
Keesokan harinya.
Vivian meraba sesuatu, ia merasa bantal gulingnya terlalu keras. Ia mengerutkan keningnya dan kemudian membuka kedua matanya. Melihat siapa yang berada di depannya sontak ia terkejut.
"Anderson!" Vivian setengah berteriak.
Anderson mengucek kedua matanya. Dia beranjak dan melihat Vivian. "Apa Vi?"
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Vivian. Dia kemudian teringat dengan foto itu. Ia pun langsung memasang wajah datar, menyibak selimutnya dan turun dari ranjangnya.
Anderson mengerutkan keningnya, wajah Vivian terlihat jelas tak suka. "Hey, kau marah? Aku hanya tidur bersama mu. Aku tidak melakukan apapun. Lagi pula kita suami istri. Vivian ... Vivian ..." Anderson turun dari ranjangnya. Ia menahan pergelangan lengannya dan membuat Vivian menoleh ke arahnya. "Apa kau marah?"
"Aku tidak marah, kau bisa melepaskan lengan ku." Vivian tersenyum tipis.
Anderson merasa ambigu, perkataan Vivian membuatnya ragu. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi, ia melihat tangannya yang memegang lengan Vivian.
Vivian memandangi wajahnya, sakit di dadanya tak bisa ia hilangkan. Bahkan rasa sepertinya di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Ia sudah menegaskan pada dirinya untuk tidak sakit hati, tapi kenapa rasanya sakit. "Tidak mungkin aku mencintai Anderson."
Vivian menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya sama sekali dengan perasaannya, ia tidak boleh mencintai Anderson. "No Vivian, kau tidak boleh ada rasa sedikit pun. Kau akan jatuh yang kedua kalinya."
Setelah selesai bergulat dengan pikiran dan perasannya, Vivian melanjutkan aktivitas mandinya yang sempat tertunda. Dalan hitungan menit, ia sudah selesai dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kau sudah selesai? Aku harus pergi ada sesuatu yang belum aku urus." Anderson mengecup kening Vivian. Ia kemudian berlalu ke kamar mandi.
Vivian menarik sebelah sudut bibirnya, perasaan harapan ini, ia sangat membencinya. Pria itu tidak peka sama sekali. "Lihatlah, dia tidak mendengarkan jawaban ku."
Vivian menuju meja riasnya, ia memolesi wajahnya secara natural. Saat kedua telinganya mendengarkan pintu kamar mandinya terbuka, ia melirik Anderson.
"Vivian aku pergi dulu, nanti kalau mau pulang hubungi aku," ucap Anderson. Pria itu pun bergegas pergi keluar kamarnya.
Vivian melihat jam di layar ponselnya, ia memasang antingnya dengan cepat, mengambil tasnya dan memasukkan ponselnya. Dengan langkah buru-buru ia menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Vivian berpapasan dengan sang Ayah.
"Vivian kau mau kemana sayang?" tanya Daddy Elmar. Ia melihat Vivian terburu-buru.
Vivian melenggang pergi, ia membuka pintu mobilnya dan sejenak melihat mobil Anderson yang sudah keluar dari pintu besi rumahnya itu. Ia pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengikuti mobil Anderson dari jarak jauh.
"Mau kemana dia?" Vivian melihat mobil Anderson berbelok. Ia mengerutkan keningnya, jalan ini bukan jalan ke arah kantornya.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
Vivian memperhatikan Anderson secara saksama, mulai dari keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam area rumah sakit. Saat anderson memasuki pintu lift, ia melihat tangan Anderson menekan tombol pintu lift itu dari balik beton rumah sakit. Ia pun mengganti lift itu, ia menghirup dalam-dalam nafasnya.
__ADS_1
Saat kakinya masuk ke dalam lift, tubuhnya panas dingin. Saat lift itu berhenti, ia pun keluar dan melihat beberapa ruangan. Ia melihat kanan kiri dan tepat di ruangan ujung, ia menghentikan langkahnya. Ia melihat Anderson memeluk seorang wanita.
"Kenapa aku bisa bodoh menyusulnya kesini?" Vivian pun berbalik dan berlari menuju pintu lift.
Sedangkan di dalam ruangan.
Lucy yang memeluk Anderson menangis tersedu-sedu. Dia menangis ketakutan hingga memeluk Anderson dengan erat. "Tolong aku Anderson, Dixon menghubungi ku. Dia menghubungi ku, Aku takut anak ku di lukai olehnya."
"Tenanglah Lucy, aku tidak akan membiarkan itu. Kau aman berada di dalam lindungan ku."
"Terima kasih Anderson. Aku memang merasa aman berada di dalam perlindungan mu." Lucy tersenyum lebar seperti sinar matahari yang baru terbit.
"Dimana ponsel mu, aku akan menghubunginya."
Anderson pun menghubungi balik nomor itu. Beberapa saat kemudian panggilannya terhubung.
"Apa yang kau mau?" tanya Anderson. Masih belum jera ia membuat perusahaan pria itu bangkrut sampai ke ujung-ujungnya.
Pria di seberang sana tersenyum sinis. Akhirnya ia mendengarkan suara pria itu. "Kau tidak berhak ikut campur, karena ini hubungan ku dengan Lucy. Tidak ada sangkut pautnya dengan mu."
"Aku akan membunuh mu."
__ADS_1
Pria di seberang sana tertawa keras. "Bunuh saja, kau tidak akan bisa melakukannya."
Pria itu mematikan ponselnya dan mengeraskan rahangnya. Jika ia mati, maka ia harus membawa ketiga orang itu.