
"Anderson?" Nenek Amel melangkah dengan lebar saat melihat Anderson berjalan menunduk dengan wajah berantakan. "Anderson bagaimana?" tanya nenek Amel.
"Aku gagal Nek. Vivian sudah pergi." Anderson memeluk erat nenek Amel. Rasanya bernapas pun terasa sulit. Ia begitu tak menyadari isi hatinya. Ternyata ia telah jatuh ke dalam pelukan Vivian.
Nenek Amel mengelus punggung Anderson. Dalam hati ia meminta maaf pada Anderson karena tak bisa mengatakan sejujurnya. "Anderson percayalah, akan ada waktunya kau bertemu lagi dengan Vivian. Kau harus mencarinya."
"Iya Nek, aku harus mencarinya." Anderson memiliki semangat berjuang. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Aku tidak akan melepaskannya Nek."
Nenek Amel mengangguk dan tersenyum. "Istirahatlah."
Anderson menuju ke lantai atas, nenek Amel sejenak menoleh dan menghubungi Vivian, namun Vivian tidak mengangkatnya. Ia kemudian menyerah panggilannya itu dan memilih untuk beristirahat. Hari ini banyak sekali kejadian yang melelahkan di benaknya.
"Vivian, Nenek harap suatu saat nanti kamu bisa memaafkan Anderson."
Di tempat lain.
Elina menuju ke ruangan Anderson, ia tak melihat apapun dan ia pun bertanya pada seorang perawat, dan ternyata Anderson sudah pulang.
__ADS_1
Ia gelisah, ia pun menghubungi Anderson. Sama sekali tak ada satu panggilannya yang di jawab oleh Anderson. Hatinya semakin resah, rasa sakit menusuk-nusuk hati dan jantungnya. "Tidak mungkin Anderson dan Vivian sudah baikan."
"Aku harus menemui Anderson," ucapnya.
Pada malam harinya.
Elina sampai di mansion mewah Anderson dan nenek Amel. Dia menuju ke arah penjaga gerbang. "Apa tuan Anderson ada? Saya ingin bertemu dengannya?"
Sebagai seorang penjaga, ia tidak mungkin menyetujuinya begitu saja tanpa menanyakan siapa nama wanita di depannya. "Anda siapa?"
"Saya Elina, tolong panggilkan Anderson."
Penjaga itu pun melapor pada nenek Amel. Kebetulan pria itu melihat nenek Amel yang sedang memainkan ponselnya di halaman samping.
"Nyonya tua." Sapa pria itu membungkuk kemudian menegakkan tubuhnya. "Di luar ada wanita yang bernama Elina. Dia ingin bertemu dengan tuan Anderson."
Nenek Amel berdecak, ia bergegas keluar untuk menemui Elina. Wajahnya bagaikan singa yang ingin menerkam Elina. "Kenapa kau datang kesini?"
__ADS_1
Elina menggenggam erat pagar besi itu. "Nek, aku ingin melihat Anderson. Aku ingin tau keadaannya."
Nenek Amel memutar bola matanya dengan malas. "Anderson tidak ada di sini. Kau bisa pergi dan satu hal lagi jangan datang kesini. Aku tidak ingin menyakiti wanita hamil," ucap nenek Amel. Dia berbalik dan hendak meninggalkan Elina.
Elina tak menyerah, ia yakin Anderson berada di kamarnya atau di suatu tempat. "Anderson! Anderson! Anderson!" teriaknya.
Nenek Amel memberikan kode pada dua pengawal yang berjaga di dekat pintu gerbang. Kedua pengawal itu membuka gerbangnya dan menutup mulut Elina. Kedua pengawal itu membawa Elina menjauh dan salah satu di antara mereka membawa mobil untuk membuang Elina ke suatu tempat.
"Nenek." Anderson mendengar suara teriakan Elina. Akan tetapi ia tidak melihatnya. "Apa Nenek mendengarkan suara Elina?"
"Iya, dia datang kesini dan ingin bertemu dengan mu, tapi Nenek sudah membereskannya."
"Nenek, Elina sedang hamil." Anderson merasa kasihan padanya, hatinya tidak lebih.
"Nenek tidak setega itu membunuh wanita yang sedang hamil. Anderson jagalah jarak dengan Elina, apapun yang terjadi kau harus menjaga batas dengannya. Sehingga tuan Elmar dan Vivian percaya kalau kau sudah berubah. Kalau terjadi sesuatu, Nenek tidak akan membantu mu. Nenek akan melepaskan mu. Karena ini nasehat terakhir nenek dan Elina bukan wanita polos yang kau pikir. Dia sengaja mendekati mu agar hati mu kembali luluh padanya."
Anderson mengangguk, ia akan menjaga jarak dengan Elina dan fokus mencari Vivian.
__ADS_1
5 Tahun Kemudian...