
"Anderson." Nenek Amel menatap Anderson sambil memegang lengannya.
Anderson terhuyung ke belakang hingga tanpa sadar sebelah kakinya membentur sudut meja dan membuatnya jatuh terduduk ke lantai.
"Anderson." Nenek Amel merangkup pipi Anderson. "Tenanglah, kita akan berbicara dengan Vivian. Kau baristirahatlah dulu, ayo." Nenek Amel mengaja Anderson menuju ke brankarnya.
Namun Anderson menggelengkan kepalanya. Ini salahnya, ia tidak akan membiarkannya begitu saja. "Aku harus menemuinya, Nek. Aku akan mempertahankan Vivian." Anderson pun bergegas berlari.
Kebetulan Daniel ingin masuk ke dalam ruangan Anderson, namun tangannya berhenti di udara ketika gagang pintu itu terbuka.
"Daniel hentikan Anderson." Nenek Amel berteriak. Ini bukan waktunya yang tepat membicarakan ini. Ia harus menahan Anderson.
"Daniel kau ikut aku ke rumah Vivian." Anderson menarik lengan Daniel hingga pria itu pun berlari mengekorinya.
"Tuan sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daniel kebingungan. Tidak mendapatkan jawaban dari Anderson. Ia hanya menurut saja dan menuruti perintah majikannya.
....
"Daddy, aku tidak ingin bertemu dengan Anderson." Vivian menghubungi Daddy Elmar yang sedang berada di jalan. Ia yakin Anderson pasti akan menemuinya.
__ADS_1
"Sayang kau ada di mana?" tanya Daddy Elmar. Ia khawatir pada Vivian.
"Daddy aku sekarang berada di makam Mommy," jawab Vivian. Makam ibunya memang tempat ternyaman ia mengeluarkan ceritanya itu.
"Aku akan kesana," ucap Daddy Elmar. Pria itu sedikit mengebut hingga beberapa menit mobilnya pun masuk ke area parkiran makam. Dia pun keluar dan menuju makan istrinya.
"Vivian."
Vivian menoleh dan berdiri, ia langsung memeluk Daddy Elmar dengan erat. "Daddy." Ia memejamkan matanya hingga tetesan air bening itu keluar dari kedua matanya.
"Sayang." Daddy Elmar mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata Vivian dan melirik ke arah makam istrinya. Wanita yang ia cintai pasti sedih setelah melihat Vivian menangis. "Vivian maafkan Daddy, Daddy belum bisa menjadi ayah yang baik untuk mu. Daddy tidak bisa menjaga mu. Daddy menyesal telah membuat mu menangis."
Vivian menggeleng, percuma saja ia memberikan kesempatan. Anderson masih terikat dengan masa lalunya. "Dad, aku ingin berpamitan."
Daddy Elmar mengerutkan keningnya. Ia tidak paham dengan ucapan Vivian. Padahal Vivian belum berencana mau ke mana. "Sayang, kau ingin pergi?"
"Sebenarnya aku ingin ke Luar Negeri Dad, tapi keadaannya mendesak. Jadi aku ingin pergi ke Edinburg." Vivian sudah mengobrol dengan nenek Amel dan akan kesana memulai hidupnya di sana. Ia juga meminta nenek Amel agar menjaga rahasianya. Jika tidak ia mengancam tidak akan menerim nenek Amel sebagai keluarganya lagi.
Nenek Amel pun setuju, dia akan merahasiakannya dari Anderson.
__ADS_1
"Baiklah, kapan kau akan berangkat?" tanya Daddy Elmar.
"Sekarang Dad, kita akan berpisah di sini. Aku akan mengabari Daddy."
Daddy Elmar mencium kening Vivian. Sejenak dia menatap wajah putrinya, ia seperti melihat istrinya di masa lalu. Dadanya semakin sesak, ia menyalahkan dirinya sendiri karena keadaan yang harus ia ambil terburu-buru dan membuat putrinya harus ke kota asing.
"Sayang, maafkan Daddy."
"Daddy jangan menyalahkan diri Daddy. Daddy tidak salah, ini keputusan Vivian."
Vivian kembali memeluk Daddy Elmar, kemudian ia langsung berbalik dan melangkah pergi.
Sedangkan di tempat lain.
Anderson sudah sampai di kediaman Daddy Elmar. Pria itu langsung berlari masuk ke dalam. Namun sesampainya di dalam ia melihat seorang pria berkacamata dan berjas hitam.
"Dimana Vivian dan Daddy?"
Pria itu menatap lekat Anderson. "Saya datang kesini memenuhi perintah dari tuan Elmar dan nona Vivian. Katanya mengurus perceraian anda dengan nona Vivian."
__ADS_1