pun melangkah menghampiri Vivian.
"Sudah berselingkuh tapi kau masih mengatakan istri ku."
Tatapan Vivian bagaikan pedang yang menusuk Anderson. Pria itu pun mengerti tatapan sang istri dan membuatnya tatapannya luluh.
"Vivian aku bisa menjelaskannya."
"Sehrusnya kalian menangkap Anderson. Dia yang berselingkuh dengan istri mu, bukan aku. Jangan melibatkan aku dengan nenek."
Deg
Anderson semakin bungkam, Vivian menuduhnya berselingkuh yang mengartikan dirinya tidak di percayainya.
"Kau mencintai Anderson?" tanya Dixon.
__ADS_1
Vivian menatap penuh benci pada Anderson. Dengan tegas ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat dada Anderson sangat sesak. "Aku tidak mencintainya, Aku tidak mencintainya. Kami akan bercerai."
"Seharusnya wanita tersakiti seperti mu dan pria tersakiti seperti aku harus bertemu dari awal. Seharusnya aku yang menikahi mu bukan dia." Dixon menunjuk ke arah Anderson dengan pelatuknya. "Tapi ya, tidak ada kata terlambat. Bukankah kita pasangan yang serasi?"
"Pria brengsek! lepaskan cucu menantu ku."
"Hey Nenek mantan mertua. Diamlah, kau lihat baik-baik menantu mu ini?" Dixon mencengkram dagu Vivian dan mengarahkan padanya. Dia menegaskan jika tidak mencintai cucu mu itu."
"Aku tidak ada hubungannya dengan Anderson. Dia memang cucu ku, tapi dia tidak pantas mendapatkan sebutan sebagai cucu ku. Dia sudah memilih Elina dari pada aku."
"Apa nenek tau semuanya?" tanya Vivian.
Nenek Amel mengangguk yang membuat hati Vivian terasa sakit dan perih.
"Hah! Kalian lihat, kami tidak ada hubungannya dengannya. Kalau kalian ingin balas dendam, balas dendam saja pada istri mu dan Anderson."
Ck
"Tidak seru, ternyata memang benar. Kau tidak di cintai oleh Anderson."
"Tutup mulut mu pria brengsek!!!" Anderson berteriak hingga urat-urat di lehernya terlihat. Dia meronta dan akhirnya terlepas. Dua pengawal Dixon pun berkelahi dengan Anderson. Beberapa pukulan Anderson layangkan hingga membuat dua pengawal itu tumbang dan sebuah tembakan membuat Anderson berhenti.
"Aku tidak ingin melihat sok pahlawan mu itu di sini."
Anderson langsung berlari dan menarik kerah baju Dixon, dia memukul wajah Dixon hingga sudut bibir Dixon dan Dixon tidak membalasnya, saat Anderson melayangkan tinjunya kembali ia menghentikannya melihat wajah Dixon yang terlihat santai dan menyadari sesuatu kalau dia tidak boleh gegabah.
"Vivian." Anderson melangkah ke arah Vivian, namun Vivian memalingkannnya.
"Berhenti! Kalau kau tidak ingin peluru itu menebus kepala istri mu." Dixon perlahan bangkit, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Vivian aku bisa menjelaskan."
"Tidak ada yang perlu di jelaskan, selingkuh tetap selingkuh," sarkas Vivian dengan nada dingin.
"Vivian, aku dan Anderson tidak ada hubungan apapun."
"Tidak ada hubungan apapun? Kau pikir aku wanita bodoh? Kalian bermesraan di rumah sakit? Bahkan yang menyebabkan aku terlibat juga gara-gara kebusukan kalian." Kedua mata Vivian memerah, ia ingin menangis dan marah. "Anderson aku kira kau berbeda, tapi kau sama saja. Nyawa ku tidak akan terancam kalau bukan karena kau! Entah berapa banyak wanita yang akan menyerang ku? Ternyata berada di dekat mu membuat nyawa ku terancam."
"Kesialan ini gara-gara mu Anderson."
__ADS_1