Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Gunakan Nyawa Mu


__ADS_3

"Tunggu."


Anderson menghentikan langkah kakinya, dia menoleh dan melihat anak kecil yang sedang menatapnya dengan mengerutkan keningnya. Dia bersendekap dan perlahan melangkah. Wajah manisnya bagaikan peri yang menennagkan hati Anderson.


"Kau ayah ku?" tanya Abigail. Anak perempuan yang memiliki dua nama panggilan Eta dan Abi itu menatap dari bawah sampai ke atas. Kalau di pikir-pikir ia melihat pria di depannya seperti orang kaya, tapi di Film orang kaya menyakiti istrinya. "Kau ayah ku apa bukan?"


"Nona." Sapa Daniel tersenyum.


Abigail menarik sebelah sudut bibirnya dan memutar bola matanya dengan jengah. Ia sangat sensitif pada yang namanya pria. "Senyuman mu jelek sekali."


"Hey aku bertanya pada mu?" Abigail kembali mengingatkan Anderson. "Aku bersyukur kalau kau bukan ayah ku."


"Di Film pria kaya menyakiti istrinya."


Daniel melirik tuannya, antara ingin tertawa dan sedih. Perasananya bercampur aduk.


"Kenapa kau tidak mencari ku dan Mommy? Sekarang kau justru datang dan mengakui ku sebagai putri mu? Aku tidak mempercayainya."

__ADS_1


"Nona tapi Tuan memang ..."


Anderson memberikan kode pada Daniel agar berhenti untuk berbicara. "Maafkan Daddy."


Abigail terdiam, tenggorakannya terasa kering. Jadi benar di depannya ini adalah sosok ayahnya yang pernah ia harapkan, ia rindukan. "Maaf?" Abigail menghapus air matanya. "Kau tau, Momny sering menangis, wajahnya sedih. Walaupun terkadang tidak mengeluarkan air mata tapi aku tau Momny sedih. Kenapa kau datang? Kau seharusnya tidak datang. Aku menyayangi Mommy dari pada dirimu. Sebaiknya kau jangan datang lagi."


Abigail berbalik dan mengusap air matanya. Di umur yang seharusnya pemikirannya seperti anak-anak ia di paksa menjadi dewasa.


Anderson menunduk, ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati putrinya dan istrinya. Kesalahan yang ia buat, perlahan ia akan memperbaikinya. Ia tidak akan melepaskannya.


....


Vivian melirik putrinya yang sedang makan malam. "Daddy aku ..."


"Vivian tolong pikirkan lagi, percuma kau bersembunyi dan berlari. Kau harus menghadapinya, Anderson sudah tau keberadaan mu. Dia akan datang lagi dan lagi, jadi menurut Daddy percuma. Vivian Daddy tidak tau apa yang akan terjadi kebelakangnya, tolong pikirkan Abigail."


"Kakek, Kakek tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja selama ada Mommy." Abigail menimpali. Ia tidak ingin Kakeknya khawatir.

__ADS_1


"Kalau Mommy ikut Kakek, aku juga akan ikut."


Vivian menghembuskan nafasnya sedalam-dalamnya. Ia berpikir memang sudah tidak ada gunanya untuk menyembunyikan Abigail dari Anderson. Akan tetapi ia akan berusaha membuat Abigail bersamanya. Ia tidak akan menyerahkan Abigail pada Anderson.


"Abigail kau harus berjanji jika bertemu dengan om kemarin, kau harus menghubungi Mommy."


Daddy Elmar tersenyum senang, akhirnya Vivian mau ikut dengannya. Ia tidak perlu khawatir lagi selama Vivian berada di dalam pengawasannya.


"Baiklah, ayo kita makan lagi."


....


"Nenek." Anderson menghubungi Nenek Amel. Pria itu sedang ingin berbicara dengan nenek Amel.


"Anderson kapan kau akan pulang?" tanya Nenek Amel. Ia merasa sepi jika tidak ada Anderson.


"Aku sudah bertemu dengan Vivian." Anderson tersenyum. "Nenek tau, aku sudah memiliki putri. Ternyata selama ini Vivian menyembunyikannya. Dia pergi jauh demi menyembunyikan putri ku. Apa dia pikir aku tidak senang? Aku pasti senang Nek."

__ADS_1


"Apa?" Nenek Amel terkejut, ia tersenyum senang. "Syukurlah dan Nenek bisa melihat putri mu."


"Anderson kau harus membawa mereka. Gunakan semua kekuatan mu termasuk nyawa mu. Vivian sudah berkorban untuk mu."


__ADS_2