
Pintu utama terbuka dan terlihat seorang pria datang dengan wajah yang terlihat lelah. Dia menunduk dan tidak menyadari keberadaa seorang pria yang berdiri di tengah anak tangga.
"Kau sudah sampai?" tanya seorang pria. Dia menyambut menantunya itu.
Anderson mendongak, "Dad kau belum tidur? Apa Daddy sengaja menunggu ku?" tanya Anderson. Pria itu tersenyum dan Daddy Elmar hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Iya Daddy memang sengaja menunggu mu. Bisa mintak waktunya? Kalau kau lelah kita bisa berbicara besok."
"Tidak Dad,"
Daddy Elmar mengangguk, "Kita mengobrolnya di balkon."
Anderson mengekori Daddy Elmar. Kini mereka tengah berada di balkon. Mertua dan menantu itu sama-sama melihat ke arah taman depan. Anderson menunggu sang ayah mertua membuka obrolannya.
"Anderson, apa kau bahagia menikah dengan putri ku?" tanya Daddy Elmar.
__ADS_1
Anderson tersenyum, di tanya tentang bahagia. Dia memang bahagia bersama dengan Vivian. Ia bisa melupakan masalah apapun saat bersama dengan Vivian. "Entahlah Dad, bahagia? Aku merasa nyaman dengan Vivian."
Daddy Elmar tersenyum, "Kau mencintai putri ku?"
Deg
Deg
Deg
"Anderson, Daddy tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kalian. Ketika pasangan sudah menikah dia harus terbuka pada pasangannya. Jangan sampai pasangan kita kecewa karena dengan kebohongan." Daddy Elmar sengaja menyindir Anderson. Dia ingin menantunya jujur, mungkin Anderson masih ragu dengan perasaannya. Tetapi cinta telah tumbuh di hatinya. Ia bisa melihat saat muda dulu sewaktu mencintai mendiang istrinya.
Perkataan Daddy Elmar melekat bagaikan lem yang tak bisa di pisahkan di hati Anderson. Pria itu merasa tertampar dengan ucapan ayah mertuanya itu. Kedua tangannya terasa dingin namun hatinya merasa panas.
"Daddy masuk dulu." Pamit Daddy Elmar. Ia ingin Anderson mau mengakuinya dan tidak berbohong. Ia akan menunggu waktu menantunya untuk berbicara jujur, tapi jika sesuatu terjadi pada Vivian. Ia tidak akan pernah memafkan menantunya itu.
__ADS_1
Di tempat lain.
Seorang pria tengah menatap tajam sebuah figura besar yang berisi sebuah foto wanita. Dia menggunakan hoodie berwarna hitam dan menutupi kepalanya, wajahnya nyaris tak terlihat di ruanga temaram itu. Tangan kanannya bermain pisau sedangkan tangan kirinya ia masukkan kedalam saku hoodie itu.
Ia memutar pisau itu dan melemparkan pisau itu kesebuah foto hingga pisau itu tertancap sempurna mengenai hidung wanita di foto itu.
"Aku melakukan semuanya demi dirimu, tapi kau mengkhianati ku. Aku mencintai mu setiap harinya tapo kau membuang ku. Brengsek!!! Wanita murahan kau Elina. Kau berlari pada Anderson, larilah aku tidak akan melepaskan mu, dan untuk mu Anderson, kau akan lihat bagaimana kehilangan istri mu."
Pria itu tertawa dan melihat ke langit-langit, perusahaannya hancur, hubungannya juga hancur, wanita yang ia cintai bahkan mengkhianatinya.
Esok hari ia akan menghubungi Vivian dan akan membuat wanita itu terjebak dalam permainannya. "Siapa yang akan kau selamatkan Anderson? istri mu atau mantan kekasih mu?"
"Salah satu dari mereka harus membayar hati ku yang kau sakiti dan untuk istri tercinta ku, aku juga ingin melihat bagaimana kau akan hancur karena pria tak tau diri itu."
Pria itu kembali tertawa keras, semenjak ia tau keberadaan istrinya, hatinya terasa tercabik-cabik. Ia akan membalaskan dendam hatinya yang mereka sakiti.
__ADS_1