
"Vivian tunggu Vivian, kau salah paham." Anderson berteriak. Perlahan lift itu mulai tertutup, sekuat apapun ia berlari pintu lift itu sudah tertutup rapat.
"****!!!" Anderson meninju pintu lift itu. Ia melihat nomor di pintu lift itu dan menekannya ke lantai bawah.
Pintu lift pun terbuka, kedua netranya mencari jejak Vivian. Namun ia tidak menemukannya. Ia terus mencarinya dan jejak Vivian sudah menghilang sepenuhnya dari pandangannya.
Tidak ingin menyerah, Anderson mencari keluar, ke taman dan ke tempat lainnya. Sedangkan Vivian dia bersembunyi di balik beton dan perasaanya semakin campur aduk.
Vivian perlahan melangkah keluar. Dia sudah bertekad tidak akan sakit untuk cerita yang sama.
...
Nenek Amel menatap sengit wanita di depannya. Ia memang kasihan pada keadaan Elina, tapi bukan berarti dia harus menuruti pendekatanya dengan cucunya itu.
"Mau mu apa Elina? Kau ingin memaksa Anderson bersama mu, hah?! dulu kau memilih uang dan meninggalkan Anderson."
__ADS_1
"Aku tau Nek, tapi waktu itu aku terpaksa melepaskan Anderson." Elina meremas selimutnya. "Aku akan kembali pada Anderson."
"Dengan menghancurkan kebahagiaan wanita lain?"
"Aku tidak memaksa Vivian untuk datang pada Anderson. Dia yang datang sendiri, jadi bukan salah ku merebut milik ku kembali." Baginya keadaanlah yang membuatnya harus berpisah dengan Anderson. Bukan keinginannya, selama ini ia menjaga hatinya.
Nenek Amel langsung menampar Elina. Kesabarannya sudah ada di ambang batasnya. Ia semakin membenci wanita di depannya. "Kau, aku tidak tau malu Elina. Seharusnya kau bersyukur Dixon mencintai mu. Kau pikir aku tidak tau kalau kau diam-diam masih mencintai cucu ku? Dixon berubah karena dia terlalu kau sakiti. Seandainya kau mencintai Dixon, kau pasti akan menjadi ratunya. Tetapi kau mengubah takdir mu Elina. Kau menjadi wanita jalanan bukan wanita berlian."
Elina mengerasakan rahangnya. "Karena aku sudah mengubah takdir ku, maka aku akan mengubahnya."
...
Daddy Elmar pun datang, dia ingin melihat keadaan Anderson sekaligus menjemput putrinya, tapi ketika ia sampai di ruangan Anderson, ia sudah tidak melihat lagi pria itu. Ia pun keluar dan berpapasan dengan nenek Amel.
"Elmar."
__ADS_1
"Anderson dan Vivian tidak ada," ucap Daddy Elmar. Dia berniat mencari Anderson dan Vivian.
"Mungkin mereka keluar," ucap nenek Amel. Ia menduga mereka mencari udara segar berdua. Banyak hal yang harus mereka bicarakan.
"Elmar, bisa kita bicara."
Daddy Elmar mengangguk, mereka pun masuk ke dalam ruangan perawatan Anderson.
"Elmar, bujuklah Vivian agar tidak berpisah dengan Anderson." Nenek Amel langsung membuka ke intinya. "Aku tidak ingin mereka berpisah. Cobalah berbicara dengannya. Aku tau perbuatan Anderson mengecewakan, tapi sebagai neneknya, aku ingin pernikahan mereka bertahan."
"Aku pun begitu, tapi aku tidak bisa memaksa Vivian. Ini keputusan Vivian. Bukan Vivian yang tidak ingin mempertahankan pernikahannya, tetapi Anderson. Dialah yang tidak ingin mempertahankannya." Daddy Elmar membungkuk. "Saya meminta maaf sebesar-besarnya. Saya tidak bisa menuruti permintaan Nyonya tua."
Daddy Elmar menegakkan tubuhnya, dia ingin pergi, namun Anderson masuk dan ia pun berpapasan.
"Daddy." Anderson menyapa. Ia ingin ayah mertuanya membantunya. "Daddy ini salah paham. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Elina."
__ADS_1
"Maaf Anderson, aku tidak bisa membantu mu. Keputusan Vivian juga keputusan ku. Jadi jangan mempersulit Vivian." Daddy Elmar melewati Anderson dan membuat pria itu membatu. Ia tidak menyangka juga mendapatkan sebuah penolakan dari ayah mertuanya. Harapannya hanya pada ayah mertuanya, tapi sepertinya kali ini memang benar-benar berakhir.