
Anderson langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Elina. Ia seperti suami yang ketahuan selingkuh. Em, tidak. Vivi kamu salah paham."
Elina melirik nenek Amel sekaligus Vivian. "Maaf, aku tidak tau kalau kalian datang. Ya sudah, aku pergi dulu."
Vivian melirik Elina yang melewatinya. Nenek Amel pun menghampiri Anderson kemudian Vivian melangkahkan kakinya ke arah Anderson.
"Nenek." Anderson tersenyum melihat kehadiran nenek Amel. Ia begitu merindukan nenek Amel. "Maafkan Anderson Nek."
Nenek Amel menepuk punggung cucunya itu. "Nenek sudah maafkan mu." Nenek Amel sebetulnya masih kecewa, tapi ia tidak tahan lagi dengan kerinduannya dan kekhawatirannya. Ia hanya memiliki Anderson.
"Anderson bisa kau jelaskan masalah tadi? Elina." Nenek Amel menatap penuh harap pada cucunya agar mau berkata jujur. Anderson beralih melihat ke arah Vivian yang sama sekali tidak membuka bibirnya. Seakan menunggu penjelasannya.
"Vivian maafkan aku, sebenarnya aku hanya berniat mau menolong Elina dan anaknya. Dixon menyiksanya, aku hanya kasihan padanya."
__ADS_1
"Nenek keluar dulu, kalian mengobrolah." Nenek Amel melenggang pergi. Ia ingin memberikan waktu pada mereka berdua.
"Vivian, aku tau aku salah. Aku, aku minta maaf." Anderson berkata tulus. Ia meraih tangan Vivian dan menggenggamnya. Dadanya jedag-jedug menunggu jawaban Vivian.
Bagi Vivian, ia sebagai istrinya sangat senang jika suaminya, Anderson menolong orang, tetapi bukan masalah dengan mantan kekasihnya. "Anderson, aku tau niat mu memang baik."
Anderson tersenyum hangat, nafasnya seakan keluar sambil membawa sesak di dadanya.
"Tapi aku tidak bisa menerima niat baik mu untuk kekasih mu atau lebih tepatnya mantan kekasihnya. Selama ini aku seperti orang bodoh yang di bodohi oleh dirimu. Kau menyembunyikan Elina dan aku masih ingat betapa kau peduli padanya dan mengesampingkan aku yang jelas adalah istri mu dan seharusnya kau mendahulukan diriku. Aku tau aku bukan apa-apa dan pernikahan kita hanyalah sebatas pernikahan kontrak. Seharusnya aku tidak berharap apa pun dari pernikahan ini."
"Vivian kau salah paham," ucap Anderason. Hati kecilnya menolak dengan keras perceraian ini. Rasanya terasa berat, sesak dan sakit. Ia tidak ingin berpisah dengan Vivian.
"Kau tidak mencintai ku Anderson, kenyamanan mu bersama ku bukan cinta melainkan karena kita terika sebuah persahabatan bukan cinta. Jadi aku ingin berpisah."
__ADS_1
"Vivian aku, aku mohon tolong beri aku waktu."
"Anderson keputusan ku saat ini tidak meminta waktu karena waktu yang telah aku berikan sudah cukup. Kita memang tidak cocok menikah. Pernikahan tanpa cinta tidak akan bisa membuat kita bahagia. Aku harapa kau bahagia dengan Elina."
Anderson menahan geramnya, Vivian tidak mau mempercayainya. "Kenapa kau tidak pernah mempercayai ku?"
"Kepercayaan tidak akan ada yang namanya kebohongan. Hubungan ku di masa lalu membuat ku trauma."
"Vivian dengarkan aku, aku bukan mantan tunangan mu. Aku berbeda Vivian. Aku sama sekali tidak mengharapkan Elina. Aku hanya menolongnya."
"Kalau kau ingin menolongnya seharusnya kau mengatakannya pada ku. Kau harus memahami aku." Vivian menunjuk dadanya. "Kau harus memahami aku bahwa aku sudah pernah merasakan pengkhianatan, dan kau tidak memahami aku Anderson. Sudah cukup aku tidak ingin bertengkar dengan mu. Aku harap kau mempercepat proses perceraiannya karena aku ingin hidup bebas dan bahagia. Kebahagian ku adalah berpisah dengan mu."
Setelah menuntaskan semua unek-uneknya, Vivian melenggang pergi dan membiarkan Anderson berteriak.
__ADS_1
Anderson menarik paksa jarum infusnya itu dan berlari mengikuti Vivian.