Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Pikiran Berkecambuk


__ADS_3

Vivian duduk diam seperti jiwa yang telah hilang. Bayangan saat Anderson jatuh ke dalam pelukan Elina melekat erat dalam pikirannya. Ia tudak tau bagaimana kisah masa lalh di antara mereka, yang jelas ia merasakan mereka masih ada keterikatan.


"Vivian." Daddy Elmar mengusap sebuah noda di sebelah pipi Vivian. Wajah yang putih mulus itu kini ada goresan memerah. "Sebaiknya kau pulang, Daddy tau hati mu tidak baik-baik saja." Imbuh Daddy Elmar.


Kini mereka berada di depan ruang operasi. Semua orang mencenaskan keadaan Anderson. Bahkan nenek Amel tak berhenti menangis, apa lagi dengan Elina. Wanita itu sangat syok dan jatuh pingsan hingga terbaring di rumah sakit.


"Vivian biar Nenek saja yang menunggu di sini." Nenek Amel menyela. Menantunya tidak baik-baik saja. Melihat menantunya yang tenang bukan berarti dia tidak terluka.


Daddy Elmar menoleh, "Biar saya saja dan Daniel yang menunggu Anderson. Nyonya tua pulanglah dulu dan kau Vivian, pulanglah."


"Daniel tolong antarkan Vivian dan Nyonya tua."


"Baik tuan Elmar," ucap Daniel. Pria itu pun memapah tubuh nenek Amel yang terasa lemas sedangkan Vivian berada di belakangnya. Sejenak ia berhenti dan menoleh ke belakang.


Daddy Elmar mengangguk dan tersenyum bahwa semuanya baik-baik saja.


...


Nenek Amel memandangi Vivian, keterdiamannya membuatnya tau akan kesalahannya.

__ADS_1


Kepala Vivian di sandarkan ke sandaran kursi mobil itu sambil melihat ke arah luar jendela yang terbuka sedikit sehingga udara dingin di malam hari masuk menerpa wajahnya.


"Vivian maafkan Nenek, Nenek tidak mengatakan apapun justru memilih diam. Nenek menerima keputusan mu, apapun itu Nenek akan mendukung mu."


Vivian menoleh, semenjak tadi ia hanya berkelana dengan pikirannya yang berkembuk. "Nenek, aku tidak menyalahkan Nenek. Mungkin aku dan Anderson tidak berjodoh. Hubungan kita sampai di sini saja."


Daniel melirik kedua wanita berbeda umur itu dari kaca spion mobil. Ia memilih diam karena dirinya merasa bersalah.


"Vivian apa kau memilih bercerai?" tanya nenek Amel. Sangat di sayangkan baginya kehilangan menantu seperti Vivian. "Bisakah kau mempertimbangkannya lagi?"


"Nenek, sejak awal hubungan ini sudah salah dan aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku sudah pernah jatuh ke dalam jurang kesakitan dan aku tidak ingin jatuh kembali. Aku yakin Anderson akan bahagia dengan Elina. Aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Aku sudah pernah di bohongi dan aku pun kini mengalaminya. Jadi aku tidak ingin di bohongi dalam kesakitan, aku mohon Nenek bisa mengerti aku. Bahwa kesakitan ini tak bisa aku perjuangkan."


Vivian meraih dan menggenggam tangan nenek Amel. "Nenek harus menjaga kesehatan Nenek, lupakan Anderson yang nakal."


Mobil yang di tumpangi mereka pun menuju mansion mewah. Ketua pelayan mansion itu dengan sigap memapah tubuh nenek Amel yang turun, Vivian pun ikut turun mengantar nenek mertuanya itu.


"Vivian, jika kau kecewa dengan Anderson dan tidak bisa melupakannya. Bisakah kau melupakan kekecewaan mu pada nenek?"


Vivian mengangguk dan membuat nenek Amel tersenyu. Nenek Amel pun berbalik sambil di paoah oleh ketua pelayan mansion itu.

__ADS_1


Vivian merasakan dadanya yang seperti terhimpit oleh batu yang berduri, meskipun hanya sesaat ia bersama dengan nenek Amel. Namun kenangan indah tak bisa ia lupakan. Nenek Amel begitu baik padanya. Ia seperti memiliki nenek kandung.


Setelah melihat tubuh nenek Amel masuk, Vivian pun masuk ke dalam mobil tadi.


"Nyonya, maafkan saya."


Bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, dua orang kini meminta maaf padanya. "Kau tidak salah apa-apa. Kau hanya menuruti perintah atasan mu."


Daniel terdiam, ia menoleh dan melihat nyonya mudanya masih bisa tersenyum. "Seharusnya saya jujur."


"Mengemudilah yang benar, aku tidak ingin mati lagi. Nyawa ku terlalu berharga," ucap Vivian bercanda.


Daniel langsung memutar lehernya dan melihat ke depan lagi. "Nyonya aku harap kau bisa mendapatkan kebahagian."


Vivian mengangguk cepat. "Ya, kau tidak ingin mendukung ku dengan Anderson?"


"Ingin, aku ingin mendukung Nyonya, tapi aku tidak bisa membuat kesalahan yang sama," ucap Daniel. Apa yang di lakukan oleh bosnya sangat besar. "Apa Nyonya bisa menemui Tuan?"


"Ya, aku bisa menemuinya."

__ADS_1


__ADS_2