
Malam yang begitu indah dengan bertaburan bintang, namun tidak mampu menemani jiwa yang hanyut dalam kesunyian. Seperti saat malam-malam yang telah di lalui bertahun-tahun. Setiap malam harus berteman dengan angin yang menyapa jiwa yang kesepian.
Seorang pria berdiri di atas balkon. Satu tangannya berkacak pinggang dan satu tangannya mengguyongkan segelas anggur. Ia meneguk sedikit demi sedikit, anggur inilah yang menemaninya setiap malamnya.
"Tuan, ini obatnya." Daniel memberikan sebuah obat untuk Anderson. Semenjak hilangnya Vivian Anderson tidak bisa tidur dan bergantung pada obat-obatan. "Jangan terlalu banyak minum Tuan." Nasehat Daniel.
"Kau seperti Vivian saja yang cerewet."
Daniel tersenyum kecil. Ia berharap tuanya kembali bersama Vivian dan membina rumah tangga seperti dulu. Ia kasihan pada tuannya itu.
"Saya keluar dulu, kalau ada apa-apa Tuan bisa memanggil saya."
Anderason meneguk anggurnya kembali, sejenak ia menoleh pada obat dan air putih itu. Ia sama sekali tak berniat untuk meminumnya. Akhirnya sepanjang malam Anderson hanya menghabiskan di balkon tanpa masuk ke kamarnya.
Anderson mengancingkan kemeja lengannya dan tiba-tiba ia mrndengarkan suara seorang wanita.
"Anderson kau cocok memakai kemeja itu, sangat sexy."
Anderson tercengang saat wanita itu menarik dasinya dan mencium bibirnya. Dalam sekejap bayangan itu pun hilang terbawa angin. "Vivian, aku akan menunggu mu."
"Tuan, saya sudah membuatkan sarapan." Daniel mengetuk pintu kamar Anderson. Keduanya sekarang berada di apartement Anderson. Semenjak Vivian menghilang jika ingin menenangkan diri Anderason memilih di Apartement barunya.
__ADS_1
"Terima kasih Daniel."
Daniel tersenyum tipis, semenjak kenal dengan Vivian Anderson mudah sekali mengucapkan terima kasih. Biasanya pria itu ham hem jawabannya.
"Tuan, apa tuan akan meninjau sendiri proyek di Kota Edinburg?" tanya Daniel.
Kali ini dia menjadi Donatur di sekolah Edinburg dan ada beberapa proyek di sana seperti wisata anak-anak dan perhotelan.
"Edinburg?" Anderson seperti memikirkan sesuatu. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. "Aku akan kesana."
"Tuan biar saya saja, Tuan beristirahat saja," ucap Daniel. Lagi pula kota Edinburg hanya beberapa jam saja dari London.
"Aku akan kesana."
Di tempat lain.
Seorang wanita tengah membuat sarapan untuk putri gembulnya, Abigail. Perpisahannya dengan Anderson membuatnya menjadi wanita mandiri. Setelah mengantarkan Abigail ke sekolah. Dia harus menuju toko kecilnya menjual bunga.
"Mommy kapan kakek akan datang kesini? Mommy sangat kuno, masak mengabari kakek lewat surat. Sekarang zaman canggih Mom," ujar Abigail. Dia ingin VC dengan kakeknya itu.
"Sayang, kau tau sendiri kan kalau Mommy lebih suka menggunakan surat." Vivian berkilah.
__ADS_1
"Mommy membuat Abi curiga," ucap Abigail menatap seksama wajah Vivian.
Dia peka sekali batin Vivian,
"Kenapa sifatnya harus mirip dengan Anderson." Gumam Vivian kecil.
"Sudahlah, nanti Kakek akan kesini. Setelah itu Abi sepuasnya bermain dengan Kakek. Sekarang habiskan sarapannya entar telat."
Pelayan Milea tersenyum, ia mengepal beberapa piring yang sudah di bersihkan itu sebelum di taruk di rak piring. "Saya juga sudah membuat bekal untuk nona Abi."
Pelayan Milea menaruh kotak bekal di atas meja makan di samping Abigail.
"Terima kasih Bi."
Seusai sarapan, Anderson mengantarkan Abigail ke sekolahnya. Dia mengantar Abigail sampai ke depan pintu gerbang dan mencium kedua pipi gembul putrinya itu.
"Semangat belajarnya."
"Iya Mom," ucap Abigail. Dia mencium pipi ibunya dan berlari masuk ke dalam sambil melambaikan tangannya.
Sedangkan di tempat lain.
__ADS_1
Seorang anak kecil meringkuk di atas kasurnya. Tububnya sangat panas, ia perlahan membuka kedua matanya dan meraba sebuah ponsel di atas nakas.
"Om, Om, tolongi Leon."