Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)

Mengandung Benih Adik Ipar (Reinkarnasi)
Pertukaran Nyawa


__ADS_3

Vivian merasakan dadanya seakan ingin meledak. Rasa sakit, amarah dan kecewa itu bercampur aduk. "Sadarlah Vivian, seharusnya kau tidak mengharapkan apapun darinya."


Vivian membuka pintu mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Di sana ia melihat ayahnya mondar-mandir dengan wajah cemas.


"Dad." Vivian menyapa dan berhambur memeluk sang ayah dengan erat. Ia hanya memiliki ayah terbaik di dunia ni. "Daddy."


"Vivian apa yang terjadi sayang?" tanya Daddy Elmar. Saking khawatirnya, ia tidak berangkat kerja dan malah mengambil cuti. "Apa Anderson melakukan sesuatu? Ayah akan memberikan pelajaran padanya."


"Tidak Dad, aku ingin Daddy menyelesaikan perceraian ku secepat mungkin. Aku tadi melihatnya bersama dengan wanita lain, bahkan wanita itu sedang mengandung."


Wajah Daddy Elmar langsung gelap gulita, kedua matanya menajam. Ia menaruh harapan besar pada menantunya itu, ternyata ini yang di lakukan oleh menantu sialannya itu. Dia membuat Vivian merasakan sakit hati. "Daddy akan mengurus secepatnya."


Kebohongan yang di lakukan oleh menantunya itu membuatnya tak bisa memaafkannya begitu saja.


"Vivian akan mengurusnya, Daddy jangan melakukan apapun."


Drt


Vivian mengambil ponselnya di tas selemapngnya. Ia melihat sebuah nomor baru lagi.


"Kalau kau ingin tau siapa wanita yang berhubungan dengan suami mu. Kau harus datang di gedubg Xxx."


"Buat apa? Aku tidak peduli." Vivian berkata acuh. Ia tidak akan peduli lagi dengan urusan Anderson.


"Ck." Pria itu berdecak. "Jangan langsung menyela ku, kau tidak ingin melihat nenek mertua mu mati bagitu saja kan?"

__ADS_1


"Coba lihat ini."


Dixon memotret nenek Amel yang berada di sebuah kursi dengan kedua tangan yang di ikat pada pegangan kursi dan mulut yang di tutup.


"Kau!" Vivian mengepalkan kedua tangannya. "Jangan libatkan nenek. Aku tidak akan memaafkan mu."


"Hoho." Dixon tertawa, ia sudah berhasil membawa nenek Amel. Dia pikir Anderson pasti tidak akan diam saja, nenek tercintanya dan istrinya berada di tempat yang berbahaya. "Jangan langsung marah, kau cukup kesini saja dan ingat jangan lapor polisi. Kalau aku melihat kau membawa polisi, aku akan membunuh nenek mu ini."


Dixon mematikan ponselnya dan tersenyum senang. Rencanannya kali ini pasti akan membuat Anderson tidak berkutik.


Di lain tempat.


"Vivian apa yang terjadi?" tanya Daddy Elmar.


"Sebenarnya siapa pria itu? Bagaimana bisa nenek di tangkap olehnya?"


Vivian langsung menuju alamat yang di berikan oleh Dixon. Ia menghentikan mobilnya, ia hanya melihat rumput hijau dan sepi tidak ada rumah sama sekali. Ia mencengkram erat kemudi mobilnya dan kembali menancapkan gasnya.


Sesampainya di sebuah gedung tua berlantai tiga. Ia melihat gedung itu hanya berdiri sendiri di padang rumput yang hijau. Ia menutup pintu mobilnya, ia pasrah karena ia datang tanpa persiapan apapun.


Seorang pria pun tersenyum misterius dari lantai dua. Pria itu pun melangkah keluar dari ruangan penyekapan nenek Amel.


"Kau sudah datang."


Setelah mengamati gedung tua itu, langkah Vivian berhenti mendengarkan suara seseorang yang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Lima orang pun keluar dari balik beton. Mereka tersenyum melihat Vivian. Jantung Vivian seakan meledak, ia sangat takut. Apakah ia akan mati untuk kedua kalinya?


"Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau mengganggu hidup ku?!" Vivian berteriak kencang.


Dixon membuka penutup kepalanya. "Aku suami dari Elina."


"Elina?" tanya Vivian. Ia tidak tau siapa Elina.


Dixon mengelilingi Vivian. "Aku Dixon, suami Elina. Kau pasti tau foto itu kan? Dia istri ku dan Elina kabur dari ku mendatangi Anderson."


"Kalau kau memiliki masalah dengan Anderson dan istri mu kenapa kau mengganggu hidup ku? Aku tidak apa masalah kalian."


"Aku membenci Anderson. Pria itu selalu berada dalam bayangan Elina. Bahkan wanita murahan itu beraninya mendatangi Anderson. Aku akan memusnahkan siapa pun yang dekat dengan Anderson." Pria itu menyuruh anak buahnya menangkap Vivian. Kedua pria pun dengan sigap mencekal lengan Vivian.


"Lepaskan aku brengsek! Dasar bajingan." Vivian meronta. "Lepaskan aku dan nenek."


Dixon tak memperdulikan teriakan Vivian. Kedua pria itu menyeret Vivian ke lantai dua, ruangan nenek Amel.


"Nenek."


Nenek Amel menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir deras. Perbuatan Anderson melibatkan nyawa Vivian. Selamanya ia akan membenci Anderson. Ia sangat kecewa pada cucunya itu.


"Hey brengsek! Lepaskan aku dan Nenek." Vivian berteriak kencang. Kedua pergelangan tangannya memar, ia meronta-ronta. "Manusia sialan!"


Dixon tertawa dan mengecup sebuah pistol. "Aku akan melepaskan kalian kalau dia memberikan Elina pada ku," ucap Dixon. Ia mengambil beberapa foto Vivian dan nenek Amel lalu mengirimkannya pada Anderson.

__ADS_1


__ADS_2