
"Bagaimana kabar nenek?"
"Terima kasih," ucap nenek Amel. Sekalipun Elina menolongnya, bukan berarti dia harus berbaik hati padanya. Ia hanya tidak ingin berhutang rasa terima kasih. "Apa kau meminta sesuatu? Sesuatu yang bisa aku kabulkan, tapi jika meminta untuk mu bersama dengan Anderson dan menerima putra mu rasanya tidak mungkin, mustahil aku melakukan itu. Aku memiliki hati, tapi aku memiliki pikiran."
Deg
Elina menunduk, "Maaf Nek, aku tidaj memiliki pikiran ke arah sana."
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Tunggu aku ingin berbicara pada mu. Sampai kapan kau akan terbayang oleh cucu ku, kau wanita yang cantik, kau memiliki masa depan yang cerah. Gunakanlah kesempatan ini untuk membahagiakan mu sendiri Elina. Biarkan Anderson bahagia, kalian sudah masa lalu, belum tentu masa lalu yang indah ke depannya di masa depan akan membuat kalian bahagia. Maafkan aku karena dulu bersikap kasar pada mu. Elina, aku yakin kau wanita yang baik, kau masih memiliki hati dan pikiran. Jangan gunakan Leon untuk semua keinginan mu. Kasihan Leon."
"Pergilah, aku sudah selesai berbicara dengan mu."
Elina melangkah pergi, ia menunduk dan sampai di depan pintu dia mengangkat wajahnya dan menatap Anderson. Sedangkan pria itu hanya diam tak ingin mengatakan apapun.
"Anderson kapan kau akan membawa Vivian ke sini? Katakan padanya bahwa aku sakit."
"Baik Nek," ucap Anderson.
Elina kembali melangkah dan membuka pintu. Dia menutup pintu itu kembali dan membawa Leon pulang.
__ADS_1
....
"Apa?" Daddy Elmar sangat terkejut begitu mengetahui bahwa nenek Amel masuk ke rumah sakit. "Anderson kau ini tidak bisa menjaga nenek mu dengan baik, bagaimana kau bisa menjaga Vivian dan ... Lupakan, kau memang pria yang tak bisa di beri kesempatan." Omel Daddy Elmar.
Dia menutup pintunya dan memberi tau pada Vivian. "Vivian nyonya Amel masuk ke rumah sakit."
"Apa? bagaimana keadaanya?" tanya Vivian.
"Katanya keadaannya sudah membaik," ucap Daddy Elmar. Anderson sendirilah yang mengatakannya.
"Ayo kita kesana Dad,"
"Iya, bawa Abigail juga. Si kucrut itu sudah pasti mengatakannya," ucap Daddy Elmar.
....
"Daddy, Vivian." Sapa Anderson. "Hay sayang." Sapa Anderson pada Abigail.
Bocah berkepang dua itu tak menjawab dan membuat Anderson menggaruk kepalanya yang tak gatal. Begitu dingin putrinya ini padanya, entah menurun dari siapa?
"Kalian mau menjenguk nenek, aku akan mengantarkan kalian."
__ADS_1
Daddy Elmar, Vivian mengekori Anderson. Vivian menggenggam tangan Abigail. Anderson melirik putrinya, ia ingin di sapa. Biasanya ia melihat anak perempuan lebih dekat dengab ayahnya, tapi putrinya tidak, dia seperti kucing yang akan mencakar wajahnya.
"Nenek." Sapa Vivian. "Nenek bagaiaman keadaan Nenek? Apa Nenek baik-baik saja?"
Nenek Amel tersenyum senang. Vivian masih menyayanginya. "Nenek sudah baikan, bagaimana keadaan mu Sayang? Maafkan Nenek," ucap Nenek Amel merasa bersalah atas apa yang di lakukan oleh putranya dan ia sendiri.
"Aku baik-baik saja, ini aku bawa Abigail."
"Dia pasti anaknya Anderson dan cucu ku."
"Iya Nek," ucap Vivian. "Abigail sayang, ini Nenek. Katanya Abigail ingin bertemu dengan Nenek kan?"
"Nenek." Sapa Abigail.
"Ya ampun, kau ternyata cantik sekali sayang." Nenek Amel merasa aneh dengan cucunya. Ia seperti melihat orang dewasa. "Sayang kau sudah tau Anderson, cucu Nenek itu ..."
"Daddy ku." Tebak Abigail. "Tapi aku tidak menyukainya, dia terlalu payah untuk menjadi ayah ku." Imbuh lagi.
Vivian dan Daddy Elmar saling tatap, mereka tidak nyaman dengan perkataan Abigail. Ia kira Nenek Amel akan memarahi Abigail, namun kenyataannya tidak.
Nenek Amel tertawa, ia membenarkan ucapan cucunya. "Iya benar. Kau sependapat dengan Nenek."
__ADS_1
"Aku ingin berganti Ayah."
Abigail semakin membuat nenek Amel tertawa geli. Ia menghapus air matanya di sudut matanya dan menoleh pada Anderson yang diam bagaikan patung, ia suka melihat putranya syok dengan perkataan cucunya.