Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Aku Memang Pantas


__ADS_3

Au


Saking terkejutnya mendengarkan teriakan Abigail, tanpa sadar tangan Vivian menyentuh pinggiran panci.


"Mommy ada orang gila," ucap Abigail sambil membungkuk, kedua tangannya menekan kedua lututnya. Nafasnya ngos-ngosan seperti di kejar anjing liar.


"Orang gila? Dimana? Apa dia melakukan sesuatu pada mu?" tanya Vivian khawatir.


Abigail menggelengkan kepalanya. Ia mengusap dadanya dan berdiri tegak. "Untung saja aku mengikuti ucapan Mommy tidak membuka gerbang."


"Mommy tenang saja, Abigail baik-baik saja." Imbuhnya sambil cengengesan.


Vivian memejamkan kedua matanya. "Sayang kau selalu membuat Mommy khawatir. Tetapi orang gilanya tampan dan sepertinya orang kaya."


Cetak


Vivian menjitak kepala putrinya itu. "Mau orang kaya atau orang gila, kau harus berhati-hati. Kau ini selalu saja harus orang kaya, setiap membahas laki-laki harus saja orang kaya. Abigail kakek mu orang kaya." Tutur Vivian, entah ada apa dengan orang kaya? Pemikiran Abigail seperti orang dewasa.


"Mommy aku tidak suka dengan orang miskin," ucap Abigail. "Daddy pasti orang miskin sampai menelantarkan kita. Mommy harus bersembunyi supaya uang Mommy tidak di peras kan? Terus, pasti Mommy kabur dari Daddy yang jahat."

__ADS_1


"Apa?" Vivian tercengang dengan perkataan Abigail. "Kau mendapatkan pikiran seperti itu dari mana Abigail?"


Abigail menggaruk lehernya yang tak gatal. "Pikiran Abigail sendiri Mom."


"Berhenti berpikiran seperti itu Abigail? Daddy mu orang kaya."


"Berarti Daddy orang jahat dong."


Vivian kalah telak, ia tidak pernah menyinggung nama Anderson atau menjelaskan apa-apa pada Abigail.


"Mom maafkan Abigail."


Abigail menggelengkan kepalanya. Pikirannya hanya ada kebencian. Ia teringat dengan teman laki-lakinya yang menangis karena ibu dan ayahnya berpisah. Ayahnya menikah lagi dan semua itu karena ayahnya jahat telah meninggalkannya.


"Tidak Mom, Daddy jahat pasti memiliki wanita lain. Oke Mom jangan mengingat Daddy lagi." Abigail merangkup wajah Vivian. "Mulai saat ini Mommy tidak boleh menangis. Abigail akan menjaga Mommy dari Daddy yang jahat."


Vivian menggenggam kedua tangan Abigail. "Mommy menantikan perlindungan Abigail. O iya, Abigail masih ingin menunggu Kakek. Bagaimana kalau Abigail bersiap-siap kita jalan-jalan dulu di luar?"


"Oke Mom." Abigail mencium kedua pipi Vivian dan berlari menuju lantai atas.

__ADS_1


Di umurnya yang lima tahun, Abigail sudah bisa mandi sendiri dan memakai bajunya. Bahkan mengikat rambutnya pun dia tau meskipun tidak rapi.


....


Daniel menoleh ke belakang, ia ingin bertanya, namun ia tahan agar bosnya tidak berpikir kalau ia sedang menertawainya. Awalnya ia hanya melihat saja percakapan ayah dan anak itu, tapi setelah anak kecil perempuan itu berlari sambil meneriaki orang gila jadi ia berpikir bosnya pasti di sangka orang gila.


"Tuan, bagaimana obrolan anda dengan nona?"


"Tidak lancar, dia menganggap ku orang gila. Sepertinya dia membenci ku." Anderson merasa bingung. Jika di dalam percintaan seharusnya Vivian yang membencinya tapi ini malah putrinya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Apa kita pergi saja Tuan?" tanya Daniel.


"Sebaiknya kita menjauh dulu, aku akan menemui putri ku lagi. Daniel jangan sampai pengawasan pada Vivian dan putri ku lengah, aku ingin mendapatkan laporannya setiap jam."


Daniel menjalankan mobilnya dan meninggalkan area itu.


Anderson terbayang dengan obrolannya tadi. "Daddy jahat."


Perkataan Abigail menampar hatinya dan mukanya. Ia benar-benar pantas di juliki dengan Daddy jahat karena dulu tidak bisa mempertahankan rumah tangganya. Ia pria yang bodoh tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

__ADS_1


"Aku memang pantas mendapatkannya."


__ADS_2