
Daniel menaruh sebuah boneka beruang dan buket bunga mawar. Ia sudah menyiapkan buket dan boneka itu sesuai perintah atasannya, Anderson.
"Tuan semuanya sudah siap," ucap Daniel. Dia melihat Anderson menuruni anak tangga sambil mengenakan jas hitamnya.
"Iya kita langsung kesana." Anderson bertekad setiap harinya akan membawakan buket bunga dan boneka untuk putrinya.
Daniel menutup pintu belakang mobilnya setelah Anderson duduk, ia pun memutari mobilnya dan mulai melajukannya.
Anderson turun dari mobilnya membawa buket di tangannya. Ia tersenyum melihat rumah itu saat ingin membuka gerbang ia melihat gerbang terkunci.
"Kenapa tuan?" tanya Daniel.
"Apa mereka sudah pergi? Tapi kemana?" tanya Anderson.
Dari jauh ia melihat rumah itu tampak sepi, gorden jendela masih tertutup. Ia melihat sekeliling taman itu dan tidak melihat tanda kehidupan. "Kemana mereka pergi? Kemana lagi Vivian bersembunyi dari ku?"
Anderson membuang buket bunga mawar di tangannya dan menahan amarahnya.
Drt
"Tuan, nyonya dan tuan Elmar sedang berada di jalan Xxx. Sepertinya mereka akan kembali ke London." Tutur pria di seberang sana.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya dan Tuan Elmar sudah kembali," ucap Daniel.
Anderson memejamkan kedua matanya, akhirnya ia bisa bernafas lega. Ia lupa jika ada seseorang yang ia suruh untuk mengawasi mereka. "Daniel kita akan menyusulnya."
.....
Vivian dan Daddy Elmar sampai tepat jam 02.00. Vivian menatap bangunan megah di depannya dan tersenyum. Akhirnya ia kembali lagi ke London dan beberapa pelayan pun menyambutnya dengan ramah.
Para pelayan pun juga sangat antusias menyambut kedatangan Abigail. Mereka menyapanya dengan senyuman.
"Mommy, apa ini rumah Kakek?" tanya Abigail. Kedua matanya menatap berbinar bangunan megah itu.
"Ayo masuk," Ajak Daddy Elmar.
Vivian pun mengajak putrinya berkeliling, mereka menghebaiskan waktu bersama. Banyak hal yang Vivian ceritakan pada putrinya, sesekali Daddy Elmar menimpali cerita itu.
Pada malam harinya.
Elina datang membawa Leon untuk menemui Anderson dan nenek Amel. Dia hanya mengantarkan sampai di gerbang saja. Jika ia masuk sama saja ia memancing keributan, ia hanya bisa melihat rumah megah itu dengan tatapan nanar.
Leon pun perlahan masuk dan membawa sebuah kue yang di tangannya.
__ADS_1
"Nenek." Sapa Leon. Dia menaruh kue itu di atas meja. "Nenek sedang apa?" tanya Leon. Dia melihat wanita itu sedang memejamkan kedua matanya.
"Emmm ...."
Tidak ada jawaban Leon pun mengguncang pelan nenek Amel. "Nenek." Tidak ada jawaban dan membuatnya ketakutan. Dia berlari menemui salah satu pelayan dan menceritakan.
Pelayan pun langsung mengikuti Leon dan dia meneriaki beberapa pelayan dan penjaga. Hingga mereka membawa tubuh nenek Amel masuk ke dalam mobil.
"Mommy, nenek tidak sadarkan diri," ucap Leon. Dia menghampiri Elina.
"Apa? Ayo kita ikut ke rumah sakit," ucap Elina. Dia pun mengikuti mobil hitam yang melaju di depannya.
Sesampainya di rumah sakit, Elina menanyakan keadaan nenek Amel.
"Syukurlah nyonya Amel di bawa dengan cepat. Kalau terlambat beberapa menit saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong." Tutur sang Dokter.
Elina bersyukur, setidaknya nenek Amel selamat. Ia pun masuk dan duduk di samping nenek Amel.
"Nenek." Anderson langsung membuka pintu ruang rawat inap itu dan menghampiri nenek Amel.
"Anderson kau tidak perlu khawatir, nenek Amel selamat," ucap Elina. Wanita itu tersenyum melihat ke arah Anderson dan pria itu hanya mengangguk saja.
__ADS_1