
Elina duduk di kursi tunggu. Ia memegang dadanya yang selalu saja bertedak kencang setiap melihat Anderson. Pria itu selalu membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Daniel membuka pintu kamar ruangan nenek Amel. Dia melirik Elina dan bersandar di dinding sambil bersendekap. Ia tidak percaya wanita itu menolong nenek Amel.
"Berapa bayaran yang kau minta?" tanya Daniel memulai. Bagi dirinya tidak perlu berbelit-belit, ia yakin Elina pasti memiliki sebuah tujuan. "Kau mau berapa? Katakan saja," ucap Daniel.
Elina mendongak, perkataan Daniel membuatnya sakit hati. "Apa maksud mu Daniel? Aku tidak meminta bayaran. Aku tulus menolong nenek Amel."
Daniel tersenyum tipis. "Menolong? Pertolongan mu pasti ada tujuannya, kalau bukan untuk tuan, pasti untuk mendekati tuan?"
"Daniel." Elina menatap tajam ke arah Daniel.
Leon yang berada di samping ibunya tak terima. "Om jangan jahat pada Mommy, Om tidak berhak untuk menjahati Mommy. Mommy orang baik."
Daniel tertawa, ia yakin Leon sudah pasti di racuni oleh Elina. "Begitu ya? Kau hanyalah anak kecil, bahkan kau baru keluar dari perut ibu mu dan kau tidak tau ibu mu di masa lalu melakukan apa saja."
__ADS_1
"Hentikan Daniel! Leon masih kecil, ini urusan ku dengan mu."
"Elina aku memang membenci mu, tapi aku tidak ingin membenci anak mu. Jadi aku berharap kau tidak meracuni pikiran polos seorang anak kecil." Daniel langsung memalingkan wajahnya dan tidak ingin bersitatap dengan ibu dan anak itu.
....
"Nenek." Anderson tersenyum melihat nenek Amel yang sudah sadar. Dia mencium kening nenek Amel. "Syukurlah Nenek sudah sadar."
"Anderson." Tangan nenek Amel ingin menyentuh pipi Anderson, dengan sigap Anderson meraih tangan nenek Amel. Ia mencium telapak tangan nenek Amel dan menaruhnya di atas pipinya.
Nenek Amel tersenyum, ia tidak tau kapan ia akan meninggal. Akan tetapi, ia ingin memastikan jika Anderson harus hidup bahagia terlebih dahulu. "Anderson, kau sudah membawa Vivian dan cucu Nenek?"
Anderson menggelengkan lemah kepalanya. "Aku belum bisa Nek."
"Wajar, kau sudah membuatnya kecewa. Apa kau yakin dia anak mu?" Tanya nenek Amel.
__ADS_1
"Aku sangat yakin Nek, jika pun dia anak orang lain. Aku akan tetap menerimanya. Aku akan menyayanginya seperti anak ku sendiri."
Nenek Amel tersenyum, pikiran putranya sudah dewasa tidak seperti dulu. "Anderson dalam rumah tangga keterbukaan sangat di butuhkan. Seorang suami harus terbuka pada istrinya dan seorang istri harus terbuka pada suaminya, apapun yang terjadi, entah itu menyakiti. Menyembunyikan lebih sakit dua kali lipat dari pada di sakiti dengan kejujuran."
"Kau mengerti maksud Nenek kan?"
Anderson mengangguk, ia tidak akan melupakan perkataan neneknya.
"Siapa yang membawa ku kesini?" tanya Nenek Amel.
"Leon, tadi Leon ingin menemui Nenek dan aku. Saat melihat Nenek tak sadarkan diri di kursi, Leon langsung memanggil para pelayan."
"Leon anak yang baik, tapi Nenek tidak tau perkataan apa yang Elina ucapkan padanya. Nenek akan berterima kasih karena berkat dia juga, Nenek bisa melihat cucu Nenek."
"Anderson Nenek berharap kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti dulu. Bawalah Leon, aku ingin melihatnya dan mengucapkan terima kasih padanya."
__ADS_1