
"Hah," Anderson menghela nafas. Ia melirik kue di sampingnya, baru saja membeli kue baru untuk Lucy.
"Tuan maaf ikut campur, tapi sebaiknya Tuan jujur saja pada Nyonya." Daniel mengingatkan, sudah waktunya bagi Anderson untuk berkata jujur. Semakin banyak kebohongan, semakin banyak kekecewaan Vivian. "Tuan harus memilih, Nyonya atau masa lalu Tuan."
Anderson memilih diam, ia saja bingung dengan perasaannya saat ini. Sekalipun Lucy sudah terlalu lama pergi, tapi hatinya kecilnya masih menyebutkan namanya. Ia memang merasa nyaman berada di dekat Vivian, inilah yang ia tak bisa memutuskan.
Sesampainya di ruangan Lucy, Anderson menaruhnya di atas nakas lalu memotongnya. Lucy hanya memperhatikannya, ia seperti seorang ratu yang di manjakan sang raja. Seharusnya dari dulu ia memilikinya.
"Lucy, makanlah. Maaf aku lama. Tadi masih bertemu dengan Vivian."
Senyuman lebar itu mendadak redup. Sebelah tangan Lucy mengepal kuat. "Bertemu dengan Vivian? Kapan kau akan mempertemukan aku dengan Vivian?" tanya Lucy. Ia harus terang-terangan bertemu dengan Vivian.
"Lucy kalau masalah itu belum bisa. Aku belum bisa, tunggulah waktu yang tepat."
"Maafkan aku, aku dan bayi ku membuat mu repot."
__ADS_1
Anderson menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku senang membantu mu. O iya, ayo makan."
Lucy pun memakan kue itu, sekalipun kue itu terasa manis, tapi ketika sampai di dalam mulutnya terasa pahit.
Sedangkan di tempat lain.
Vivian sudah sampai di mansion, namun nenek Amel tidak ikut masuk atau menetap di mansion. Begitu Vivian keluar dari dalam mobil, nenek Amel menyuruh sopirnya bergegas pergi.
Seorang pelayan pun menghampiri Vivian. Dia membawakan beberapa paper bagh itu sampai di kamar Vivian dan menaruhnya di ranjang Vivian.
Sebelah alis Vivian terangkat ke atas membentuk lekungan. Ia membuka pesan itu dan dahinya berkerut melihat bunga mawar dan kue yang di berikan oleh Anderson. Di sana terlihat Anderson memegang buket bunga mawar dan kue tadi.
Ting
Satu gambar lagi masuk yang membuat dada Vivian seperti di pukul dengan cepat di iringi denyutan nyeri. Ia melihat sebuah foto wanita memegang buket bunga dan satu foto menyusul saat mobil Anderson keluar dari mobilnya dan membawa kue tadi.
__ADS_1
Vivian tak langsung membalas, ia langsung menghubungi nomor itu. Namun nomor asing itu malah memutuskan panggilannya. Ia penasaran dengan siapa yang menghubungi itu.
"Kenapa tidak aktif? Sebenarnya siapa dia?" Vivian kembali melihat foto itu. Rahangnya mengeras, jadi ia telah di bohongi oleh Anderson. Jika di ingat dengan tingkah laku Anderson yang terasa aneh, kecurigaan di hatinya semakin yakin.
"Anderson, pria memang sama saja tidak bisa di percaya." Vivian meremas ponselnya. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan bergegas keluar dari kamarnya menuju ke mobilnya.
Brak
Vivian memasang sabuk pengamannya dan menghidupkan mobilnya. Kedua tangannya meremas setir mobil itu. Hatinya sangat sakit, ia kira hubungannya dengan Anderson semakin membaik.
"Hanya terlihat manis, tapi menyembunyikan kepahitan."
Tiba-tiba Vivian merasa tersindir, ia tidak boleh marah, memang ia siapanya Anderson?
"Yah, aku harus sadar diri."
__ADS_1
Vivian menjalankan mobilnya, ia menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mengeluarkan kemarahannya itu.