
Seorang pria tengah memijat pelipisnya. Sejenak dia menghentikan pekerjaannya, kepalanya terasa ingin meledak. Tidak memiliki waktu untuk duduk santai. Banyam sekali investor yang harus ia temui.
Krret
"Tuan." Sapa Daniel. Seperti biasnya akan ada laporan tentang Vivian.
Anderson menghentikan kedua jarinya yang mengapit pelipisnya itu. "Bagimana?"
Keterdiaman Daniel sudah menjadi jawabannya kalau tak ada hasilnya. Anderson menghela nafas panjang. Sudah lima tahun lamanya ia tidak menemukan Vivian. Segala cara ia lakukan, menemui ayah mertunya tak kenal waktu, kadang pagi, siang, sore dan malam. Ia selalu menemuinya dengan harapan ayah mertuanya mengatakan keberadaan Vivian.
Namun ayah mertuanya selalu menghindarinya, dia bersikuekuh untuk tidak mengatakannya sedikit pun. Dia seperti orang gila yang mencari Vivian, segala koneksi ia lakukan. Vivian hilang tanpa jejak. Jejak sekecil pun ia tidak mengetahuinya. Bahkan ia memeriksa plat mobil Vivian dan Daddy Elmar, namun jejak mereka sangat sulit di cari.
"Tuan apa sebaiknya kita menyerah dan menunggu kedatangan nyonya Vivian?"
Pria bertubuh kurus itu seperti tengkorak yang kehilangan jiwanya. Kantung matanya menghitam, dagunya di tumbuhi rambut halus. Sudah berganti musim, berganti tahun. Ia belum menyerah menemukan Vivian.
"Tidak, aku akan tetap mencari Vivian. Jika aku menemukan Vivian, aku ingin dia tau kalau aku tidak menyerah dan selamanya aku tidak akan menyetujui perceraian itu."
Anderson pernah di pukuli babak belur bahkan ayah mertuanya mendiaminya lantaran karena dia tidak ingin bercerai, dan sampai saat ini ayah mertunya tak menyapanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah memeriksa rekening Daddy? Siapa tau Daddy mengirimkan uang untuk Vivian."
"Tidak tuan, sepertinya nyonya meutuskan hubungan dengan tual Elmar agar tidak ada yang mengetahui keberadaanya." Dia akui, nyonya mudanya itu sangat cerdas dan licik.
"Tuan." Sapa seorang wanita. Dia membawa seorang anak kecil yang masih berseragam sekolah dan membawa tasnya. Anak kecil berjenis kelamin laki-laki itu sangat mirip dengan Dixon.
"Hah!" Anderson mengeluarkan nafas beratnya. Ia tentu tau siapa anak kecil itu yang tak lain adalah anak Elina.
Semenjak ia memutuskan hubungannya dengan Elina, wanita itu nekat bunuh diri dan memohon agar membiyayai anaknya dan dirinya. Nenek Amel pun mengambil tindakan, dia tidak membiarkan Anderson turun tangan dan mengurusinya. Ia membiayai hidup anak Elina dengan satu syarat Elina tidak mengganggu Anderson. Lagi pula Anderson sudah memantapkan hatinya untuk tidak berkaitan lagi dengan namanya Elina.
"Daddy." Panggil Leon. Bocah itu tersenyum memamerkan gigi putihnya yang rapi.
"Jangan panggil aku Daddy, aku bukan Daddy mu. Kau sudah tau Daddy mu bukan?" Anderson sudah mengatakannya pada bocah itu kalau ayahnya sudah membusuk di penjara. Bahkan ia sudah mempertemukannya.
"****!!"
Anderson menahan kekesalannya. Kalau bukan karena bocah itu dia tidak akan berpisah dengan Vivian. Rasa kasihannya membuat keluarganya hancur.
"Apa Daddy tidak menginginkan ku?" tanya Leon. Hidungnya kembang kempis ingin menangis.
__ADS_1
"Yak, aku sudah mengatakannya. Kau bukan anak ku, jadi jangan membuat salah paham." Anderson menutup kedua telinganya. Ia tidak ingin suara anak itu meledakkan gendang telinganya. Ia sangat tidak menyukai anak kecil, anehnya dulu ia sendiri yang mengasihinya. "Daniel antar dia."
"Huwa ...." Leon menangis kencang.
Anderson semakin menutup telinganya. Suara anak Elina membuatnya ingin membakar rumah orang. Kalau bukan karena kasihan ia tidak mau.
Daniel pun dengan sigap menggendong dan menepuk punggung Leon. Dia melihat ke arah bosnya itu. "Saya akan membawanya pulang tuan."
"Sebenarnya ada di mana kamu Vivian?" Anderson mengambil sebuah bingkai foto. Seorang wanita yang tersenyum. Wajahnya bagaikan sinar rembulan yang menenangkan jiwanya. "Apa kau tidak lelah bersembunyi terus? Aku lelah Vivian, aku sangat lelah, tapi aku ingin bertemu dengan mu dan aku tidak menyerah."
....
"Elmar." Sapa nenek Amel. Sekalipun umurnya sudah tua, tapi wanita itu masih sehat dan terlihat masih muda. "Elmar apa kau ada kabar tentang Vivian?" tanya nenek Amel.
Sudah empat tahun Vivian tidak menghubunginya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Vivian. Ia sudah bersabar menunggu Vivian menghubunginga, tapi kali ini ia tidak bisa bersabar lagi.
"Nyonya tua, saya sudah pernah mengatakannya. Vivian juga tidak menghubungi saya. Sebagai seorang ayah saya juga khawatir, tetapi saya tidak bisa mengambil tindakan bodoh dengan memberikan jejak putri saya."
"Elmar, aku tau Anderson bersalah. Tetapi apa kau tidak mau memaafkannya?"
__ADS_1
"Saya sudah memaafkannya, tapi saya enggan dan tidak akan pernah mengatakan keberadaan putri saya."
"Maaf Nyonya Tua, saya harus menyudahi obrolan ini. Saya ada rapat penting, permisi."